KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 

PENGHIJAUAN

BANDUNG, KOMPAS —Program penanaman pohon yang saat ini masih dilakukan, baik oleh pemerintah maupun gerakan swadaya masyarakat, cenderung menjadi aura seremonial belaka dan menghabiskan banyak biaya tanpa hasil signifikan.
Hal itu disebabkan belum adanya manajemen perawatan dan pemeliharaan pohon yang jelas. Pohon-pohon yang ditanam akhirnya dibiarkan tanpa pemeliharaan dan pengawasan.
Tidak jarang, bibit yang ditanam hilang, rusak, atau dicabut pihak-pihak tak bertangung jawab. Jika tidak, pohon-pohon itu mati sebelum sempat tumbuh akibat terserang penyakit. Kondisi serupa juga menimpa pohon yang ditanam di ruang terbuka (RTH) di perkotaan.
Persoalan itu dibahas dalam workshop bertema “Pemantauan Kesehatan Pohon pada Ruang Terbuka Hijau di Lingkungan Perkotaan,” Kamis (15/4) di Gedung Grha Kompas Gramedia, Bandung. Acara yang diselenggarakan Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti, Sumedang, itu dibuka oleh Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Trias Kuncahyono. Hadir sebagai pembicara utama, Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat Setiawan Wangsaatmadja dan Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Dodi Nandika

Dodi, yang juga Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional, memaparkan, ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk menciptakan manajemen pemeliharaan pohon di RTH perkotaan. Pertama, ada lembaga yang bertugas merawat dan memelihara pohon dalam RTH, termasuk meletakan pohon-pohon mana yang rusak, dan jenis penyakit atau ancaman yang menyerang pepohonan itu,
“Selanjutnya, membuat petunjuk pelaksanaan atau prosedur perawatan pohon untuk menangani pohon sakit,” kata Dodi.
Ketiga, peningkatan sumber daya manusia yang mengelola RTH termasuk warga yang memanfaatkan RTH. Hal ini bisa dilakukan dengan sosialisasi atau pelatihan khusus yang ditujukan kepada warga dan petugas.
Dodi menambahkan, penanganan bagi pohon sakit pada dasarnya bisa dilakukan secara mekanis: dengan ditambal bagi pohon-pohon yang berlubang karena serangga atau rayap, atau penyemprotan obat Kimia.

Sistem Informasi
Konsep semacam ini sudah mulai diterapkan beberapa daerah, seminal di Jakarta Selatan. Kota itu, bahkan, telah memiliki situs web khusus yang bisa diakses oleh publik untuk mengetahui pohon-pohon mana saja yang sakit dan sehat di kawasan RTH kota Pemeliharaan secara periodik terhadap pohon-pohon itu dilakukan berdasarkan basis data.
“Penanaman pohon disesuaikan dengan kriteria, antara lain menghindari jenis yang mudah tumbang, mengganggu jaringan listrik, mengganggu jaringan telepon, dan merusak infrastruktur,” kata Aswin Saragih. Kepala Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jaksel.
Setiawan mengemukakan nilai penting pohon di RTH di wilayah Jabar. Degradasi lingkungan, antara lain ditandai dengan banyaknya pohon rusak atau ditebang, turut menyumbang terjadinya bencana di wilayah itu. “Selain berfungsi ekologis, pohon juga bernilai sosial budaya, ekonomi, dan estetika,” katanya. (REK)

Sumber:

Kompas

Jumat, 16 April 2010

Halaman 13