KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Selama tahun 1850 – 1998 kenaikan suhu hanya di bawah 0,70C , tetapi dalam 12 tahun terakhir ini, dunia mengalami kenaikan suhu tertinggi yaitu 0,70C/thn. Kenaikan suhu tersebut akan mengakibatkan peningkatan permukaan air laut. Kenaikan satu meter permukaan air laut, berdampak negatif terhadap jutaan orang yang hidup di bumi, lebih dari 50.000 jenis tumbuhan mengalami kepunahan, hampir 4.000 spesies vertebrata endemik berpotensi hilang tak berbekas pada akhir abad ini, sekitar 60% ekosistem dunia dari hutan dan lahan sampai karang laut dan sabana akan mengalami kerusakan serius, serta penyusutan kekayaan laut yang berdampak terganggunya ekosistem dan berkurangnya nilai ekonomi akibat eksploitasi laut yang berlebihan.

Kawasan laut dan pesisir Madura, juga penting artinya bagi kesejahteraan dan peningkatan ekonomi masyarakatnya. Kalau kawasan ini tidak dijaga dan dilestarikan, maka akan mengganggu keseimbangan perekonomian masyarakat. Masyarakat Madura dapat membantu pengurangan emisi karbon dan mencegah pemanasan global dengan menjaga dan melestarikan kawasan laut dan pesisir, melalui penanaman dan pemeliharaan mangrove (bakau) dan terumbu karang, serta menjaga kebersihannya dari sampah dan limbah.

Demikian antara lain disampaikan oleh Ir. Bambang Widyantoro dalam mewakili Deputi VI KLH  pada pembukaan Sosialisasi Program Eco-Pesantren  dan Pembentukan Kader lingkungan Pondok Pesantren Cluster Madura Tahap III  yang meliputi : Kab. Bangkalan, Kab. Sampang, Kab. Pamekasan dan Kab. Sumenep, dihadiri 90 orang Pimpinan dan Ustadz  perwakilan dari 40 Pondok Pesantren, bertempat di Hotel Utami Sumekar, Sumenep  tanggal 8 Juli  2010.

Sementara itu  oleh Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si, Rektor IAIN Sunan Ampel  Surabaya dalam paparan materi berjudul Pengembangan Jejaring dan Kemitraan dalam mewujudkan Pondok Pesantren ramah lingkungan, antara lain menyampaikan bahwa di era sekarang pesantren telah menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat, ini semua tentu sebagai bagian dari corak relasi pesantren dan Negara yang bersifat simbiosis tersebut. Pesantren bukan sebagai rival pemerintah akan tetapi menjadi mitra pemerintah. Kebijakan non politis seperti ini tentu menjadi penting, sebab bagaimana pun juga pesantren memiliki pengaruh yang signifikan bagi kehidupan masyarakat yang religious. Pondok Pesantren harus menjadi garda depan pemberdayaan lingkungan dan bukan benteng terakhir pemberdayaan lingkungan.

Pada kesempatan yang sama Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Kepala BLH Kabupatan Sumenep Ir. Abdul Muthalib Faradj,  antara lain menyampaikan bahwa lingkungan hidup saat ini kondisinya sangat memprihatikan, oleh karena itu Pondok Pesantren  diharapkan dapat menjadi pioner dalam penyelamatan lingkungan, mengingat krisis lingkungan dan bencana alam yang terjadi saat ini sangat terkait dengan krisis kemanusiaan dan moral manusia yang terkait dengan prilaku manusia yang tamak dengan gaya hidup konsumtif dan eksploitatif, serta boros, yang tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan tapi lebih untuk memenuhi keinginan, yang  mengganggu keseimbangan ekosistem dan menimbulkan bencana ekologi.

Program eco pesantren diharapkan dapat sejalan dan bersinergi dengan kegiatan-kegiatan yang digagas oleh pemerintah daerah, mengingat pesantren yang berada di tengah masyarakat dan berfungsi sebagai pembina akhlak, moral dan etika cinta ekologi.

Selain  materi kepada peserta diberikan kesempatan mengikuti lomba usulan kegiatan ramah lingkungan pendukung Eco-Pesantren dan copy CD Pengelolaan sampah organik di kebun karinda, (ws)

Sumber:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat perkotaan