KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Menteri Lingkungan Hidup Prof. Balthasar Kambuaya, MBA membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Pengendalian Pencemaran Lingkungan 2013 dengan tema “Sinergikan Aksi Turunkan Beban Pencemar” pada hari Selasa, tanggal 26 Februari 2013, yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta Jakarta. Rakernis dilaksanakan selama 2 (dua) hari, tanggal 26-27 Februari 2013. Peserta yang hadir berjumlah + 200 peserta yang berasal dari Kementerian/Lembaga terkait, institusi pengelola lingkungan hidup Provinsi dan Kota/kabupaten, Institusi Perencana dan penganggaran program.

Rakernis ini merupakan media sinkronisasi kegiatan Pengendalian Pencemaran Lingkungan bagi segenap Aparatur dari Kementerian/Lembaga terkait, institusi pengelola lingkungan hidup Provinsi dan Kota/kabupaten, Institusi Perencana dan penganggaran program. Melalui diskusi dan berbagi pengalaman terkait optimalisasi kegiatan Pengendalian Pencemaran, forum ini membahas sinergi program tahun 2013 dan penyusunan usulan program tahun 2014 untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang lebih baik.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dengan  UNEP/PCFV dan USEPA melakukan Study  Cost and Benefit Analysis on fuel Economy Policy in Indonesia (CBA) di tahun 2012 memperkirakan bahwa biaya kesehatan penduduk  Jakarta pada tahun 2010 (dengan asumsi biaya perawatan antara minimal hingga maksimal) adalah berkisar antara Rp. 697,9 Miliar sampai dengan Rp. 38,5 Trilliun. Biaya besar ini merupakan akibat penyakit yang berkaitan dengan pencemaran udara, seperti asma, broncopneumonia, ISPA, pneumonia, penyempitan saluran pernafasan/paru kronis, dan coronary artery diseases. Kenyataan ini merupakah hal yang harus dipertimbangkan dalam menyusun kebijakan, program dan kegiatan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Balthasar Kambuaya, MBA. dalam Sambutannya menyampaikan “Tingginya biaya kesehatan serta dampak akibat pencemaran lingkungan, haruslah mendorong kita untuk lebih memprioritaskan upaya pengendalian pencemaran lingkungan”. Lebih lanjut dikatakannya, “Sinergi kebijakan sektor terkait dalam mendukung pencapaian kualitas lingkungan yang lebih baik haruslah dapat dijabarkan dalam tataran implementasi dalam bentuk kebijakan program dan kegiatan di tingkat pusat dan daerah”.

Upaya pengendalian pencemaran air dan udara yang dikoordinasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2010 – 2012 telah berhasil menurunkan beban pencemaran sebagai berikut:

  • sektor industri PEM (Pertambangan, Energi dan Migas), Manufaktur, Prasarana dan Jasa serta Agro Industri
  • parameter organik adalah sekitar 720.203 ton (52,3%)
  • parameter anorganik sebesar 17.510 ton (2,92%).
  • Sektor limbah domestik untuk beban parameter organik sebesar 139.744 ton (4,28%)
  • Penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 51 juta ton (1,32%).

Dari baseline 2010, dengan target penurunan beban pencemar sebesar 50% pada tahun 2014, saat ini telah dicapai 20-25%, akan tetapi capaian ini perlu dievaluasi kembali, karena belum semua sektor dihitung, misalnya untuk sektor industri baru menghitung dari industri yang mengikuti PROPER.

Capaian pelaksanaan PROPER yang telah dilakukan pada tahun 2012 sebanyak 1.311 industri dari target sebesar 1.300 industri, dengan pelaksanaan dekonsentrasi oleh 22 provinsi, dengan capaian jumlah industri yang dievaluasi oleh provinsi sebesar 880 industri dari target 860 industri. Pada tahun 2013 target PROPER akan dilakukan sebanyak 1.600 industri untuk sektor PEM (Pertambangan, Energi, dan Migas), Manufaktur Prasarana dan Jasa, serta Agro Industri, dan sebagian akan dilakukan melalui dana dekonsentrasi pada 33 provinsi.

Untuk pengendalian pencemaran kendaraan bermotor, KLH sudah menetapkan Permen LH No. 23 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Permen LH N0. 10 Tahun 2012 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori L3 yang akan mulai diberlakukan pada bulan Agustus 2013.  Jika asumsi pertumbuhan sepeda motor adalah 16,59 %, maka diperkirakan sepeda motor baru pada tahun 2014 akan berjumlah sekitar 13 jutaan. Pemberlakuan Permenlh ini diperkirakan akan  menurunkan emisi dari sepeda motor di 2014 untuk parameter:

  • CO (Carbon Monoxide) sebesar 879.804 ton/tahun (9%),
  • HC (Hydrocarbon) sebesar 100.549 ton/thn (4,74%),
  • NOx (Nitrogen Oxide) sebesar 37.706 ton/thn (7,11%).

Dari kegiatan evaluasi kualitas udara perkotaan (EKUP) penghitungan beban dilakukan di tiga ruas jalan pada 40 kota besar, metropolitan dan sedang di Indonesia yang dipantau kinerja lalu-lintasnya, dengan hasil  reduksi beban emisi CO sekitar 3.553,6 ton/tahun (22%)  sementara NOx sekitar 12,6 ton/tahun (3,4%) pada tahun 2011 dan 2012.

Selain dampak pada kesehatan, hasil studi CBA juga diperoleh opsi pengendalian pencemaran udara dari kendaraan bermotor yang paling efektif adalah penerapan Transportasi Umum dan Penggunaan bahan bakar gas.

Sinergi kebijakan dan program dari sektor terkait mutlak diperlukan untuk mengakselerasi pencapaian kualitas lingkungan yang lebih baik. Dukungan sektor terkait yang diperlukan dalam pengendalian pencemaran antara lain adalah:

  • penyediaan bahan bakar bersih, karena kualitas bahan bakar akan mempengaruhi kualitas emisi yang dihasilkan,
  • Harga bahan bakar alternatif yang dapat bersaing dengan bahan bakar fossil. Adanya subsidi bahan bakar fossil ditengarai menjadi salah satu tingkat konsumsi BBM yang semakin meningkat dan bahan bakar alternatif yang kurang berkembang,
  • Penggunaan lahan sesuai dengan fungsinya,
  • penerapan integrasi moda transportasi dan tata guna lahan,
  • penyediaan transportasi umum yang aman dan nyaman, hal ini akan mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi yang berarti pula penghematan subsidi bahan bakar,
  • ketersediaan fasilitas pengolahan limbah domestik, karena limbah domestik merupakan sumber pencemar air yang dominan,
  • penerapan produksi dan konsumsi yang berkelanjutan (Sustainable Production and Consumption (SCP)  dan lain-lain.

Rakernis ini merupakan salah satu media inisiasi untuk mensinergikan dan harmonisasi program Nasional dan daerah dalam upaya kongkrit menurunkan beban pencemar sebagai upaya kunci dalam meningkatkan kualitas lingkungan khususnya air dan udara. Sinergitas aksi dalam penurunan beban pencemar sudah menjadi tuntutan untuk segera dilaksanakan. Target pencapaian yang diharapkan dari Rakernis 2013 adalah:

  • kesepakatan pelaksanaan identifikasi sumber, inventarisasi emisi, perhitungan beban penurunan beban pencemaran pada tahun 2013.
  • Provinsi berkoordinasi dengan Kabupaten dan Kota dalam pelaksanaan kegiatan identifikasi sumber, inventarisasi emisi, perhitungan beban penurunan beban pencemaran.
  • 6 (enam) bulan setelah Rakernis 2013 ini, setiap Provinsi menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan identifikasi sumber, inventarisasi emisi, perhitungan beban penurunan beban pencemaran pada tahun 2013.
  • Provinsi sepakat untuk melaksanakan dekonsentrasi tepat waktu.

Unduh Lampiran :

Materi WGU:

  1. Rakernis LH – EBTKE-Feb 2013 esdm.pdf
  2. Perhubungan.pdf
  3. Palembang.pdf
  4. evaluasi rakernis 2012 rev -Herry Hamdani.pdf
  5. DKI Jakarta.pdf

Materi WGA:

  1. Kementerian PU.pdf
  2. Jawa Timur.pdf
  3. Jawa Barat.pdf
  4. Banjarmasin.pdf

Lainnya:

  1. Sambutan Menteri LH-RAKERNIS 2013.pdf
  2. PMK 32 – 2013 TATA CARA REVISI ANGGARAN.pdf
  3. LAPORAN DEPUTI  II-RAKERNIS 2013.pdf
  4. KESIMPULAN DAN PENUTUPAN RAKERNIS 2.pdf
  5. Hasil Kesepakatan Rakernis Udara.pdf
  6. Hasil Kesepakatan Rakernis Air.pdf
  7. buku panduan RAKERNIS KLH 2013.pdf

 

Informasi Lebih Lanjut:

DEPUTI MENLH BIDANG PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN