KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

ETANOL GANTIKAN TIMBEL, HEMAT DEVISA RP.20 TRILIUN
Etanol yang mengandung alkohol 99,9 persen dapat berfungsi meningkatkan angka oktan seperti timbel. Namun penggunaannya memberikan beberapa keuntungan. Selain tergolong sebagai bahan bakar bersih karena tidak mengeluarkan emisi gas beracun, harganya juga jauh lebih murah dibandingkan bensin bertimbel. Penghematan devisa nasional yang bisa dicapai per tahunnya lebih dari Rp 20 triliun. Menurut Ahmad Safrudin, Ketua KPBB (Komite Penghapusan Bensin Bertimbel) pihaknya mendesak pemerintah segera memberlakukan penggunaan etanol secara nasional untuk mengatasi krisis BBM dan menerapkan kebijakan menghapus bensin bertimbel……….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SENIN 3 SEPTEMBER 2005, HAL. 13

PLTA POIGAR TUNGGU IZIN PENGALIHAN HUTAN
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air Poigar di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, berdaya 32 megawatt belum bisa dilaksanakan. Hal ini terjadi karena untuk membangun kawasan itu masih harus menunggu izin pengalihan hutan seluas 72 hektar dari Departemen Kehutanan. Menurut Direktur Pelaksana Pembangunan Proyek Kelistrikan PLN Wilayah Timur Achmad Siang, PLN sudah siap menginvestasikan dana untuk pembangunan PLTA Poigar, namun cepat atau tidaknya tergantung turunnya pengalihan hak penggunaan hutan di wilayah Poigar………BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SENIN 3 SEPTEMBER 2005, HAL. 24

BANTENG KALIMANTAN TERNYATA BELUM PUNAH : JADIKAN BELANTIKAN HULU SEBAGAI KAWASAN KONSERVASI
Banteng Kalimantan yang dikhawatirkan sudah punah ternyata masih ada. Kepastian ini diperoleh Tim Peneliti Yayasan Orangutan Indonesia yang menemukan tapak dan feses atau kotoran banteng di kawasan hutan di hulu Sungai Belantikan, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.Penelitian tim Yayorin menemukan tingkat pertemuan banteng di lokasi penelitian cukup kecil, yaitu sebesar 0,17 jejak per kilometer (km). Sebagai bandingan, tingkat perjumpaan jejak beruang madu di lokasi penelitian setempat 2,13 jejak per km………BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, SENIN 3 SEPTEMBER 2005, HAL. 24

LONGSOR MEMBAYANGI TATAR SUNDA
Hujan deras mengguyur sejumlah daerah di Jawa Barat sejak dua minggu lalu. Tetapi, guyuran air dari langit yang seharusnya menjadi berkah setiap saat, apalagi di ujung musim kemarau, ternyata bisa berbalik menjadi bencana tanah longsor.Bencana itu datang akibat ulah manusia sendiri yang rakus sehingga menyebabkan kerusakan alam. Menurut pakar lingkungan dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda S Sobirin, bencana tanah longsor akan sering terjadi di Jawa Barat (Jabar) karena rehabilitasi kawasan lindung yang tidak berjalan semestinya……BACA SELENGKAPNYA, MEDIA INDONESIA, SABTU 1 OKTOBER 2005, HAL. 9

KONVERSI LAHAN DITOLAK
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalimantan Tengah menolak rencana tegas Pemerintah Kabupaten Seruyan melakukan konversi lahan di sekitar zona penyangga Taman Nasional Tanjung Puting untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Sebagai pembatas, di antara dua lokasi ini akan dibuat jalan tembus……BACA SELENGKAPNYA, KORAN TEMPO, SENIN 3 SEPTEMBER 2005, HAL. A10

SINAR MATAHARI, OZON, DAN KEHIDUPAN DI BUMI
Pemerintah Indonesia perlu di ingatkan untuk menjaga pembangunan bekelanjutan agar dapat memenuhi target terbebas dari pemanfaatan bahan perusak ozon (BPO), seperti senyawa kimia CFC (Clorofluoro Carbon) pada tahun 2010 mendatang. Hal itu dikatakan mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof Dr Emil Salim kepada Pembaruan setelah mengikuti lokakarya bertema “20 tahun Konvensi Wina dan Pelaksanaanya di Indonesia “”yang dilaksanakan di Hotel Borobudur, belum lama ini. Saat ini hampir semua negara sudah meratifikasi Konvensi-Konvensi Lingkungan Hidup, seperti Vienna Convention(1985) dan Montreal Protocol(1987). kecuali sembilan negara yang baru berdiri, seperti Timor Leste, Eritrea, dan Holy Sea. Pada Kesempatan itu EmiL juga mengingatkan, perhatian dunia terhadap BPO kini semakin meningkat dengan adanya dugaan kerusakan lapisan ozon di atas Kutub Selatan dan Antartika…… BACA SELENGKAPNYA, SUARA PEMBAHARUAN MINGGU, 2 OKTOBER 2005, HAL 19

Sumber
KBUA Perpustakaan Emil Salim
Kementerian Negara Lingkungan Hidup