KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Pengelolaan Kawasan Karst Secara Berkelanjutan Melalui Indonesia Scientific Karst Forum Dan Pertemuan Pengelolaan Kawasan Karst Gunung Sewu

karst_sewu.jpgPada tanggal 19-21 Agustus 2008 di Gedung UC-UGM,  telah dilaksanakan  Indonesia Scientific Karst Forum kerjasama antara Fakultas Geografi UGM dengan Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan dilanjutkan dengan Pertemuan Forum Pengelolaan Kawasan Karst Gunung Sewu. Kegiatan ini diharapkan memberikan berbagai inovasi dalam upaya pengelolaan kawasan karst yang tingkat ancaman kerusakannya cenderung semakin meningkat. Dalam Indonesia Scientific Karst, bidang ini diminati karena belum banyak orang yang menggeluti, unik dan menantang dari sisi ilmiah sehingga semakin diminati mahasiswa dalam melakukan penelitian skripsi, tesis dan doktoral bidang karst bertambah dengan tema yang beragam.

Peserta Indonesia Scientific Karst Forum melakukan penelusuran Goa Seropan di Kawasan karst Gunung Sewu, air yang melimpah di perut bumi sungguh berkah yang tak ternilai dari Sang Pemurah. Kawasan karst yang permukaannya gersang dan sering disepelekan ternyata memiliki potensi cadangan air yang besar. Potensi airnya bisa diangkat ke permukaan, sangat berlimpah dan bisa mengatasi kesulitan pemenuhan air bersih. Sungai bawah tanah di Goa Seropan debit airnya sekitar 800 liter per detik, Fungsi karst sebagai penyeimbang air merupakan berkah tuhan yang harus di jaga dan dirawat. Penambangan batu gamping untuk industri semen dan batu marmer merusak fungsi penyerapan dan penyimpanan air. Sistem hidrologi yang unik dan rumit akan terganggu dan rusak jika permukaan kawasan karst di tambang.

Dalam pengelolaan kawasan karst juga mempertimbangkan isu perubahan iklim yang saat ini terjadi. Kawasan karst yang umumnya merupakan wilayah yang cukup kering walaupun terdapat aliran sungai bawah tanah yang cukup melimpah, perlu melakukan adaptasi dan mitigasi secara bersama-sama agar dampak terjadinya krisis air dapat dikurangi. Kawasan karst juga menjadi penyeimbang siklus hidrokarbon. Rongga-rongga batuan akan menyerap radiasi sinar matahari sehingga sinar yang dipantulkan ke atmosfer hanya sedikit. Karakteristik karst ini mengurangi efek rumah kaca. Terkait dengan upaya penyerapan karbon di atmosfer, kawasan karst juga memiliki potensi untuk menyerap karbon dalam proses pelarutan. Untuk mengetahui tingkat potensi serapan karbon ini masih memerlukan kajian lebih lanjut. Untuk itu gerakan penyelamatan karst harus dilakukan secara sinergis antara pemerintah,  akademisi, masyarakat dan organisasi penyelamat lingkungan seperti yang telah dilakukan antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

Didalam pertemuan Forum Pengelolaan kawasan karst Gunung Sewu masing-masing anggota/masing-masing instansi  menyampaikan kegiatan yang telah dilakukan dan belum dilakukan dalam rangka mensinergikan pengelolaan kawasan karst dan dapat membantu kita semua dalam menyusun program yang lebih dapat diterima oleh berbagai pihak dan dibutuhkan oleh masyarakat dan diharapkan daerah juga menyusun rencana aksi untuk keberlangsungan dari ekosistem karst.

Sumber:
Deputi Bidang Peningkatan Konservasi SDA
dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan,
Asdep Urusan Pengendalian Kerusakan Hutan dan Lahan
Tlp. 021-85904934