KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

BANDUNG, (PR) Revolusi lingkungan hidup harus dimulai dari sekarang. Kesadaran kolektif untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik merupakan bagian dari karya besar dalam sejarah yang bisa menjadikan Kota Bandung hijau dan bersih.

Demikian diutarakan Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda pada pekan bakti lingkungan hidup bersama masyarakat Kec. Rancasari Minggu (25/7). Dia mengatakan, beberapa upaya telah dilakukan untuk mewujudkan lingkungan yang hijau dan bersih.

“Melalui acara Car Free Day, minimal warga Kota Bandung memiliki ruang atau lahan publik yang bebas pencemaran dan bersih dari polusi kendaraan bermotor. Di samping penanaman pohon, dengan dilakukannya pemilahan sampah untuk kompos diharapkan bisa mengurangi volume sampah dari tingkat rumah tangga,” tuturnya.

Dia mengatakan, program serta gagasan yang telah diusung oleh Bandung Green and Clean (BGC) sangat berpeluang untuk menjadi solusi mengubah keadaan dan situasi Bandung menjadi lebih baik.

Warga Kota Bandung memiliki dua pilihan, apakah ingin Bandung kotor, kumuh, banjir, dan semrawut atau Bandung yang bersih dan hijau sehingga penghuni di dalamnya merasa nyaman?” katanya.

Lebih lanjut, Ayi mengatakan, program serta gagasan akan terwujud dengan baik, apabila adanya keterlibatan atau partisipaso masyarakat yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam menyelamatkan lingkungan. Ayi menambahkan, dengan adanya kegiatan uji emisi beberapa waktu lalu merupakan upaya menyelamatkan Kota Bandung yang berada dalam cekungan, agar tidak semakin tercemar udaranya.

Dalam kegiatan tersebut sekitar 2.300 pohon ditanam di kawasan Kec. Rancasari. Selain itu, ada pula kegiatan pelatihan pengomposan dagi warga, yang sebelumnya kegiatan tersebut telah dilakukan oleh RW 07 kel. Cipamokolan, Kec. Rancasari.

“Sampah sebagian besar berasal dari sampah rumah tangga, setiap RT ingin mempunyai pengomposan sehingga pupuknya bisa dipergunakan. Harapan saya, dengan mengikuti pelatihan pengomposan ini, warga bisa mengolah sendiri kompos di rumahnya masing-masing agar terciptanya Rancasari tertib, Rancasari hijau,” ucap Camat Rancasari Hj. Ai Sutriansih.

Dia menambahkan, untuk mendukung terciptanya Bandung yang hijau dan bersih diwilayahnya tersebut kerap kali dilakukan pembuatan sumur resapan dan biopori.

Sementara itu, Ketua Lembaga Penerapan Teknologi Tepat (LPTT) Rohajie Trie mengatakan, pembuatan kompos dapat dilakukan dengan cara yang mudah dan murah. “Dengan menggunakan komposter karung beras sebagai alat pengomposan, aplikasi pembuatan kompos dapat dilakukan dengan mudah dan murah. Bahan yang dipakai adalah karung beras isi 25 kilogram dan dua bantal yang telah diisi dengan kulit padi atau sekam,” tuturnya.

Sumber:
Pikiran Rakyat
senin, 26 Juli 2010
Hal. 18
CA-03