KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 

Dampak Pemanasan global saat ini sudah sangat terasa sekali, temperatur di beberapa tempat sudah diluar kewajaran, misalnya di beberapa daerah sepanjang pantura pada bulan maret ini akan mengalami kenaikan,  seperti di Tegal bisa mencapai 39° c, Cirebon 36° c dan Indramayu 37° c, ini sudah sangat panas sekali dan merupakan panas tertinggi selama + 2.500 tahun yang lalu.

Sementara di belahan bumi lain mungkin terjadi sebaliknya sangat dingin sekali. Kalau ini tidak kita antisipasi dari sekarang  dalam arti kita tidak menghentikan kenaikan suhu di bumi ini, maka dalam 20 tahun ini suhu bumi akan naik menjadi  20° C. Kalau itu terjadi  bumi hampir sama dengan Planet Mars, panas dan air lebih cepat menguap. Pondok Pesantren di kawasan Ciayumajakuning saat ini berjumlah + 3.000 Ponpes, dari jumlah tersebut baru + 120 Pondok Pesantren saja yang dilibatkan dalam Program Eco-Pesantren selama 3 tahun ini yang diharapkan dapat menjadi “Duta Lingkungan“ yang dapat mempelopori pergerakan lingkungan. Demikian disampaikan oleh Dr. Henry Bastaman, MES, Deputi MENLH Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat KNLH, dalam sambutannya pada pembukaan Sosialisasi Program Eco-Pesantren dan Pembentukan Kader lingkungan Pondok Pesantren Tahap III se Cluster Ciayumajakuning yang dihadiri oleh 95 orang Kyai dan Ustadz perwakilan dari 40 Pondok Pesantren di kawasan perkotaan Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan, Selasa 9 Maret 2010, di Hotel Zamrud Cirebon.

Sementara itu Drs. Ano Sutrisno, MM. Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah III Jawa Barat, dalam sambutannya antara lain menyampaikan. Kawasan Ciayumajakuning mengalami kerusakan lingkungan yang sangat luar biasa, hutannya sudah rusak (gundul), sumber mata air di Gunung Ciremai misalnya beberapa tahun lalu berjumlah + 900 mata air, sekarang ini hanya tinggal sekitar 30 an saja, permasalahan sampah rumah tangga yang tidak dikelola dengan baik sehingga dapat menimbulkan bencana, dll.  Oleh karena itulah melalui forum Eco-Pesantren ini diharapkan akan memunculkan komitmen dan kesepakatan untuk merubah paradigma, adanya gerakan, munculnya fatwa-fatwa yang membela lingkungan seperti membuang sambah sembarangan hukumnya haram, menanam pohon hukumnya wajib dsb.

Pada kesempatan yang sama, K.H. Thonthowi D. Musaddad Pimpinan Pondok Pesantren Luhur Al Wasilah Garut, sebagai nara sumber utama dalam paparannya menyampaikan antara lain sudah saatnya para pemuka agama dan pimpinan pondok Pesantren berada pada garis terdepan dalam penyelamatan lingkungan, karena permasalahan lingkungan adalah juga permasalahan agama, kita di wajibkan untuk memakmurkan bumi dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Oleh karena itu sudah selayaknya pula para pemuka agama memikirkan hukuman terberat bagi pelaku illegal loging dan perusakan lingkungan lainnya sesuai syariat islam, karena dampak yang ditimbulkannya sangat luas bahkan sampai ke anak cucu kita.

Kepada peserta selain  diberikan materi tersebut diatas, diberikan kesempatan mengikuti lomba usulan kegiatan ramah lingkungan pendukung Eco-Pesantren, diberikan bibit pohon produktif dan copy CD Pengelolaan sampah organik di kebun karinda, (ws)

Sumber:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat perkotaan