KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

sarpedal2.jpgKementerian Negara Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Pemerintah Austria telah menempatkan stasiun pemantau kualitas udara otomatis (AQMS) di 10 kota sejak tahun 1999. Jaringan pemantau kualitas udara ambien secara otomatis yang ada saat ini menghasilkan data yang sangat berguna bagi daerah, pemerintah pusat dan negara tetangga. Kebakaran hutan dan lahan pada sebahagian daerah di Indonesia seperti Sumatera dan Kalimantan menyebabkan pencemaran udara sehingga peralatan AQMS sangat diperlukan untuk memantau tingkat pencemaran udara yang telah terjadi. Akan tetapi saat ini peralatan AQMS telah mengalami penurunan fungsi sehingga tidak dapat menampilkan data secara lengkap dan komprehensif. Untuk itu perlu dilakukan optimalisasi peningkatan kualitas dan penyediaan data kualitas udara yang valid dengan akurasi dan presisi yang tinggi.

Pemantauan kondisi kualitas udara di suatu wilayah secara kontinyu dengan peralatan AQMS memberikan keseregaman informasi kepada masyarakat tentang kualitas udara di waktu dan lokasi tertentu. Air Quality Monitoring System (AQMS) yang merupakan jaringan pemantau kualitas udara ambien kontinyu sangat diperlukan dalam upaya pengendalian pencemaran udara di Indonesia, tetapi saat ini stasiun pemantau udara otomatis tersebut tidak beroperasi dengan optimal karena adanya kendala dan keterbatasan pusat dan daerah dalam menjalankan dan mengoperasikan perlatan tersebut, diantaranya adalah tingginya biaya operasional dan penyediaan suku cadang (sparepart), sistem pengolahan data uwedat yang tidak open source sehingga sulit bagi teknisi lokal untuk melakukan perbaikan dan perawatan, Hardware yang ada di Main Center dan Regional Center yang masih berbasis Windows NT dan Pentium II sehingga kinerjanya menurun dan proses pengambilan data menjadi lambat, biaya pengiriman data dari regional center ke main center yang cukup besar setiap tahunnya meskipun perlatan (stasiun) tidak berfungsi serta sistem pelaporan yang tidak real time. Berdasarkan kendala di atas perlu dilakukan modifikasi sistem AQMS yang ada saat ini menjadi sistem yang open source dan biaya transfer data yang murah dan cepat sehingga penyedia data kualitas udara ambien dapat terlaksana secara kontinyu dan berkesinambungan yang sangat diperlukan bagi pengambil keputusan baik ditingkat pusat maupun daerah serta memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat umum.

TUJUAN dan SASARAN

sarpedal1.jpgTujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan komitmen penanggungjawab peralatan dengan membuat kesepakatan dan komitmen bersama antara KLH dan Daerah, sehingga dapat membantu kelancaran operasional perlatan AQMS dan data pemantauan kualitas udara ambien dapat tersedia secara periodik dan berkesinambungan. Selain itu untuk membahas permasalahan teknis dan non teknis dalam operasional dan perawatan AQMS, serta modifikasi sistem AQMS

Sedangkan sasaran yang diharapkan adalah; (i) Beroperasinya stasiun pemantau udara otomatis dengan optimal di 10 kota sehingga dapat membantu daerah dalam mengevaluasi tingkat pencemaran udara yang telah terjadi sehingga dapat disusun program pengelolaan pencemaran kualitas udara di daerah khususnya dan Indonesia umumnya. (ii) Tersedianya data yanglengkap di main center dari 10 kota sehingga dapat dijadikan masukan bagi pengambil keputusan.

Rapat koordinasi Pemantauan Kualitas Udara Ambien dengan perlatan AQMS sendiri di adakan di Hotel Santika Jakarta, tanggal 30 Januari 2008. Sedangkan peserta Rapat koordinasi Pemantauan Kualitas Udara Ambien dengan perlatan AQMS adalah; Instansi Pengelola Lingkungan Hidup di 30 Propinsi, Instansi Pengelola Lingkungan Hidup Stasiun AQMS di 10 kotaLSM, Akademisi, Pemerhati lingkungan

Sumber:
PUSAT SARANA PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pusarpedal, Komplek Puspitek

Jl. Raya Serpong Tangerang

T/F : 021 – 7872028