KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

asdep_perkotaan.jpgSecara kasat mata dapat dilihat bahwa air laut sudah masuk ke wilayah daratan. Itu salah satu akibat dari mencairnya salju di Kutub Utara dan Selatan. Demikian juga sumber mata air di Gunung Ciremai yang beberapa tahun lalu saya datangi, saat ini sudah jauh berkurang  dari 900 mata air, sekarang ini hanya tinggal sekitar 30 an saja. Ini pertanda bahwa di wilayah ini ada persoalan lingkungan yang pelik. Kalau ini tidak kita antisipasi dari sekarang  dalam arti kita tidak menghentikan kenaikan suhu di bumi ini, maka dalam 20 tahun ini suhu bumi akan naik menjadi  20 C. Kalau itu terjadi  bumi hampir sama dengan Planet Mars, panas dan air lebih cepat menguap. Cara mengatasinya adalah dengan memperbanyak menanam pohon-pohonan, karena pohon banyak menghasilkan oksigen. Sebab kenyataannya sekarang ini carbon lebih banyak daripada oksigen.. Untuk menyadarkan masyarakat diperlukan peran Pondok Pesantren sebagai ujung tombak pelestarian lingkungan. Demikian disampaikan oleh Dr. Henry Bastaman, MES, Deputi MENLH Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat KNLH, dalam sambutannya pada pembukaan Sosialisasi Program Eco-Pesantren dan Pengukuhan Kader Peduli Lingkungan Pondok Pesantren Tahap II se Cluster Ciayumajakuning, Senin 23 Maret 2009, di Hotel Zamrud Cirebon.

Pada kesempatan lain, K.H. Thonthowi D. Musaddad Pimpinan Pondok Pesantren Luhur Al Wasilah Garut mengibaratkan oknum  yang mencari keuntungan 10 milyar  dari illegal logging, tapi kerugian yang ditimbulkan dapat mencapai seribu kali lipat, karena kegundulan bukit mengakibatkan banjir, menghilangkan nyawa manusia, oksigen di Rumah Sakit mahal, panen petani gagal, perlu AC, listrik dan sebagainya. Dampak ini akan dirasakan sampai anak cucu kita.  Orang yang menyebabkan illegal logging dan merusak mata pencaharian orang lain masuk dalam kategori dosa dan hukuman berat. Disinilah peran KNLH yang mensinerjikan antara struktural dan kultural di mana pemerintah punya kebijakan kuat tapi jaringan sosial lemah dan Ponpes punya jaringan sosial dan moral yang kuat.

Kepada peserta juga diberikan strategi menjalin networking dengan pihak donor, karena tujuan Eco-Pesantren ini adalah mewujudkan Pondok Pesantren yang ramah lingkungan secara swadaya dan mandiri. Karena itu Ponpes perlu diarahkan untuk mampu mengembangkan jejaring dengan lembaga lain, antara lain memberikan arahan tentang Teknik Penulisan Proposal yang baik yang bermanfaat untuk mengikuti Lomba Proposal dan mengembangkan jejaring kemitraan.

Peserta Sosialisasi yang direncanakan akan dihadiri sebanyak 80 orang peserta, diluar dugaan ternyata dihadiri oleh 150 orang peserta yang berasal dari 52 Ponpes se Ciayumajakuning. Di akhir acara dilaksanakan pengukuhan peserta sebagai kader peduli lingkungan Pondok Pesantren dan pemberian  bibit pohon mangga harum manis kepada masing-masing peserta oleh Ir. Bambang Widyantoro Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan.

Sumber:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat perkotaan