KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

RIBUAN WARGA TOLAK PERKEBUNAN SAWIT : MINTA PRESIDEN MENINJAU KEMBALI
Sebanyak 1.565 warga Kecamatan Seruyan Tengah dan Seruyan Hulu, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, menolak pembukaan dan perluasan perkebunan sawit di wilayahnya. Mereka meminta sejumlah menteri meninjau kembali pemberian izin tersebut.Menegaskan penolakannya, warga telah mengirim surat penolakan kepada Presiden RI dan lembaga tertinggi serta tinggi negara, Gubernur Kalteng dan Ketua DPRD Kalteng, Bupati Seruyan dan Ketua DPRD Seruyan, dinas-dinas terkait, dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalteng……….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 16 NOPEMBER 2005, HAL. 24

KORBAN TPA LEUWIGAJAH HIDUP MERANA : PEMERINTAH BELUM BERIKAN GANTI RUGI
Warga Kampung Cilimus, Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung, yang menjadi korban longsornya Tempat Penampungan Akhir Leuwigajah pada Februari 2005 hingga kini terlunta-lunta. Mereka belum mendapat ganti rugi atas tanah dan bangunan yang ditinggalkan. Warga Kampung Cilimus yang diminta pergi dari lokasi bencana, saat itu hanya diberi uang Rp 1 juta. Uang sejumlah itu hanya bisa untuk mengontrak satu petak rumah selama enam bulan………..BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, RABU 16 NOPEMBER 2005, HAL. 25

JAWA DAN MADURA KRISIS AIR BERSIH : TERJEBAK FAKTOR EKONOMI SEMATA
Pulau Jawa dan Madura, kini menghadapi ancaman krisis suplai air bersih, karena penggunaannya melebihi seperempat pasokan tahunan. Di Bali, Lampung, Sumatra Utara, serta Sulawesi Selatan juga menghadapi ancaman serupa. Selain turunnya kapasitas resapan air hujan, krisis air itu terjadi akibat eksploitasi besar-besaran atas sumber daya air. Air hujan tidak dapat meresap secara optimal ke dalam tanah melainkan langsung ke laut. Penyebabnya yang paling utama ialah penggundulan hutan, serta berubahnya peruntukan kawasan resapan air menjadi lokasi aktivitas penduduk…….BACA SELENGKAPNYA, MEDIA INDONESIA, RABU 16 NOPEMBER 2005, HAL. 24

WATER FRONT CITY SEKADAR MIMPI
Menjadikan tepian Sungai Siak sebuah kawasan water front City (kota menghadap perairan) ternyata masih sebatas perencanaan yang tak berujung. Selain butuh biaya triliunan rupiah, hingga kini investor enggan melirik kawasan tersebut. Seiring peralihan ekonomi dan perdagangan dari laut ke darat atau tepatnya di era 80-an, sentral perdagangan dan ekonomi yang dulunya berada di Senapelan berangsur-angsur menjorok ke darat. Kejayaan Sungai Siak pun beralih layaknya kota yang tak berpenghuni. Hanya dalam rentang waktu 15 tahun, kawasan di sepanjang pinggiran Sungai Siak nyaris sama sekali luput dari perhatian pemerintah Pekanbaru…….BACA SELENGKAPNYA, MEDIA INDONESIA, RABU 16 NOPEMBER 2005, HAL.9

DANA KHUSUS LINGKUNGAN HIDUP DIKUCURKAN 2006
Kementerian Negara Lingkungan Hidup akan mengucurkan dana alokasi khusus (DAK) untuk lingkungan hidup ke tingkat kabupaten/kota mulai 2006 dengan nilai sekitar Rp 300 juta untuk setiap kabupaten/kota. Menurut Sekretaris Menteri Negara Lingkungan Hidup Arief Yuwono penyaluran DAK dilakukan untuk membantu daerah agar bisa menyelenggarakan standar pelayanan minimal. Dana yang dikucurkan itu diharapkan dapat menjadi stimulus untuk meningkatkan komitmen semua pemerintah daerah dan masyarakat untuk peduli pada kelestarian lingkungan…….BACA SELENGKAPNYA, SUARA PEMBARUAN, SELASA 15 NOPEMBER 2005, HAL. 15

PEMUDA DIHARAPKAN JADI PENGAWAS LINGKUNGAN
Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault meminta para pemuda berperan aktif dalam melakukan pengawasan dan pelestarian lingkungan hidup. Alasan Menteri meminta peran serta pemuda dalam mengawasi lingkungan karena ada sinyalemen rusaknya lingkungan tidak terlepas dari bobroknya aparat dan sistem pengawasan. Karenanya, peran pemuda menjadi sangat penting sebagai pengawas bagi para oknum aparat maupun pengusaha nakal, supaya tidak semena-mena melakukan perusakan lingkungan di daerah-daerah…….BACA SELENGKAPNYA, SUARA PEMBARUAN, SELASA 15 NOPEMBER 2005, HAL. 15

KALANGAN LINGKUNGAN HIDUP MENERIMA ANCAMAN PEMBUNUHAN
Wahana lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) melaporkan ancaman yang diterima kepada Polisi dan Menteri Kehutanan sehubungan dengan kegiatannya dalam menyelidiki penebangan liar di Aceh. Menurut Direktur WALHI Chalid Muhammad sejumlah orang yang tidak dikenal telah mengancam anggota WALHI untuk segera meninggalkan Kutacane Aceh Tenggara dan ancaman itu bertujuan untuk mencegah WALHI menyelidiki aktor intelektual atau dalang di belakang pembalakan liar di Kutacane dan Taman Nasional Leuser………BACA SELENGKAPNYA, THE JAKARTA POST, RABU 16 NOPEMBER 2005, HAL. 4

TELUK AMBON MAKIN TERCEMAR
Pencemaran di Teluk Ambon saat ini sudah sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya sampah yang mengapung di teluk, dan terjadinya kerusakan di kawasan pesisir. Pernyataan tersebut dibacakan oleh Christianto Sugiono dalam acara Gerakan Bersih Lingkungan, Pantai dan Teluk Ambon dalm rangka hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2005, serta hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang dipusatkan Lantamal VIII Ambon, Selasa (15/11)………..BACA SELENGKAPNYA, REPUBLIKA, RABU 16 NOPEMBER 2005, HAL. 3

BERUANG MADU DAN KAKATUA JAMBUL KUNING DIAMANKAN PETUGAS SATWA LIAR
Sebuah tim yang tergabung dalam Operasi Fungsional dan Penyelamatan satwa liar, berhasil menyita dan mengamankan sejumlah satwa liar yang dilindungi. Satwa tersebut adalah seekor beruang madu berumur kurang lebih satu tahun dan dua ekor burung kakatua jambul kuning…………BACA SELENGKAPNYA, REPUBLIKA, RABU 16 NOPEMBER 2005, HAL. 3

PEMKOT UNDUR PENUTUPAN TPA LIAR
Rencana penutupan tempat pembuangan sampah akhir (TPA) liar di Beji yang sebelumnya dijanjikan Selasa (15/11), ternyata diundur lagi. Padahal, sesuai surat keputusan yang dikeluarkan Plt Walikota pada 11 Agustus lalu, seharusnya, TPA tersebut ditutup pada 11 November lalu…………BACA SELENGKAPNYA, REPUBLIKA, RABU 16 NOPEMBER 2005, HAL. 7 (KALAM)

Sumber:
KBUA Perpustakaan “Emil Salim”
Kementerian Negara Lingkungan Hidup