KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

KASUS PENCEMARAN PANTAI BALIKPAPAN BELUM TERUNGKAP
Kasus pencemaran Pantai Balikpapan tahun 2002, 2003, dan terakhir 25 Juni 2004 yang disebabkan limbah minyak hingga kini belum terungkap, baik sumber pencemar maupun pelakunya. Tumpukan kerak minyak atau sludge berwarna hitam yang mirip gumpalan aspal sebanyak 300 ton hingga kini masih dikubur dalam karung-karung plastik di Pantai Balikpapan. Menurut Muhammad Yunus, Kepala Bidang Penanganan Kontaminasi Sumber Non-institusi, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, jika serius menyelidikinya, sumber pencemar maupun pelakunya bisa diselidiki karena sangat sedikit perusahaan yang terlibat dalam pengolahan minyak………BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SENIN 14 OKTOBER 2005, HAL. 24

WARGA MAKIN TERGANTUNG HASIL HUTAN : SEBAGIAN KEARIFAN LOKAL BERTAHAN

Untuk menopang ekonominya, kini semakin banyak warga pedalaman Kalimantan Timur yang bergantung pada penebangan kayu dari hutan di sekitar mereka. Namun, di sebagian kawasan lainnya, masyarakat justru menjaga kawasan karena sadar akan ketergantungan mereka pada hutan. Menurut Achmad SJA, aktivis Lembaga Padi Indonesia, Minggu (13/11), dari pengalamannya membuat sejumlah film mengenai kehidupan warga di pedalaman Kaltim, misalnya di Teluk Sumbang, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, banyak warga pedalaman beralih dari sebelumnya pengumpul hasil hutan non- kayu menjadi penebang kayu……..BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SENIN 14 OKTOBER 2005, HAL. 23

PUSAT DIMINTA BANTU TANJUNG PUTING HANYA DIAWASI 12 POLISI HUTAN. “INI MUSTAHIL”
Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang meminta pemerintah pusat memberikan perhatian lebih serius terhadap Taman Nasional Tanjung Puting yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat. Dengan memberikan bantuan, baik dana maupun peralatan, seperti helikopter dan kapal cepat………BACA SELENGKAPNYA, KORAN TEMPO, SENIN 14 NOVEMBER 2005, HAL. A11

LAHAN KRITIS DI KALIMANTAN TENGAH 4,3 JUTA HEKTARE : DILUAR HPH BELUM TERDAFTAR
Lahan kritis di Kalimantan Tengah sedikitnya mencapai 4,3 juta hektar. Ini lebih luas dibandingkan lahan kritis di Provinsi Jawa Tengah yang 3,2 juta hektar. Kritisnya lahan dicirikan hilangnya fungsi lahan menjaga ketersediaan air dan menipisnya habitat alami bagi hewan dan tumbuhan. Menurut Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalteng Nordin berdasarkan citra satelit, lahan kritis tersebut sebagian besar berada di kawasan yang mestinya hutan alam. Adapun berdasarkan pendataan fisik di lapangan, lahan kritis tersebut terdiri dari sekitar 2,8 juta hektar di kawasan hutan dan 1,5 juta hektar berada di luar kawasan hutan………BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SABTU 12 OKTOBER 2005, HAL. 24

PENYELAMATAN BADAK DITENTANG AKTIVIS LINGKUNGAN
Penyelamatan badak liar bercula dua (Dicerorhinus Sumatrensis) berusia sekitar lima tahun dari areal hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Lampung Barat yang kini menjadi ‘jinak’, ke kawasan Suaka Rhino Sumatera di Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur, ditentang sebagian aktivis lingkungan setempat………BACA SELENGKAPNYA, REPUBLIKA, SENIN 14 NOVEMBER 2005, HAL. 20

ILLEGAL LOGGING : PENYELUNDUPAN KAYU RUGIKAN RP.490 MILIAR
Praktik penyelundupan kayu olahan khususnya jenis ramin berkualitas tinggi di kawasan Desa Kuala Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, masih terus berlangsung. Kegiatan ilegal yang sudah berlangsung sejak tahun 2001 ini telah merugikan negara sekitar Rp490 miliar lebih. Menurut Wakil Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Ahmad Zazali kayu berkualitas tinggi tersebut diekspor ke Malaysia dan Singapura. Padahal, menurut Ahmad, Menteri Kehutanan sudah membuat Keputusan Menteri (Kepmen) Kehutanan No 127/Kpts V/2001 tentang Moratorium Ramin, perihal pelarangan penebangan, pengolahan, dan pengangkutan kayu ramin…….BACA SELENGKAPNYA, MEDIA INDONESIA, SABTU 12 OKTOBER 2005, HAL. 6

PUTING BELIUNG RUSAK RATUSAN RUMAH DI INDRAMAYU
Bencana angin puting beliung, Jumat (11/11) malam, mengamuk di Kabupaten Indramayu, Jabar. Peristiwa itu menyebabkan ribuan pohon tumbang dan antene Tv tumbang, sementara belasan rumah termasuk wartel dan atap Stadion Tridaya Indramayu rusak berat………BACA SELENGKAPNYA, REPUBLIKA, SENIN 14 NOVEMBER 2005, HAL. 21

PELAKU PEMBALAKAN HINDARI PETUGAS TUTUP USAHA SELURUH SAWMILL YANG ADA DI SEKITAR LOKASI HUTAN
Para pelaku penebangan kayu secara liar dan perambahan di kawasan hutan di Kabupaten Lampung Barat terutama pada kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dipergoki melakukan ‘kucing-kucingan’ dengan petugas terkait yang melakukan patroli pengamanan hutan disana………BACA SELENGKAPNYA, REPUBLIKA, SENIN 14 NOVEMBER 2005, HAL. 21

PERLU PENGUATAN LEMBAGA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Perlunya penguatan pada kelembagaan yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan penyelamatan aset alam, kembali diserukan sejumlah pihak, sebagai salah satu upaya pengentasan kemiskinan dan pemerataan pembangunan. Meskipun Indonesia sudah menyampaikan komitmennya pada pembangunan berkelanjutan saat menghadiri KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg, Afrika Selatan, 2002 lalu, namun hingga kini dinilai belum ada implementasinya. Untuk itu, pemerintah saat ini perlu kembali diingatkan untuk merealisasikan program-program pembangunan berkelanjutan pada semua kebijakannya……..BACA SELENGKAPNYA, SUARA PEMBARUAN, , SABTU 12 OKTOBER 2005, HAL. 15

PEMERINTAH DINILAI TAK MILIKI RENCANA JELAS MENGELOLA ASET ALAM
Pengamat ekonomi, Faisal Basri, menilai pemerintah tidak memiliki rencana, organisasi, dan orang-orang yang tepat, alam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang dimiliki bangsa Indonesia, sehingga saat ini banyak sumber daya alam yang tergadaikan untuk pemerintah asing. Menurut Faisal Basri tiga kekurangan utama kinerja pemerintah saat ini adalah mereka tidak memiliki rencana (time table) yang jelas, tidak memiliki sistem organisasi yang baik, ditambah lagi terdapat beberapa personelnya yang tidak kapabel. Hal ini menjadikan seluruh penyelenggaraan negara di semua sektor tidak beres, baik dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan……..BACA SELENGKAPNYA, SUARA PEMBARUAN, , SABTU 12 OKTOBER 2005, HAL. 15

Sumber:
KBUA Perpusatakaan “Emil Salim”
Kementerian Negara Lingkungan Hidup