KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

CUACA pesisir Sungai Citarum di Kampung Cikambuy Desa Sangkanhurip, Kab. Bandung, Minggu (18/7), sudah menduga sejak pagi. Namun, minat masyarakat melihat Festival Catarum IV yang diadakan Warga Peduli Lingkungan (WPL) dan Pikiran Rakyat itu besar. Sejak pagi hari, ratusan warga berkumpul menyaksikan berbagai macam hiburan dan kegiatan pada acara ini.

Acara yang telah diadakan untuk keempat kalinya itu merupakan media mendekatkan dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan di sekitar Sungai Citarum.

Festival yang diadakan sejak Sabtu (17/7) ditutup dengan acara ngawangkong mengenai “Citarum Dulu, kini, dan akan datang” bersama para tokoh masyarakat yang dituangkan dan para pemerhati lingkungan. Acara itu diadakan tepat dipinggir Sungai Citarum dengan nuansa kedaerahan yang khas. “Suasana seperti ini sengaja kami buat agar anak muda sekarang mengetahui kondisi Sungai Citarum dulu,” tutur Ketua WPL, Sunardhi Yogantara.

Melalui festival ini, masyarakat diharapkan dapat lebih tergugah kesadarannya agar selalu melestarikan Sungai Citarum. “Jangan sampai nantinya Citarum hanya tinggal cerita,” katanya.

Kondisi Citarum dan anak-anak sungainya saat ini sudah sangat memprihatinkan. Data Badan Pengelolaan lingkungan Hidup (BPLHD) Jabar menyebutkan 60 parameter organik yang berasal dari limbah rumah tangga dan sampah masuk ke Sungai Citarum, selain limbah industri dan peternakan.

Pada Festival Citarum kali ini ditampilkan berbagai kesenian Sunda seperti calung, pencak silat, dan pameran lingkungan hidup. Festival juga diisi aneka perlombaan, seperti lomba menggambar, melukis tong, membaca puisi, dan gerak jalan yang melibatkan 180 peserta dari berbagai daerah seperti Cimahi, Majalaya, dan warga di sepanjang pesisir Saungai Citarum. Selain itu, masyarakat dapat menikmati lalayaran di pinggir Sungai Citarum. “Anak-anak sangat senang dengan acara ini. Dari kemarin mereka betah seharian bermain di sini,” kata Rohayati, warga setempat.

Sumber:
Pikiran Rakyat
Senin, 19 Juli 2010
Hal. 20
Irfan Subhan