KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 16 November 2011 – Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2011 mengambil tema “Lestarikan Puspa dan Satwa Untuk Keberlanjutan Kehidupan”, dengan sub tema “Selamatkan Keanekaragaman Hayati Perkotaan”. Peringatan HCPSN setiap tanggal 5 November ini dimulai tahun 1993 yang betujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional. Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional ini telah berlangsung selama 18 tahun, namun semangat kepedulian seluruh masyarakat masih perlu terus ditingkatkan demi pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

Tema HCPSN tahun ini mengingatkan bahwa keanekaragaman hayati adalah modal dasar bagi kehidupan baik untuk masa kini maupun akan datang. Sedangkan sub temanya dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran bahwa keaneragaman hayati di perkotaan sudah semakin terancam dan tidak sedikit yang punah, sehingga perlu upaya penyelamatan yang serius. Untuk mengenalkan lebih dalam keaneragaman hayati endemik (asli) Indonesia, maka pada tahun 2011 ditetapkan Bunga Tetepok (Nymphoides indica (L.) OK) sebagai Puspa Nasional 2011 dan Katak Api (Leptophyre kruentata tschudi) sebagai Satwa Nasional 2011. Peringatan HCPSN 2011 ini dihadiri Wakil Presiden RI, Prof. DR. Boediono di Istana Wakil Presiden RI, Jakarta.

Indonesia sebagai negara Mega Biodiversity memiliki keaneragaman hayati yang sangat tinggi dengan sekitar 90 tipe ekosistem, 40.000 spesies tumbuhan dan 300.000 spesies hewan. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan bagi pembangunan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat namun harus selalu memperhatikan sisi kelestarian dan berkelanjutannya. Selain itu, nilai ekonominya sangat berpotensi untuk menjadi tulang punggung sektor industri, pertanian, perdagangan, kehutanan dan kesehatan serta pariwisata. Sejumlah studi akademik menunjukkan bahwa nilai sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional setiap tahunnya dapat mencapai 500 – 800 miliar dollar AS. Sedangkan untuk tumbuhan obat Indonesia diperkirakan bernilai US Dollar 14,6 miliar atau lebih dari 2 kali lipat nilai produk kayu hutan. Potensi ini semakin besar dengan disetujuinya Protokol Nagoya yang akan memberikan perlindungan keanekaragaman hayati dan menjamin pembagian keuntungan bagi Indonesia. Dalam konteks inilah kepentingan ekologi dengan kekayaan hayatinya akan memberikan manfaat ekonomi.

Peringatan HCPSN 2011 ini diharapkan akan selalu menjadi momentum langkah bersama dalam melindungi dan memanfaatkan secara berkelanjutan keaneragaman hayati Indonesia. Dalam sambutannya, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. DR. Balthasar Kambuaya, MBA, mengatakan, “Gerakan masyarakat akan dapat melestarikan lingkungan hidup yang seiring dengan pemanfaatan sumber daya alam dan keaneragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan. Kunci keberhasilan dalam upaya melestarikan keanekaragaman hayati yang sejatinya merupakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah dengan peran serta masyarakat seluas-luasnya yang menjadi gerakan bersama”. MENLH juga menegaskan perlunya seluruh komponen masyarakat untuk melakukan kampanye bersama dan juga melakukan pengawasan, khususnya dalam melestarikan puspa dan satwa yang terancam punah.

Program Menuju Indonesia Hijau
Pemerintah Daerah harus menunjukan komitmen dalam mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup. Dalam tataran implementasi dibutuhkan mekanisme pemantauan dan evaluasi agar kinerja yang terbangun sesuai dengan kenyataan di lapangan. Program Menuju Indonesia Hijau yang dicanangkan oleh Presiden RI Bapak Dr. Susilo Bambang Yudhoyono pada Tahun 2006 memiliki tujuan agar pemerintah daerah dapat mempertahankan atau menambah tutupan vegetasi, yang didukung oleh aspek manajemen pemerintah daerah dan peran serta masyarakat. Dalam rangka meningkatkan sinergi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota, pada tahun 2012 akan dilakukan juga penilaian kinerja terhadap pemerintah provinsi.

Program ini juga diarahkan untuk mengetahui simpanan karbon (carbon stock) dari tutupan lahan guna mendukung kebijakan Bapak Presiden RI dalam penurunan gas rumah kaca 26%. Pada Tahun 2011 ini dilakukan evaluasi kinerja terhadap 103 kabupaten, dimana terdapat 88 kabupaten yang mampu mempertahankan tutupan vegetasi berhutan pada kawasan berfungsi lindung. Berdasarkan hasil penilaian tim verifikasi, evaluasi tim pengarah yang beranggotakan para eselon 1 kementerian/lembaga terkait dan usulan dari dewan pertimbangan penilaian yang terdiri dari Prof. DR. Emil Salim, Ir. Djamalludin Suryo Hadikusumo, Prof. Ir. Rokhmin Dahuri, Prof. Dr. Herman Haeruman, Prof. Oekan S. Abdullah, Dr. Ir. Aca Sugandhy, M.Sc., Ismid Hadad, Ully Harry Rusady dan Deputi III KLH Ir. Arief Yuwono, MA., Menteri Negara Lingkungan Hidup menetapkan kabupaten penerima penghargaan Raksaniyata 2011sebagai berikut:

(1) Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara;
(2) Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara;
(3) Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali;
(4) Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung; dan
(5) Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur.

Sedangkan penghargaan Piagam Raksaniyata diberikan kepada 4 kabupaten, yakni Blitar Provinsi Jawa Timur, Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat, Bojonegoro Provinsi Jawa Timur dan Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Presiden RI juga memberikan Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan kepada 12 (dua belas) orang yang telah memperoleh Kalpataru dari Bapak Presiden RI karena berjasa dan tetap berjuang dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai pembina, perintis, penyelamat dan pengabdi lingkungan, yaitu sebagai berikut:

1. Sdr. H.M. Mashuri, B.A. dari Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah
2. Sdr. Drs. H. Raichul Amar, M.Pd. dari Kota Padang, Sumatera Barat
3. Sdr. Frans Manansang dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat
4. Sdr. Didi S.J. Manengkey dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara
5. Sdr. Marthen Mandenasi dari Kabupaten Kepulauan Yapen Waropen, Papua
6. Sdr. Antipas Laana dari Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur
7. Sdr. Mujiman dari Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta
8. Sdr. Supri, S.P. dari Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur
9. Sdr. Mulyono Herlambang dari Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah
10. Sdr. Dr. Ir. Kade Sidiyasa dari Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur
11. Sdr. Rustam Ibrahim dari LP3ES Jakarta
12. Sdr. Huki Radadiman dari Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

Selain acara puncak HCPSN 2011 di Istana Wakil Presiden RI, perayaan tahun ini diwarnai pula dengan berbagai acara menarik berskala lokal, nasional, maupun internasional. Kegiatan tersebut antara lain: Pencanangan TMII sebagai ”Gerbang Indonesia Hijau” Penanaman dan pembagian bibit pohon, Bagi-bagi bibit pohon buah-buahan, Pencanangan Kampung Siaga dan pelantikan Siaga Lingkungan, Pembentukan SAKA ”Kalpataru”, Lomba Foto Satwa Internasional ke-2, Workshop pelajar Mengenal Satwa Darat dan Air dan Parade Puspa dan Satwa Nusantara 2011.

Informasi lebih lanjut:
• Ir. Hermien Roosita, MM, Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup, Tlp/Fax: 021-8580104 / 021-8580105, email: humas.klh@gmail.com
• Ade F. Meyliala, Ketua Panitia HCPSN 2011, Direktur Operasi TMII, Tlp: 0816774113, email: ademeyliala@gmail.com