KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Peringatan hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional diperingati setiap tanggal 5 November, pada saat ini diadakan di Istana Negara dan merupakan peringatan yang ke 10. Peringatan pertama diadakan pada tahun 1993 bertepatan dengan Gerakan Penanaman Satu Juta Pohon. Tujuan dari hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) adalah untuk menggugah kesadaran dan kecintaan kita semua kepada puspa (flora) dan satwa (fauna).

Tema Peringatan kali ini adalah Cinta Puspa dan Satwa Nasional Sebagai Bentuk Pembelajaran Konservasi Lingkungan. Tema tersebut dipilih untuk mengungkapkan keprihatinan dengan semakin meningkatnya ancaman terhadap kelestarian puspa dan satwa nasional dan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap arti pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita.

Hal ini serupa dengan yang disampaikan Ketua Panitia Peringatan Hari Cipta Puspa dan Satwa Nasional 2003, sambil menyitir firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang menyebutkan “Tiada Aku ciptakan sesuatu kecuali ada manfaatnya. Peringatan Hari Cipta Puspa dan Satwa Nasional mempunyai arti penting bagi kita semua sebagai pembelajaran dan apresiasi akan pentingnya ciptaan Tuhan yang berupa puspa dan satwa, agar kita dan generasi kita dapat memperoleh manfaat atas keberadaannya. Jangan sampai kita menjadi importir produk puspa dan satwa asal Indonesia dari luar negeri seperti jambu cicalo asli Indonesia dari Taiwan dan daging rusa Timor dari Australia”.

Pada peringatan kali ini juga ditandai dengan pemberian Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan yang disematkan langsung oleh Presiden Megawati kepada para penerima Kalpataru yang selama lima tahun terakhir masih aktif menjalankan kegiatan pelestarian fungsi lingkungan hidup kepada enam orang yaitu; Sdr. Achmad Dimyati dari Gorontalo, Sdr. Pantarsin dari Bali, Sdr. Sastro Sentono Sardi dari Magetan-Jawa Timur, Sdr. Warsono dari D.I. Yogyakarta, Sdr. H. Achmad Amin dari Lombok Barat-NTB dan Sdr. H. Abdul Malik (Almarhum) dari Sampang-Jawa Timur yang diwakili oleh ahli warisnya.

Kegiatan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2003 ini telah dimulai sejak bulan juni 2003 yaitu Lomba Display bunga/taman bunga bagi petani dan pengrajin bunga yang diselengarakan oleh Yayasan Bunga Nusantara. Kemudian Lomba foto Satwa yang diselengarakan oleh Taman Safari Indonesia. Membangun kawasan konservasi dalam bentuk kebun raya bukit Sari Jambi dan Baturaden, Jawa Tengah yang dilakukan oleh Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun raya Bogor-LIPI dan Pemda Jawa Tengah dan Jambi.

Setiap tahun dalam memperingati HCPSN diterbitkan Sampul Hari Pertama Perangko seri puspa dan satwa. Untuk tahun 2003 ini, ditampilkan prangko bergambar puspa dan satwa (seri serangga) yang terdiri dari 6 jenis puspa dan 6 jenis serangga yaitu; saraca declinata, anaphalis javanica, butea monosperma, osmoxylon palmatum, freycinetia pseudoinsignis, paphipedilum mastersianum, tonggeret, Capung peluncur, Belalang setan, Jangkrik raksasa, Belalang sembah dan Lebah madu liar.

Dalam kata sambutannya Menteri Negara Nabiel Makarim juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap musibah berupa bencana alam banjir bandang yang terjadi di Bukit Lawang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Ia menjelaskan; “negara kita kaya akan keanekaragaman hayati, Indonesia juga dikenal sebagai negara yang mempunyai daftar panjang tentang puspa dan satwa yang terancam punah dan bahkan benar-benar punah karena kebakaran hutan, eksploitasi yang berlebihan dan penebangan liar serta perubahan tata guna lahan”.

Selanjutnya, “persoalan tersebut tidak hanya berhenti pada hilangnya puspa dan satwa, akan tetapi berdampak pada dimensi lingkungan lainnya, seperti yang terjadi dengan meluapnya sungai Bohorok di Desa Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, banjir bandang telah menelan puluhan jiwa tak berdosa sebagai akibat illegal logging di Taman Nasional Gunung Leuser oleh para pengusaha yang tidak bertanggung jawab. Mengingat musibah Bohorok dapat terjadi di tempat lainnya, maka perlu ada langkah-langkah peningkatan kewaspadaan terhadap bahaya banjir dan longsor. Selain itu, kiranya sudah sangat jelas bahwa illegal logging sebagai salah satu kejahatan lingkungan, perlu ditindak tegas”. Seperti yang dikutip dari Laporan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada peringatan Hari Cipta Puspa dan Satwa Nasional 2003. Sedangkan dalam sambutannya, Presiden Megawati mengungkapkan “melalui kesempatan ini, selaku pribadi ataupun atas nama seluruh rakyat dan pemerintah, saya (presiden Megawati) menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya kepada semua yang kehilangan sanak keluarga dan menderita akibat musibah yang terjadi di Sumatera Utara”.

Menurut Red Data Book IUCN (International Union for Conservation of Nature) yang dikeluarkan setiap dua tahun sekali, jumlah satwa Indonesia yang terancam punah adalah 128 jenis mamalia, 104 jenis burung, 19 jenis reptil dan 60 jenis ikan sedangkan floranya 590 jenis dan baru 230 jenis di antaranya di Kebun raya Indonesia (Bogor, Cibodas, Purwodadi dan Bali).

Dari hal tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup mencoba untuk mengingatkan kembali perlunya kepedulian dari semua pihak, baik pemerintah pusat maupun daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat pada umumnya untuk melestarikan puspa dan satwa Indonesia.

Berita terkait: