KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA




Biodiversity and Poverty Alleviation–Challenges for Sustainable Development

Keanekaragaman hayati, atau keragaman hayati,
adalah istilah untuk menggambarkan keragaman kehidupan di bumi dan pola saling
ketergantungan yang menyusunnya. Keanekaragaman hayati yang kita lihat sekarang
adalah merupakan hasil perkembangan atau evolusi bermilyar tahun, yang dibentuk
melalui proses-proses alami. Sejak manusia masuk dalam proses evolusi, perkembangan
keanekaragaman ini juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Sehingga dapat dikatakan
manusia sangat berperan mempengaruhi arah perkembangan (dan atau kepunahan)
keanekaragaman hayati. Di sisi lain manusia amat tergantung pada keberadaan
keanekaragaman hayati ini.

Keanekaragaman hayati meliputi keberagaman jenis tumbuhan,
satwa dan mikro organisme. Sejauh ini sekitar 1,75 juta jenis telah diidentifikasi.
Para ilmuwan menduga bahwa paling tidak terdapat 13 juta jenis makhluk hidup
yang menghuni bumi. Selain keberagaman jenis, keanekaragaman hayati juga mencakup
keragaman genetis yang tergambarkan pada variabilitas di dalam jenis.

Keanekaragaman hayati memegang peranan yang penting dalam
pembangunan nasional baik sebagai sumberdaya hayati (biological resouces) maupun
sebagai sistem penyangga kehidupan. Mengingat peranannya, seharusnya keanekaragaman
hayati diperhatikan dengan serius oleh semua lapisan masyarakat. Akan tetapi
sampai saat ini belum tampak nyata perhatian para pemangku kepentingan akan
peranan keanekaragaman hayati, yang ada hanyalah eksploitasi dan konversi habitat
tanpa memperhatikan keberlanjutan keberadaannya ataupun peranannya dalam menyangga
sistem kehidupan. Eksploitasi yang berlebihan telah menyebabkan kepunahan, dan
bencana lainnya seperti tanah longsor, banjir, kebakaran hutan dan lain sebagainya.
Kerusakan keanekaragaman hayati pada akhirnya akan menyebabkan menurunnya potensi
sumberdaya ini untuk dimanfaatkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Hal ini jelas terlihat pada kawasan dimana telah berlangsung kerusakan keanekaragaman
hayati, masyarakat setempat juga berada pada kondisi dibawah garis kemiskinan.

Peringatan hari Keanekaragaman Hayati merupakan salah satu
upaya untuk mengangkat kembali isu keanekaragaman hayati sebagai isu penting
baik di tingkat nasional maupun global. Penetapan tanggal 22 Mei sebagai hari
Keanekaragaman Hayati didasarkan pada tanggal disepakatinya naskah final Konvensi
Keanekaragaman Hayati pada sidang Intergovermental Negotiating Committee to
a Convention on Biological Diversity di Nairobi pada tahun 1992, yang kemudian
disahkan sebagai perjanjian lingkungan global pada saat penyelenggaraan United
Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau lebih dikenal
dengan Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro, Brazil
tahun 1992 dan ditandatangani oleh wakil dari 157 negara.

Para pemimpin dunia menyatakan komitmen mereka untuk melestarikan
keanekaragaman hayati dan memanfaatkannya secara berkelanjutan di masing-masing
negara. Indonesia sebagai salah satu pemilik kekayaan keanekaragaman hayati
yang besar, bahkan dikenal sebagai negara mega biodiversity merupakan negara
ke delapan yang menandatangani Konvensi ini pada tanggal 5 Juni 1992. Penandatanganan
tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan meratifikasinya melalui Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati.

Pada tahun 2003 ini hari Keanekaragaman Hayati (Kehati) diperingati
dengan tema ’Keanekaragaman Hayati dan Pengentasan Kemiskinan-Tantangan
bagi Pembangunan Berkelanjutan’ (Biodiversity and Poverty Alleviation–Challenges
for Sustainable Development) untuk menindaklanjuti hasil World Summit on Sustainable
Development (WSSD).

Dalam rangka peringatan hari Kehati tersebut, Kementerian
Lingkungan Hidup menyelenggarakan serangkaian kegiatan antara lain, diskusi
panel, workshop, pameran, sosialisasi kepada masyarakat luas baik melalui media
cetak maupun elektronik, sosialisasi ke sekolah – sekolah, serta pembuatan publikasi.

Pada tanggal 21 Mei 2003 akan diselenggarakan diskusi panel
membahas mengenai permasalahan taksonomi terkait dengan pemanfaatan ilmu ini
didalam pengelolaan keanekaragaman hayati. Sedangkan puncak acara peringatan
akan diselenggakan pada tanggal 22 Mei 2003 di Millenium Sirih Hotel dengan
serangkaian acara yaitu workshop dan pameran serta dimeriahkan oleh artis-artis
yang peduli terhadap lingkungan.

Jakarta, Mei 2003
Asdep. Urusan Keanekaragaman Hayati