KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

PENGELOLAAN AIR BUTUH PARTISIPASI : MASYARAKAT BELUM IKUT TENTUKAN KEBIJAKAN

Partisipasi publik yang nyata dalam pengelolaan sumber daya air perkotaan maupun pedesaan diperlukan untuk efisiensi maupun akuntabilitasnya. Tanpa itu, kebijakan pengelolaan sumber daya air tetap jauh dari kebutuhan masyarakat. Faktanya, justru partisipasi semu yang kini melanda dunia pengelolaan sumber daya air. Dari tiga ratus lebih PDAM, tidak ditemukan bentuk partisipasi nyata masyarakat yang dapat turut menentukan kebijakan pengelolaan air. Partisipasi yang ada selama ini hanya simbol…….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SELASA 23 AGUSTUS 2005, HAL. 13

TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT TERUS DIJARAH

Kawasan hutan konsorvasi Taman Nasional Kerinci Seblat di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, hingga di Kecamatan Jangkat, hingga kini terus dirambah. Penebang dan peladang dengan bebas beroperasi melakukan penebangan. Perambah untuk dijadikan ladang kopi di sekitar Desa Renah Alai, Jangkat bahkan sudah sampai ke pinggang Gunung Masurai (2.935 meter di atas permukaan laut/dpl) sehingga mengakibatkan kawasan konservasi itu rusak. Begitu pula dengan penjarahan di sekitar Dusun Sungai Lalang Ladang, Desa Nilo Dingin sekitar Gunung Hulu Nilo (2469 dpl) di Kecamatan Lembah Masurai. Berkaitan dengan itu, sebagian masyarakat Muara Madras diminta kepada pemerintah agar menghentikan kegiatan perambahan dan penjarahan di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Jangkat dan sekitarnya…..BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SELASA 23 AGUSTUS 2005, HAL. 24

JEMBATAN ASAP MALAYSIA-INDONESIA

Selama beberapa minggu ini, saya bolak-balik antara Kuala Lumpur dan Jakarta dengan waktu tempuh dua jam. Perbedaan lingkungan antara kedua ini menakjubkan. sementara langit di atas ibu kota Indonesia, begitu jernih, kota terbesar Malaysia (dan juga sebagian Sumatera Utara dan Tengah) terjangkit kabut bercampur asap yang berbau angus. Tidak seperti di Indonesia, media di Malaysia biasanya diarahkan oleh elite politik dan dalam hal ini adminsitrasi kantor Perdana Menteri Abdullah Badawi yang mewakili kepentingan hubungan bilateral. Pak Lah, panggilan, secara jelas memilih untuk mengecilkan perasaan frustasi dan iritasi publik terhadap kabut campur asap yang sangat mengganggu yang datang sebagai “tamu tak diundang” dari Indonesia……BACA SELENGKAPNYA, KORAN TEMPO, SELASA 23 AGUSTUS 2005, HAL. A14

SULITNYA LESTARIKAN JALAK BALI DI DALAM NEGERI

Curik Bali (Leucopsar rothschildi) atau lebih dikenal dengan nama jalak Bali merupakan jenis burung tercantik di antara keluarga jalak (Sturnidae). Maka tidak heran banyak orang ingin memeliharanya.Namun, keindahan hewan yang dilindungi itu membuatnya terus diburu untuk dijual secara ilegal. Burung berbulu putih dengan ‘masker’ biru langit di seputar matanya itu terus diburu pemburu liar dari habitatnya di Hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), untuk diselundupkan ke luar negeri. Ulah para pemburu tidak bertanggung jawab itu tentu saja membuat pelestarian terhadap burung langka tersebut kurang berjalan mulus….. BACA SELENGKAPNYA, MEDIA INDONESIA, SELASA 23 AGUSTUS 2005, HAL. 13

INDUSTRI BATU ALAM CEMARI LAHAN PERTANIAN

Ratusan industri kerajaan batu alam berskala kecil di Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat yang belum memiliki sistem pembuangan limbah selama lini membuang limbah selama ini membuang limbah produksinya ke saluran air Sungai Winong. Akibatnya, sekitar 5.000 hektar lahan pertanian di Palimanan tercemar limbah. Limbah berupa debu dari penggilingan batu alam itu mengalir ke lahan irigasi petani melalui saluran air menuju sungai. Semakin lama, debu yang mengendap di dalam air bertambah banyak dan kemudian membatu. Ini menyebabkan lahan pertanian milik petani Palimanan terancam tak bisa ditanami. Menurut Karnadi, petani Desa Balerante, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Senin (22/8), meski masih bisa ditanami, tetapi produksi petani yang lahan sawahnya tertutup endapan mengalami penurunan produksi. Akibatnya, padi yang didapat rata-rata kurang dari satu ton per hektar. “Bila keadaan ini terus dibiarkan tanpa tindakan pencegahan dikhawatirkan lahan akan semakin parah karena tergerusnya unsur hara tanah,” ujarnya……..BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SELASA 23 AGUSTUS 2005, HAL. 24

3000 RUMAH DI SINGKIL TERENDAM AIR PASANG LAUT

Sedikitnya 3000 rumah dan sejumlah bangunan umum, seperti sekolah dan masjid di pusat kota Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam, terendam air laut hingga satu meter, akibat terjadinya gelombang pasang, Minggu (21/8). Air pasang terjadi setiap bulan purnama pascagempa tanggal 28 Maret lalu, dan hingga saat ini belum ditangani. Menurut Bupati Aceh Singkil M Azmi mengatakan, banjir akibat air pasang terjadi karena pascagempa daratan Singkil turun sekitar 80 sentimeter. “Penurunan daratan ini terjadi setelah gempa dan menyebabkan daratan lebih rendah daripada muka air laut saat pasang,” katanya….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SELASA 23 AGUSTUS 2005, HAL. 24

KLH SELIDIKI 10 PERUSAHAAN PEMBAKAR HUTAN

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sedang menyelidiki 10 perusahaan yang diduga membuka lahan dengan membakar hutan sehingga menimbulkan hutan menimbulkan asap tebal. “Kita sudah membuat daftar perusahaan-perusahaan yang kita duga (membakar lahan). Ada 10 perusahaan dalam penyelidikan. Di Riau yang paling banyak,” kata Menteri Negara Lingkungan Hdup, Rachmat Witoelar, Banten, Senin (22/3)….BACA SELENGKAPNYA, REPUBLIKA, SELASA 23 AGUSTUS 2005, HAL. 20

EMPAT HERCULES UNTUK ATASI KEBAKARAN

Sekalipun hujan lebat turun dalam tiga hari di sebagian daerah Riau, namun titik-titik api kembali bermunculan di perbatasan Rokan Hilir dan Rokan Hulu, Riau. Karena itu, tim bersama Indonesia, Malaysia dan Singapura akan melaksanakan modifikasi cuaca dengan mengerahkan empat pesawat Hercules………..BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SELASA 23 AGUSTUS 2005, HAL. 24

Sumber : KBUA Perpustakaan “Emil Salim”
Kementerian Lingkungan Hidup