KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

RESAPAN HILANG, LAUT JAWA PASANG
Genangan air yang merendam Stasiun Semarang Tawang setiap kali musim hujan datang disebabkan oleh perubahan fungsi rawa di sekitar areal stasiun. â€Â?Sejak kawasan rawa di sekitar Stasiun Tawang beralih fungsi menjadi kawasan permukiman pada tahun 1985, fungsi resapan air untuk daerah sekitar stasiun ikut hilang. Ketika stasiun didirikan Belanda, disadari daerah stasiun ini merupakan daerah genangan air. Itu sebabnya, Belanda mempertahankan fungsi rawa di sekitar stasiun ini….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 1

KEGAGAPAN BELUM HILANG : PENANGANAN BENCANA BESAR TIDAK ADA DASAR HUKUMNYA
Bencana yang datang silih berganti setiap tahun di Indonesia belum juga memberi pelajaran menuju penanganan yang lebih baik. Pemerintah dinilai masih gagap setiap kali ada bencana.Di satu sisi, bencana begitu mudah dilupakan hingga bencana serupa datang pada tahun atau musim berikutnya. â€Â?Setelah banjir seperti sekarang ini akan disusul kekeringan seperti biasanya, tetapi tak juga ada solusi akhir,â€Â? kata Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Chalid Muhammad dalam Dialog Publik â€Â?Menari di Republik Bencana: Refleksi Evaluasi Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami untuk Pengelolaan Bencana yang Lebih Baik di Indonesiaâ€Â? di Jakarta, Senin (30/1)…..BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 13

KEARIFAN LOKAL ITU KINI KIAN TERTINGGAL
Suku Anak Dalam masih berpaham animisme. Mereka percaya bahwa alam semesta memiliki banyak jenis roh yang melindungi manusia. Jika ingin selamat, manusia harus menghormati roh dan tidak merusak unsur-unsur alam, seperti hutan, sungai, dan bumi. Kekayaan alam bisa dijadikan sumber mata pencarian untuk sekadar menyambung hidup dan tidak berlebihan.Hingga kini suku Anak Dalam masih mempertahankan beberapa etika khusus. Pohon sialang, misalnya, tidak boleh ditebang karena menjadi tempat ideal bagi lebah untuk membuat sarang dan madu…..BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 14

KEBANJIRAN 1.351 HEKTARE SAWAH RUSAK
Banjir besar yang terjadi sepekan terakhir di tiga kawasan di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengakibatkan 1.351 hektare sawah rusak dan 489 hektare di antaranya puso. Petani diduga menderita kerugian Rp 8 miliar. Banjir melanda sebagian Kabupaten Lombok Timur, Sumbawa dan Bima. “Kerusakannya merata, yang kami pikirkan adalah memulihkan sawah karena bentangan dan sekat-sekatnya juga rusak,” kata Darmali, Kepala Subdinas Pengembangan Lahan dan Perlindungan Tanaman Pangan Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) awal pekan ini…..BACA SELENGKAPNYA, KORAN TEMPO, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. A9

KETIKA LINGKUNGAN MEROSOT
Faktor degradasi atau penurunan kualitas lingkungan Tarum Barat sepanjang 52,780 kilometer memang berat. Daerah rawan longsor di sekitarnya sedikitnya terdapat 31 lokasi. Ancaman longsor itu mengancam 17 bendungan serta 14 tanggul Tarum Barat yang terbentang dari Curug, Purwakarta, hingga Bekasi.Keprihatinan itu belum terhenti karena masih ada masalah pencemaran air. Terhitung antara Kali Bekasi dan Ciliwung (Kali Malang) sepanjang 14,5 kilometer kian terkontaminasi limbah permukiman. Sebelumnya, limbah juga masuk Tarum Barat akibat interkoneksi dengan Kali Cibeet, Cikarang, dan Bekasi……….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 28

AIR BERSIH DARI KALI KOTOR
Ciliwung makin kotor dan kian tercemar. Pasokan air baku untuk air minum bagi warga Batavia dan Jakarta bertumpu pada pasokan air dari Bogor dan sekitarnya, termasuk sumur galian dan sumur pompa.Entah kapan mulainya, perusahaan air ledeng atau air minum itu tidak lagi memakai sumber air dari Ciliwung, malah memakai sumber baku dari Kali Cisedane, Pasanggarahan, dan Krukut, serta aliran sungai Kali Malang yang asalnya dari Kali Tarum Barat yang berinduk ke Sungai Citarum…BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 28

ROB MENGANCAM JAKARTA : PERMUKAAN AIR LAUT PASANG
Jakarta terancam rob, banjir akibat empasan gelombang air laut. Permukaan air laut pasang kemarin naik di atas normal. Kemarin rob sudah melanda sebagian Jakarta Utara. Sebanyak 162 rumah di Kalibaru, 100 rumah di Marunda, dan 7 rumah di Cilincing tergenang.Genangan air laut itu bisa semakin menjadi-jadi, apalagi diperparah dengan naiknya debit muara-muara sungai yang ada di wilayah Jakarta Utara.Berdasarkan laporan dari Pusat Krisis Satuan Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Pengungsian DKI, kemarin pada pukul 14.00 tinggi muka air laut pasang 180 sentimeter……BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 26

BANJIR DI KALSEL MELUAS
Banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) meluas. Ratusan rumah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) dan lahan gambut pada sejumlah wilayah terendam………….. BACA SELENGKAPNYA, MEDIA INDONESIA, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 8

POLHUT TNKS BENGKULU SITA 50 KUBIK KAYU ILEGAL
Polisi Hutan (Polhut) Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu menyita 50 kubik kayu olahan ilegal dari sejumlah lokasi di hutan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) dalam pekan lalu. Kayu hasil pembalakan liar (illegal logging) itu ditemukan anggota Polhut TNKS ketika melakukan operasi pengamanan hutan di daerah ini beberapa waktu lalu…..BACA SELENGKAPNYA, SUARA PEMBARUAN, SENIN 30 JANUARI 2006, HAL. 14

MOTOR WAJIB UJI EMISI
Seluruh sepeda motor yang beralamat di Jakarta akhirnya wajib diuji emisinya setelah standar baku mutu uji diketahui. Uji emisi terhitung mulai 4 Februari 2006 bersama dengan mobil pribadi. Sementara bengkel yang dapat melayani uji emisi motor masih terbatas. Penetapan 4 Februari 2006 untuk penerapan uji emisi itu berdasarkan waktu diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara………………BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 27 BERITA TERKAIT: MOTOR WAJIB UJI EMISI, BERLAKU FEBRUARI 2006, MEDIA INDONESIA, SELASA 1 FEBRUARI, HAL. 6; UJI EMISI MULAI SABTU INI, REPUBLIKA, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 6

HEKTARAN SAWAH RUSAK : BENCANA AKIBAT AKUMULASI LINGKUNGAN
Meski di berbagai kawasan banjir sudah menyurut, laporan kerusakan sebagai dampaknya terus bertambah. Di Jawa Tengah total areal sawah yang terendam air 10.919 hektar dan yang kemudian menjadi puso 3.805 ha. Padahal, banyak tanaman padi yang sudah siap panen.Meluasnya bencana banjir dan longsor menurut pakar lingkungan, Otto Soemarwoto, sebagai akumulasi kerusakan ekosistem akibat konversi lahan yang berlangsung puluhan tahun.Selama ini alih fungsi lahan atas nama kebutuhan rumah tinggal serta pertumbuhan ekonomi telah mengalahkan faktor- faktor jasa lingkungan…..BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 27

MENJAGA EKOLOGI SETELAH TSUNAMI : ENAM DAERAH ALIRAN SUNGAI DI ACEH RUSAK. SEBANYAK 64 RIBU HEKTARE SAWAH RUSAK
Kami seperti anak tiri yang luput dari perhatian pemerintah,” tutur Imatuttin Abbas. seorang korban tsunami di Pulau Nasi, Kecamatan Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Imatuttin masih terpuruk di barak pengungsi setahun setelah petaka 26 Desember 2004………..BACA SELENGKAPNYA, REPUBLIKA, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 27

LONGSOR LAGI, DUA RUMAH DI GOWA AMBRUK
Bencana alam tanah longsor kembali melanda Kecamatan Parangloe, Kabupaten gowa. Longsoran tanah dan areal perbukitan di Desa Loloboko, Kecamatan Parangloe yang mengakibatkan dua rumah warga ambruk terjadi kemarin dan hari sekitar pukul 00.30 WITA………BACA SELENGKAPNYA, SEPUTAR INDONESIA, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 11

BANJIR MASIH MENGEPUNG: PANEN RAYA PADI DAN TAMBAK TERGANGGU
Ribuan rumah warga di Malang Raya, terendam air. Itu setelah hujan lebat selama dua hari terakhir kemarin, mengguyur Kota Malang dan Batu serta Kabupaten Malang, Jawa Timur……….BACA SELENGKAPNYA, REPUBLIKA, RABU 1 FEBRUARI 2006, HAL. 23


Sumber :

KBUA Perpustakaan “EMIL SALIM”
Kementerian Negara Lingkungan Hidup