KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA


pesantren.jpgTerjadinya krisis dan bencana lingkungan yang sangat luar biasa saat ini, sangat terkait dengan krisis kemanusiaan dan moralitas sosial, bahkan terjadinya bencana lingkungan tersebut lebih sebagai akibat dari ulah manusia dan tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup manusia yang konsumtip dan eksploitatif, tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan tapi lebih pada untuk memenuhi keinginan, sehingga terjadinya eksploitasi sumber daya alam secara bersar-besaran yang akhirnya meng-ganggu keseimbangan  alam dan memicu terjadinya bencana ekologi.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Asisten Deputi Urusan Pemberdyaan Masyarakat Perkotaan  dalam Lokakarya Pemberdayaan Masyarakat Komunitas Keagamaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup di kawasan Perkotaan, diselenggarakan pada tanggal 10 September 2007 atas kerjasama Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat  (LPPM) Universitas Trunujoya, Bangkalan – Madura. Dilanjutkan dengan Diskusi Pembahasan dan Pengayaan Konsep Program  Ekopesantren dengan menghadirkan para Pimpinan dan perwakilan dari 5 Pondok Pesantren di Madura antara lain Pondok Pesantren : Al-Hikam, Dakwatul Khairat, Al Hamiyyyah, Syaichona Kholil II, An-Nuqayah serta perwakilan Bapedalda Propinsi Jawa Timur, perwakilan Departeman Agama Kabupaten Pamekasan, perwakilan Dinas Lingkungan Kabupaten Pamekasan, para Pakar Lingkungan dan Pakar Agama dari Universitas Trunojoya.  

Rektor Universitas Trunojoyo dalam sambutan membuka Lokakarya tersebut antara lain menyampaikan ucapan terima kasih Kepada Kementerian Negara KLH yang dalam 3 tahun ini telah memberikan kepercayaan kepada Unjoyo sebagai mitra kerja untuk meningkatkan kapasitas masyarakat Madura dalam Pengelolaan Lingkungan dan Penanaman Pohon baik di kawasan Hulu, kawasan Perkotaan dan Kawasan Pesisir. Menurut Rektor Unjoya, permasalahan lingkungan sebenarnya menjadi tugas dan kewajiban kita semua untuk memperbaikinya. Hal ini terkait dengan tugas manusia sebagai Kholifah di muka bumi yang berkewajiban untuk memakmurkan bumi dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Kampanye peningkatan kesadaran lingkungan melalui pendekatan agama dan Pondok Pesantren dinilai sangat tepat terutama di Madura. Pondok Pesantren di Madura  dapat diibaratkan sebagai jantungnya  Pulau Madura yang mempunyai ratusan pondok pesantren, di samping itu pondok Pesantren masih berbudaya panutan, sehingga apapun yang diucapkan dan diperbuat para Kiayi akan dipatuhi dan dikunti oleh para santri dan masyarakat umum di pulau Madura.

Oleh karena itu melalui Lokakarya ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan konkrit khususnya dalam menterjemahkan ayat-ayat Al quran tentang pentingnya memelihara lingkungan melalui program ekopesantren agar dapat diimplementasikan ke dalam kegiatan perilaku sehari-hari yang ramah lingkungan.

Pembahasan Konsep Program Ekopesantren yang dilaksanakan di Kota Bangkalan Madura adalah merupakan pembahasan penyempurnaan untuk yang ke 4 kalinya, setelah sebelumnya di bahas yang pertama dengan para pakar lingkungan dan pakar agama di Makassar yang di laksanakan bersama Wahdah Islamiyah, kedua dibahas di Jakarta dengan perwakilan dari Dep. Agama, pakar Piqih Lingkungan dari Universitas Islam Jakarta (perubaha dari IAIN) dan ketiga kalinya dibahas di Cirebon dengan para pakar Agama dan Lingkungan dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Cirebon serta beberapa Pimpinan Ponpes di Cirebon.

Program Ekopesantren yang merupakan pelaksanaan dari Kerjasama antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Departeman Agama yang ditandatangani pada bulan Desember 2006 di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta ini, diharapkan akan menjadi salah satu terobosan dalam upaya mengurangi laju kerusakan lingkungan melalui peningkatan kapasitas dan kesadaran para santri dalam pengelolaan lingkungannya, sehingga akan terbentuk pribadi-pribadi para santri yang cinta lingkungan dan PenciptaNya.

Sumber :
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan
Gedung B Lt. V, Telp/Fax : (021- 85911211