KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

“A Healthy Atmosphere, the Future We Want”
Jakarta, 16 September 2013 – Dalam rangka memperingati Hari Ozon Internasional Tahun 2013 setiap 16 September, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyelenggarakan Seminar Hari Ozon dengan tema “A Healthy Atmosphere, The Future We Want”. Seminar ini merupakan sosialisasi pelaksanaan program penghapusan Bahan Perusak Ozon (BPO) jenis HCFC di Indonesia dalam memenuhi kewajiban Pemerintah Indonesia terhadap keputusan Protokol Montreal. Selain itu, pada kesempatan ini juga menyambut secara resmi pembentukan Asosiasi Manajemen Refrigerasi Indonesia (AMRI) sebagai dukungan dunia usaha terhadap penghapusan HCFC yang telah dibentuk pada 28 – 29 Agustus 2013. Asosiasi tersebut selain sebagai media bertukar pengalaman, juga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi antar anggota dan dapat memberikan masukan kepada pemerintah terkait kebijakan dan regulasi yang diperlukan dalam pengelolaan refrigeran.

Komitmen nasional ini merupakan peran serta aktif Indonesia untuk mendukung upaya perlindungan lapisan ozon serta dalam upaya mengembalikan lapisan ozon ke kondisi semula melalui industri dalam alih teknologi ke industri yang tidak berbasis BPO. Peringatan Hari Ozon hari ini dihadiri dan dibuka oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, serta narasumber seminar oleh Deputi III KLH Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Ketua Asosiasi Manajemen Refrigeran Indonesia (AMRI), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan.

Tanggal 16 September merupakan hari yang bersejarah bagi seluruh masyarakat dunia yang memiliki kepedulian untuk melindungi kehidupan di bumi dari sinar ultra violet B (UV-B) berlebihan sebagai akibat dari menipisnya lapisan ozon di stratosfer. Pada tanggal tersebut, Protokol Montreal yang mengatur tentang penghapusan bahan kimia yang dapat merusak ozon disepakati dan ditandatangani, sehingga kemudian diperingati sebagai Hari Ozon Sedunia. Perjalanan 26 tahun Protokol Montreal telah menunjukkan capaian dengan telah dihapuskannya konsumsi dan produksi beberapa jenis bahan perusak ozon (BPO) untuk beberapa aplikasi yang telah memiliki bahan dan teknologi pengganti seperti CFC, Halon, CTC, TCA dan Methyl Bromida. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana memenuhi target penghapusan BPO jenis hydrochlorofluorocarbon (HCFC) oleh seluruh negara pihak, terutama negara Article 5 (negara dengan konsumsi BPO kurang dari
0,03/tahun/kapita), termasuk Indonesia.

Untuk menanggulangi agar penipisan lapisan ozon tidak berlanjut, KLH sebagai focal point Protokol Montreal di Indonesia dengan dukungan dari berbagai pihak telah berupaya melakukan pengendalian penggunaan bahan kimia perusak ozon. Dalam sambutannya, Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA mengatakan, “Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen yang tinggi sebagai negara pihak Protokol Montreal dengan keberhasilan menghentikan impor BPO jenis CFC, Halon, TCA, CTC dan metil bromida untuk aplikasi non-karantina dan pra-pengapalan 2 (dua) tahun lebih awal dari jadwal Protokol Montreal yaitu sejak 1 Januari 2008”. Keberhasilan Indonesia dalam menghapuskan CFC tersebut mendapatkan apresiasi dari United Nation for Environmental Programme melalui piagam UNEP.

Komitmen Pemerintah dan Industri Indonesia sangat tinggi dalam upaya perlindungan lapisan ozon ini dan menjadi contoh nyata dalam menanggulangi masalah lingkungan. Sebagai inisiatif untuk menjembatani upaya penyelarasan isu perlindungan lapisan ozon dan perubahan iklim, Indonesia menyusun Deklarasi Bali tentang Declaration on Transitioning to Low Global Warming Potential Alternatives to Ozone Depleting Substances yang mendapatkan dukungan dari 110 Negara Pihak Protokol Montreal. Deklarasi tersebut mengingatkan dan mengajak seluruh para Pihak untuk memilih alternatif pengganti bahan perusak ozon (BPO) dengan mempertimbangkan aspek teknologi yang memiliki potensi pemanasan global rendah, melakukan kajian tentang teknologi yang tepat untuk melindungi lingkungan dan meminta negara maju untuk menyediakan pendanaan melalui Multilateral Fund untuk meminimalkan dampak terhadap sistem iklim. Deklarasi Bali juga mendorong agar
Konvensi Wina beserta Protokol Montreal dan United Nations Framework Convention on Climate Change beserta Protokol Kyoto untuk terus bekerjasama dalam melindungi lingkungan.

HCFC merupakan BPO yang saat ini masih digunakan secara luas terutama di negara berkembang sebagai pengganti sementara CFC. Disebut sebagai pengganti sementara karena bahan tersebut masih memiliki potensi merusak ozon walaupun nilainya lebih kecil dibandingkan dengan CFC. HCFC juga memiliki nilai potensi pemanasan global, dengan HCFC yang paling umum digunakan memiliki hampir 2.000 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2) dalam meningkatkan pemanasan global. Oleh karena itu, komitmen Protokol Montreal yang diadopsi pada tahun 2007 untuk mempercepat penghapusan HCFC menjadi tanggungjawab bersama seluruh negara Pihak untuk melanjutkan pencapaian tujuan Protokol.

Indonesia telah menetapkan strategi percepatan penghapusan HCFC yang tertuang dalam HCFC Phase Out Management Plan (HPMP) untuk mencapai target freeze pada tahun 2013 dan 10% reduksi HCFC pada tahun 2015. Reduksi konsumsi HCFC Indonesia akan dicapai antara lain melalui pembatasan impor HCFC, alih teknologi HCFC menjadi non-HCFC di industri manufaktur sektor Air Conditioning, Refrigeration dan Foam serta dukungan pemerintah melalui penyediaan kebijakan dan regulasi. Multilateral Fund (MLF) Protokol Montreal menyediakan bantuan pendanaan bagi industri manufaktur yang telah memenuhi kriteria untuk melakukan alih teknologi dari HCFC menjadi non-HCFC. Oleh karena itu kebijakan dan regulasi yang mendukung penghapusan HCFC sangat diperlukan agar dapat menjamin daya saing produk-produk yang lebih ramah lingkungan.

Tema Hari Ozon Internasional tahun 2013 yang telah ditetapkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) adalah “A Healthy Atmosphere, the Future We Want”. Mampukah bumi menyediakan atmosfer yang sehat bagi makhluk hidup sepanjang masa? Rasanya mustahil jika tanpa campur tangan manusia didalamnya. Masyarakat luas memiliki peran yang besar untuk berkontribusi dalam upaya perlindungan lapisan ozon, salah satunya dengan memilih produk-produk yang tidak mengandung BPO. Contoh konkrit, dengan membeli pendingin ruangan yang tidak menggunakan refrigeran HCFC maka akan mengurangi kebutuhan HCFC untuk perawatan dan perbaikan peralatan tersebut. Kampanye terhadap pemilihan produk non-BPO perlu terus menerus dilakukan, termasuk memilih bengkel servis peralatan pendingin yang telah memiliki tenaga teknisi bersertifikat dan bengkel yang telah didaftarkan di KLH.

Dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat luas dan berkenaan dengan peringatan Hari Ozon Internasional tahun 2013, Kementerian Lingkungan Hidup menyelenggarakan serangkaian kegiatan yaitu:

  1. Kunjungan bersama dengan para jurnalis ke salah satu industri manufaktur AC untuk melihat kesiapan industri dalam melakukan penghapusan HCFC, 13 September 2013;
  2. Seminar dalam rangka peringatan Hari Ozon Internasional 2013, 16 September 2013;
  3. Science Camp mengenai upaya perlindungan lapisan ozon yang diikuti oleh siswa SLTP, 20 – 22 September 2013;
  4. Workshop Peningkatan Kapasitas Petugas Bea dan Cukai dalam pengawasan impor BPO, 25 – 26 September 2013 di Surabaya dan 8-9 Oktober 2013 dan Jakarta.

Hal lain yang menjadi sangat penting bagi kita semua adalah melakukan proteksi diri dari bahaya UVB. Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi sinar matahari yang tinggi dalam 12 jam setiap harinya, sehingga dampak negatif terhadap kesehatan dapat dicegah sejak dini.
“SELAMAT HARI OZON”. Ozon Aman Kita Nyaman.

Informasi lebih lanjut hubungi:
Ir. Arief Yuwono, MA,
Deputi MENLH Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim,
Kementerian Lingkungan Hidup,
Telp. 021 – 8517164, Fax. 021 – 85902521,
ozon@menlh.go.id / ozonklh@gmail.com / www.menlh.go.id