KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA




Pelaku Kelas Kakap Perusakan dan Perambahan
Hutan Suaka Margasatwa Cikepuh Hanya Divonis 8 Bulan Penjara

Pelaku utama perusakan dan perambahan hutan di Suaka Margasatwa
Cikepuh Kabupaten Sukabumi akhirnya divonis hukuman 8 bulan penjara subsidair
1 bulan kurungan. Selain vonis hukuman penjara, terdakwa juga dikenakan denda
sebesar seratus ribu rupiah (1 bulan kurungan) dan membayar biaya perkara sidang
sebesar seribu rupiah. Keputusan tersebut dibacakan oleh Majelis Hakim di Pengadilan
Negeri Cibadak Kabupaten Sukabumi pada tanggal 19 Juni 2003 kemarin. Mendengar
putusan Majelis Hakim tersebut, Tim Penuntut Umum akan mengajukan banding.

Persidangan ini diikuti oleh sejumlah kelompok masyarakat seperti
dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
(IPB) serta seluruh polisi hutan Sukabumi (Suaka Margasatwa Cikepuh). Mereka
tampak kecewa dengan vonis yang dibacakan oleh Majelis Hakim tersebut.

Peristiwa ini merupakan pertama kalinya pelaku utama perusakan dan perambahan
hutan dapat dibawa ke pengadilan meskipun terdakwa belum mendapatkan hukuman
yang setimpal. Upaya ini merupakan hasil kerjasama antara Kementerian Lingkungan
Hidup melalui Asisten Deputi Bidang Penegakan Hukum dengan Aparat Pemerintah
Daerah Kabupaten Sukabumi.

Keberhasilan yang dicapai adalah dengan menangkap para tersangka
yang diduga sebagai Ketua Kelompok yang berjumlah 15 orang dan 1 orang Koordinator
yang merupakan pegawai Mahkamah Agung. Para tersangka tersebut telah divonis
oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cibadak dengan hukuman masing-masing 2
tahun penjara.

Keberhasilan lain yang dicapai adalah dengan tertangkapnya
aktor utama perusakan dan perambahan Suaka Margasatwa Cikepuh yaitu Sofyan Kasim,
SH.

Penebangan kayu dan perambahan hutan di Suaka Margasatwa Cikepuh
terjadi mulai awal tahun 1999 sampai bulan Maret 2002. Kayu yang ditebang adalah
jenis kayu bungur dan laban yang mempunyai diameter antar 20-60 cm. Penebangan
kayu tersebut menggunakan alat tradisional dan chain saw atau gergaji mesin.
Lokasi penebangan tersebut meliputi wilayah Cukang Irung, Nyalindung, Cigembong,
Cibabi, Leuwi Urug, Citirem, Cisapen, Pasawahan, Lebak Sura, Batu Masjid dan
Langkap Lancar.

Perambahan hutan sampai saat ini diperkirakan telah mencapai
kurang lebih 7.000 ha dan telah ditanami padi, pisang, kacang tanah, dan jagung
seluas sekitar 2.000 ha. Guna mendapatkan hak garap, para perambah yang berjumlah
sekitar 2.500 KK terlebih dahulu membayar sejumlah uang yang besarnya berkisar
antara Rp 100-300 ribu per hektar kepada Koperasi Bina Tani dan ditandatangani
oleh pengurus Koperasi, Sofyan Kasim, SH.

Perambah berasal dari Kecamatan Tegal Buleud, Kecamatan Surade,
Kecamatan Lengkong, Kecamatan Jampang Kulon dan Kecamatan Pelabuhan Ratu dan
bahkan ada yang berasal dari Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kasus perambahan hutan
di Suaka Margasatwa Cikepuh silahkan menghubungi Susetio Nugroho di nomor telepon/fax
(021) 8590 4926.

Kementerian Lingkungan Hidup membuka pintu seluas-luasnya bagi
masyarakat yang memiliki saran dan masukan dalam rangka kontrol masyarakat terhadap
kinerja pemerintah khususnya Kementerian Lingkungan Hidup yang dapat disalurkan
melalui email adu@menlh.go.id atau melalui PO BOX 7777 Jakarta Timur.