KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

uploudDSC_0056.jpgKamis, 29 Maret 2007 - Pusarpedal, Kawasan PUSPITEK Serpong Tangerang – Banten. Rakernis (Rapat Koordinasi Teknis) Prokasih, DAK (Dana Alokasi Khusus) dan Pemantauan Kualitas Air Sungai tersebut dihadiri oleh 33 (tiga puluh tiga) Propinsi di Indonesia beserta Pusat Regional – KLH. Program Kali Bersih (PROKASIH) pertama kali dicanangkan pada tahun 1989 dengan tujuan meningkatkan kualitas air sungai melalui penurunan beban limbah industri.

Sampai dengan tahun 1998/1999 diikuti oleh 17 propinsi yang meliputi 37 Daerah Aliran Sungai (DAS) dan 77 sungai/ ruas sungai. Industri prioritas yang masuk dalam lingkup kerja PROKASIH pada saat itu mencapai 257 industri. Dari 257 industri tersebut total beban BOD (biological oxygen demand) berhasil diturunkan dari 83 ribu ton per tahun menjadi 38 ton per tahun, dan beban total COD (chemical oxygen deman) dari 160 ribu ton per tahun menjadi 69 ton per tahun.

Secara fisik, kualitas air sungai kelihatannya tidak mengalami perbaikan. Namun berdasarkan parameter yang dipantau yaitu BOD dan COD dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : (i). ai yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi pada umumnya kualitasnya tetap buruk dilihat dari kedua parameter tersebut. Contohnya adalah Sungai Ciliwung, Kali Surabaya dan Sungai Deli. (II). i-sungai yang tidak memiliki densitas yang tinggi pada umumnya kualitasnya membaik dilihat dari kedua parameter tersebut. Contohnya adalah Sungai Siak di Riau dan Way Terusan di Lampung.

Pada kurun waktu tahun 2002 – 2006, PROKASIH hanya melaksanakan sebagian kegiatannya yaitu penandatanganan surat perjanjian dari pihak industri untuk menurunkan beban pencemarannya yang terangkum dalam Surat Pernyataan Kali Bersih (SUPERKASIH) yang tersebar di 7 (tujuh) Propinsi dan 5 DAS yang meliputi 249 industri yang meliputi industri manufaktur, agro, pertambangan dan lainnya, dimana tingkat penaatan industri terhadap isi surat pernyataan adalah 30%. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah transisi sambil menunggu selesainya perubahan-perubahan dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan kualitas air dan pelaksanaan otonomi daerah.

Selain hal tersebut, Kementerian Negara Lingkungan Hidup telah melakukan pemantauan kualitas air di 30 propinsi. Berdasarkan parameter yang dipantau di air sungai menunjukkan bahwa lebih dari 50% parameter DO, BOD, COD fosfat, fecal coli dan total coliform sudah tidak memenuhi kriteria mutu air kelas I.

Melihat pada keberhasilan PROKASIH sampai dengan tahun 1998/ 1999,  Kementerian Negara Lingkungan Hidup mulai tahun ini akan menjalankan kembali PROKASIH dengan format yang baru. Dalam format baru, PROKASIH pada saat ini akan berupaya melakukan penurunan beban pencemaran dan kerusakan di wilayah sungai dari berbagai sumber seperti industri, domestik dan pertanian. Selain itu PROKASIH akan berupaya untuk meningkatkan kapasitas konservasi air mengingat bahwa kualitas air juga dipengaruhi oleh volume atau debit airnya.

Mengingat ruang lingkup kegiatan prokasih akan semakin besar (multi sector) dan berkaitan dengan pelaksanaan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, maka secara operasional pelaksanaan PROKASIH akan melibatkan semua sector yang terkait di tingkat pusat (misalnya Departemen Dalam Negeri, Departemen Kehutanan, Departemen Perhubungan,, Departemen Pertanian, Departemen Pekerjaan Umum, dan Departemen Perindustrian), pemerintah daerah propinsi dan kabupaten/ kota termasuk dinas-dinas terkait di daerah.

Diharapkan PROKASIH dapat dijadikan program bersama oleh para pemangku kepentingan sehingga pemanfaatan sumberdaya air yang berkelanjutan dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dapat terwujud.

Sumber :
Asdep Urusan Pengendalian Pencemaran Manufaktur
Drs. Moh. Helmy
Telp/ Fax : 85906677, 8517148 ext. 216