KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Dari Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2013.
Jakarta, 28 November 2013. Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) setiap 5 November, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyelenggarakan peringatan puncak HCPSN 2013 di Istana Wakil Presiden RI. Tema HCPSN 2013 adalah “Puspa dan Satwa Sahabat Kita Bersama, STOP Kepunahannya” Untuk mengenalkan lebih dalam keaneragaman hayati endemik (asli) Indonesia, maka pada tahun 2013 ditetapkan Pohon Sagu (Metroxylon sago) dan ikan Hiu Gergaji (Pristris microdon) sebagai icon HCPSN 2013. Tema tersebut mencerminkan ajakan untuk menjaga puspa dan satwa seperti layaknya seorang sahabat yang diperlakukan dengan baik dan dilindungi keberadaaannya dari ancaman kepunahan.

Tahun 2013 merupakan Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang ke 20. Ini berarti sudah 20 tahun Pemerintah berusaha untuk memelihara dan melestarikan kekayaan hayati Indonesia. Namun upaya dalam kurun waktu yang panjang tersebut belum memberikan dampak yang signifikan bagi kelestarian flora-fauna Indonesia, bahkan status keberadaan di alam beberapa species semakin terancam. Sebagai contoh Badak (Rhinoceros sondaicus) yang menjadi maskot Provinsi Banten, pada tahun 1994 berstatus Endanger menjadi Critically Endanger pada tahun 1996. Adapun penyebabnya antara lain maraknya perburuan dan perdagangan satwa secara illegal serta belum terlibatnya seluruh pemangku kepentingan dalam pelestarian kehati.

Untuk itu pemerintah tak henti-hentinya mendorong semua pihak untuk meningkatkan komitmen dan kepedulian dalam membangun kemitraan untuk perlindungan serta penyelamatan flora dan fauna serta mencegah kemerosotan kehati. Hal ini menjadi tujuan peringatan HCPSN yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden No 4 tahun 1993 (i) meningkatkan kepedulian semua pihak terhadap keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia; (ii) mendorong semua pihak untuk melakukan tindakan nyata dalam rangka penyelamatan dan perlindungan dan pemanfaatan potensi puspa dan satwa nasional secara berkelanjutan; dan (iii) menjalin kemitraan dengan berbagai pihak terutama masyarakat dalam menjaga dan melindungi keanekaragaman hayati.

Keanekaragaman Hayati Indonesia menduduki tempat pertama di dunia dalam kekayaan jenis mamalia (515 jenis, 36 % diantaranya endemik) dan kekayaan jenis kupu-kupu swallowtail (121 jenis, 44 % di antaranya endemik). Kemudian menduduki tempat ketiga dalam kekayaan jenis reptil (lebih dari 600 jenis), tempat keempat dalam kekayaan jenis burung (1519 jenis, 28 % diantaranya endemik), tempat kelima dalam kekayaan jenis amfibi (lebih dari 270 jenis) dan tempat ketujuh dalam kekayaan flora berbunga.

Dalam laporan kepada Wapres RI, Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, mengatakan,
“Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa 2013 menjadi gerakan nasional yang dimulai dengan membangun kesepahaman dan kesepakatan bersama mengenai pentingnya keanekaragaman hayati, menjalin komunikasi dan pertukaran informasi keanekaragaman hayati di antara para pemangku kepentingan”.

Pengelolaan keanekaragaman hayati menjadi penting terkait dengan penyusunan rumusan konseptual dan langkah konkrit untuk mencapai 20 target Global Keanekaragaman Hayati (Aichi Targets) untuk mencegah kemerosotan kehati yang diadopsi dalam COP CBD X tahun 2010 di Nagoya. Hal tersebut telah direfleksikan dalam rumusan Lokakarya Nasional Keanekaragaman Hayati yang dilaksanakan pada tanggal 30-31 Oktober 2013 yang mengambil tema Keanekaragaman Hayati Sebagai Modal Dasar Pembangunan Nasional.

“Kehati adalah kekayaan alam yang dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Untuk itu diperlukan lembaga yang kokoh untuk melakukan sinkronisasi dan sinergitas dalam kebijakan dan pen gawasan berba gai upaya pemerintah dan masyarakat. Selain itu, untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia diperlukan kepemimpinan yang berpihak pada kehati“,
jelas MenLH.

Acara puncak HCPSN 2013 diisi serangkaian acara antara lain penyerahan Penghargaan “Raksaniyata” Menuju Indonesia Hijau (MIH) kepada Kabupaten yang telah mempertahankan dan atau meningkatkan tutupan vegetasi di kawasan berfungsi lindung.

Trophy Raksaniyata 2013 diberikan kepada 7 kabupaten:
1.    Sang ihe, Sulawesi Utara;
2.    Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat;
3.    Buleleng, Bali;
4.    Sumbawa, Nusa Tenggara Barat;
5.    Cilacap, Jawa Tengah;
6.    Pesisir Selatan, Sumatera Barat;
7. Deli Serdang, Sumatera Utara.

Piagam Raksaniyata
diberikan kepada 6 kabupaten yaitu:
1.    Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah;
2.    Bantul, DI Yogyakarta;
3.    Ciamis, Jawa Barat;
4.    Bulukumba, Sulawesi Selatan;
5.    Kuningan, Jawa Barat;
6.    Selayar, Sulawesi Selatan

Selain itu, akan diserahkan Penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) yaitu penghargaan terhadap partisipasi aktif masyarakat yang telah melaksanakan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk mendukung pencapaian target nasional pengurangan emisi Gas Rumah Kaca

Trophy Program Kampung Iklim (Proklim) diberikan kepada:
1.    Bapak Asep. Dusun Sukawangi, Tasikmalaya
2.    Bapak Dadang Hikmat Sudarni. Desa Burno, Lumajang
3.    Bapak Edi Santoso. Desa Gekbrong, Cianjur
4.    Bapak M. Slamet. Desa Bendrong, Malang

Selain itu, berbagai kegiatan dalam rangka peringatan HCPSN telah dilaksanakan diseluruh daerah yang diprakarsai oleh KLH dan berbagai lembaga pemerintah, organisasi/yayasan, lembaga pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, swasta/dunia usaha, taman wisata/rekreasi, serta kelompok profesi dll. Rangkaian kegiatan tersebut didokumentasikan dalam buku panduan HCPSN 2013 sebagai media untuk sosialisasi HCPSN 2013.

Lampiran Berita Terkait:
Lapiran Kepres No 74 Tahun 2013  Tentang Satyalencana Pembangunan (pdf)
Program Menuju Indonesia Hijau 2013 (pdf)

 

Untuk Informasi Lebih Lanjut:
Ketua Panitia Pelaksana Peringatan HCPSN 2013
Ir. Antung Deddy Radiansyah, MP.
Asdep Keanekaragaman Hayati dan
Pengendalian Kerusakan Lahan,
Kementerian Lingkungan Hidup,
Telp/Fax. 021-85905770,
email: humaslh@gmail.com / www.menlh.go.id