KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

"Meski Miskin Tapi Terus Berjuang"
JAKARTA, KSP- Segenap jajaran Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI bergembira atas pemberian gelar "Professorship Honorary" kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, Ir. Rachmat Witoelar oleh Griffth University Brisbane Australia 20 Maret 2008 silam.

profrahmat.jpgUngkapan kegembiraan itu diwujudkan secara spontan menggelar syukuran di Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KMNLH), Selasa 25 Maret silam. Acara sederhana ini selain di hadiri para pejabat di lingkungan KMNLH, juga oleh sejumlah wartawan ibukota yang dalam kesempatan ini banyak bertanya seputar motivasi negara Australia di balik pemberian gelar tersebut.

Menurut Rachmat Witoelar, pemberian gelar tersebut memang karena Australia benar-benar mau belajar dari Indonesia. Ini tidak terlepas dari keberhasilan penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) di Bali, Desember tahun lalu. Mereka tertarik pada Indonesia yang dinilai berhasil mempertemukan berbagai perbedaan hingga mampu mendorong terwujudnya langkah bersama internasional dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Banyak negara kaya dan lebih maju dari Indonesia, tapi tidak seberhasil ini, sebab mereka memang enggan melakukan hal ini. "Kita miskin dibanding mereka, tapi terus berjuang," kata Rachmat Witoelar. Bahkan, melalui berberapa kali pertemuan, Australia akhirnya ikut dalam kerjasama ini.

Dijelaskannya ada banyak pertanyaan yang mereka ajukan. ternyata di balik itu mereka sedang menguji. Karena jawaban yang disampaikan dinilai memenuhi kaidah akademik, maka pihak universitas menilai layak mendapat gelar "Professorship Honorary". Masyarakat Australia, kini semakin tertarik pada isu-isu lingkungan hidup, dan dalam hal ini mereka berpaling ke Indonesia sebagai tetangga dekat dalam satu kawasan.

Wujud dari keseriusan ini, pihak Australia dalam hal ini Griffith University di kota Brisbane Australia memiliki School of Environment terbesar dan paling dinamis menjalin kerjasama dengan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) dan sudah mendirikan Centre for Excellence for Sustainable Development for Indonesia (CESDI). "Kita punya kantor di dalam kampus universitas ini, dan sesekali saya mendatanginya, tentu tanpa harus mengorbankan jam kerja di tanah air," kata Rachmat kepada wartawan.

"Bagi yang berminat mempelajari ilmu lingkungan hidup dapat belajar disana dengan memanfaatkan kerjasama ini," katanya.

Tetap Berpegang Pada UU
Mengenai berbagai persoalan lingkungan hidup yang hangat di tanah air belakangan ini, Rachmat Witoelar menegaskan akan tetap berpegang kepada undang-undang. "Mengenai PP No. 2/2008 tentang Tarif Sewa Hutan Lindung, yang diributkan banyak kalangan, misalnya, tentu tetap mengacu pada UU, dan setelah dikaji memang tidak bertentangan dengan UU, " kata
Rachmat Witoelar. Hal yang sama juga berlaku terhadap ijin penambangan dari beberapa pemerintah daerah. "Kalau menurut UU tidak boleh, ya sikap kita tetap tidak boleh," tegas menteri yang selalu akrab dengan wartawan.

Untuk itu, ia akan selalu berusaha meyakinkan banyak pihak, bahwa memelihara hutan jauh lebih menguntungkan daerah. Menurut Rachmat, dengan konsep CDM dan RDD, memelihara hutan jauh lebih menguntungkan. Uangnya langsung bisa dimanfaatkan, dan hutannya tetap lestari. Sedangkan bila dijadikan lahan tambang, hutannya rusak, sementara konpensasi bagi daerah tidak serta merta diperoleh, karena harus menunggu hasil penjualan produksi tambang, dan setelah itu yang tersisa hanya kerusakan lingkungan yang menyusahkan masyarakat.

Menyinggung penanggulangan limbah dan pembangunan resapan air di ibukota, Rachmat menegaskan akan terus memperhatikannya dengan cermat. "KNLH tidak main-main soal ini, beberapa waktu lalu kita sudah sama-sama melakukan sidak ke beberapa tempat. Di salah satu pusat perbelanjaan, pengelolaan limbah padat belum baik, dan mereka berjanji akan memperbaikinya dalam waktu tiga bulan. Itu akan kita inspeksi lagi, apakah mereka sudah memperbaikinya atau belum. Untuk itu, saya minta bantuan dan kerjasama teman-teman wartawan."

Acara syukuran yang berlangsung sederhana ini dihadiri oleh para pejabat di lingkungan KNLH, antara lain Sekjen KNLH, para Staf Khusus Menteri, Staf Ahli, para Deputi dan Asisten Deputi.  KSP 04

Sumber:
Koran Surya Pagi
27 Maret – 01 April 2008