KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0306/12/daerah/364895.htm
Kamis, 12 Juni 2003

Puncak Kebakaran Hutan Diperkirakan Oktober Mendatang

Jakarta, Kompas – Puncak kebakaran kawasan hutan diperkirakan terjadi
Oktober mendatang karena tidak menentunya musim di Tanah Air. Padahal,
titik api juga sulit dipantau sejak dini karena minimnya alat pemantau yang
canggih.

Demikian penjelasan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA),
Departemen Kehutanan, Koes Saparjadi di Jakarta, Rabu (11/6). Dikatakan,
sepanjang periode Januari sampai 5 Juni 2003, titik api terbesar di kawasan
hutan berlokasi di areal hak pengusahaan hutan (HPH) dengan jumlah 1.074
titik api.

Sementara Kepala Sub Direktorat Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran Dephut
Herman Prayitno mengatakan, untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan di
Indonesia, pemerintah telah menganggarkan dana sebesar Rp 10 miliar.
Keseluruhan dana tersebut bersumber dari pemerintah sendiri, tanpa
kontribusi dari pihak lain. Padahal, selama ini dari total titik api yang
terdeteksi satelit NOAA, 60 persen lebih berada di areal perusahaan HPH,
Hutan Tanaman Industri (HTI), dan perkebunan.

“Memang, sejauh ini belum pernah ada bantuan dari perusahaan-perusahaan.
Mereka kadang sekadar bantu konsumsi seperti nasi bungkus kepada petugas
pemadam,” kata Herman Prayitno.

Soal indikasi kuat tindak pembakaran dari pihak perusahaan, Herman
menambahkan, meskipun sanksi administratif belum dapat dijatuhkan kepada
mereka selama proses hukum, pemerintah berharap aparat penegak hukum dapat
menyelidiki dan menindak tegas perusahaan yang terlibat pembakaran.

Pada periode itu, kata Koes, areal HTI 253 titik api, di kawasan konservasi
46 titik api, dan hutan lindung 46 titik api. Adapun jumlah titik api di
luar kawasan hutan mencapai 2.435, yang terdiri dari lahan perkebunan 853
titik api, daerah transmigrasi 19 titik api, dan kawasan lain 1.563 titik api.

Berdasarkan penelitian di lapangan, 62 persen kebakaran berada di kawasan
perkebunan, pertanian, serta lokasi transmigrasi dan cuma 37 persen di
kawasan hutan. (ETA/b14)