KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Manajemen Wilayah Berbasis Ekologi

Jakarta, Suar – Rencana Tata ruang Wilayah (RTRW) kawasan Jabodetabekpunjur (Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, puncak, Cianjur), harus segera didesain kembali, agar berformat integratif dan berwawasan ekologis. Inilah kesimpulan sejumlah dari pendapat beberapa pakar sehubungan dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 54/2008, 12 Agustus 2008, tentang penataan Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur (Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, puncak, Cianjur).

Konsepsi RTRW yang disusun berdasarkan kesatuan administrasi wilayah pemerintah daerah, dipandang tidak sesuai dengan perkembangan yang terjadi di kawasan ini dalam beberapa dekade terakhir. Apalagi, pada saat penyusunannya, faktor dampak pemanasan global yang menyebabkan kenaikan permukaan laut belum diperhitungkan.

Kebijakan pemerintah menjadikan wilayah Jabodetabekpunjur dalam satu kesatuan manajemen pembangunan megapolitian, merupakan langkah yang tepat dalam mengantisipasi dampak pemanasan global serta menjamin terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Kawasan ini memang berada dalam satu kesatuan ekologi, kendati secara administratif terbagi menjadi wilayah tiga provinsi yakni, Jawa barat, DKI Jakarta dan banten. Karena itu, pemerintah daerah yang membawahi kawasan ini seyogyanya memiliki kesamaan visi dalam hal pemeliharaan ekosistem, demi hari depan bersama.

Manajemen Wilayah Berbasis Ekologi
Manajemen wilayah berbasis ekologi untuk penyelamatan lingkungan sebenarnya sudah dilakukan oleh banyak negara. Tujuannya untuk memelihara kelestarian alam, terutama yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Manajemen berbasis ekologi antara lain diterapkan dalam pengelolaan daerah aliran sungai Mekong, yang melintasi beberapa wilayah negara.

Kendati negara-negara itu memiliki kedaulatan dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat diwilayah masing-masing, namun dalam pengelolaan sungai Mekong mereka tidak bisa berbuat sesuka hati karena harus memilihara ekosistem daerah aliran sungai secara integratif dengan negara-negara lain.

Parameter dalam pengelolaan lingkungan tentu adalah hukum-hukum ekologi, bukan kesatuan wilayah administratif. Kebijakan pembangunan wilayah megapolitan memang selalu berpatokan pada kesatuan ekologi bukan administratif.

Wilayah Megapolitan California, misalnya, tidak hanya mencakup wilayah negara bagian California Amerika Serikat, tapi juga wilayah Baja California Sur Mexico. Dua negara bagian dari dua negara yang berbeda pada kenyataannya mampu berkerjasama mengelola wilayah 2-500 km sepanjang Pantai pacifik. Melalui kerjasama itu adalah untuk memelihara serta menyelamatkan ekosistem Semenanjung Meksico, termasuk di dalamnya peraiaran Baja yang menjadi tempat berkembang biak ikan paus. Dibandingkan megapolitan California, luas wilayah Jabodetabek mungkin hanya 1/10-nya.

Di Indonesia, yang pertama konsepsi manajemen wilayah megapolitan pertama kali diperkenalkan oleh Sutiyoso saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, dengan mengembangkan konsep kerjasama pembangunan Jabodetabek yang digagas oleh pendahulunya, bang Ali (Ali Sadikin). Konsepsi tersebut pada dasarnya bertumpu pada pemeliharaan ekosistem dan pengendalian urbanisasi. Titik berat pemeliharaan ekosistem difokuskan pada upaya mempertahankan areal konservasi, baik karena pertimbangan pemeliharaan sumber daya air (siklus hiydro-orologos) maupun biota spesifik (langka). Sementara pengendalian urbanisasi ditujukan untuk memanajemen tekanan populasi manusia terhadap lingkungan (ekosistem), sehingga dampak yang terjadi bisa dikendalikan.

Mengenai pentingnya redesain RTRW, terutama yang berkaitan dengan reklamasi pantai utara Jakarta, dampak pemanasan Global yang patut dipertimbangkan adalah kemungkinan terjadinya genangan air yang meluas akibat pertemuan arus banjir dari hulu dengan pasang naik dari Teluk Jakarta. Pemerintah sudah saatnya menyiapkan berbagai sekenario penanggulangan termasuk terhadap kemungkinan terburuk yang bisa menimpa Kota Jakarta dan kawasan sekitarnya. Paulus Londo

Sumber:
Koran Akar Rumput
Edisi:
6 – 12 Oktober 2008
Hal: 8