KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

BENSIN TANPA TIMBEL DITERAPKAN AKHIR TAHUN
Kementerian Lingkungan Hidup mendesak Pertamina untuk menerapkan bensin tanpa timbel (timah hitam) di seluruh Indonesia akhir tahun ini. Menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar , pihaknya dan beberapa lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan telah sepakat untuk memberi waktu kepada Pertamina untuk harus sudah memproduksi bensin tanpa timbal pada akhir tahun ini.Pemberian batas waktu tiga bulan ini dikarenakan keterbatasan kemampuan Pertamina untuk memproduksi bensin tanpa timbel. Menurut Rachmat Witoelar Pertamina hanya mampu memproduksi bensin tanpa timbel di kilang Balongan ……..BACA SELENGKAPNYA, MEDIA INDONESIA , JUMAT 7 OKTOBER 2005, HAL.24

HUTAN GAMBUT TERANCAM KANAL BUATAN
Ribuan kanal atau saluran air buatan yang membelah lahan gambut di Kalimantan Tengah berpotensi menguras air sehingga membahayakan kelestarian hutan gambut. Selain terdapat 4.500 kilometer kanal bekas Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar, banyak masyarakat yang juga membuat kanal buatan.Berdasarkan pemantauan Kamis (6/10), kanal buatan ini dibangun untuk pengairan dan transportasi air menuju ke pedalaman lahan gambut. Namun, sekarang kanal buatan ini digunakan untuk menghanyutkan kayu hasil penebangan liar ke luar………BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, JUMAT 7 OKTOBER 2005, HAL.24

KEGIATAN GALIAN C LIAR DI SULAWESI SELATAN HARUS MULAI DITATA
Penambangan bahan galian C yang dilakukan secara liar di Sulawesi Selatan harus mulai ditata. Selama ini penambangan liar yang terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota di Sulsel telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup parah karena dilakukan secara asal dengan sistem ladang berpindah. Menurut Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sulawesi Selatan Sampara Salman, Penambangan bahan galian C dapat dilakukan di mana-mana karena bahan galian tersebut laku dijual kepada industri. Hanya saja, karena ongkos transportasinya lebih mahal daripada harga jualnya, umumnya penambangan liar tersebut dilakukan mengikuti proyek-proyek pembangunan…….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, JUMAT 7 OKTOBER 2005, HAL.24

4.3 JUTA HEKTARE LAHAN UNTUK SAWIT TERLANTAR
Sekitar 4,3 juta hektar alokasi lahan untuk perkebunan kelapa sawit di Pulau Kalimantan saat ini dibiarkan telantar. Hingga tahun 2005 sebenarnya telah dikeluarkan izin untuk perkebunan kelapa sawit seluas 5,8 juta hektar, tetapi baru sekitar 1,5 juta hektar yang telah ditanami. Menurut Koordinator Sawit Watch, Rudi Ready Lemuru permasalahannya, lahan-lahan yang telah dialokasikan sebagai kebun sawit telah ditebangi dan diambil kayunya, tetapi tidak kunjung ditanami sawit. Ini jelas sekadar proses perusakan hutan…….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, JUMAT 7 OKTOBER 2005, HAL.24

SUNGAI KANDILO TERCEMAR
Sungai Kandilo di Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur, kini tercemar limbah batu bara. Akibatnya, ribuan warga yang tinggal di tepian sungai dan biasa menggunakan air sungai untuk minum, memasak, mandi dan mencuci menjadi terancam.Menurut sejumlah warga dan nelayan yang tinggal di tepi sungai, akibat pencemaran tersebut sekarang sangat sulit menemukan ikan di sungai. Begitu pun air sungai kini tidak jernih lagi. Menurut Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kaltim Burhanuddin Zain, pihaknya segera menurunkan tim untuk melakukan penelitian lingkungan terhadap kondisi Sungai Kandilo……….BACA SELENGKAPNYA, KOMPAS, JUMAT 7 OKTOBER 2005, HAL.24

MENGIBAS UDARA BERTIMBEL ANAK-ANAK YANG PALING MENDERITA KARENA PARU-PARUNYA BELUM BERKEMBANG SEMPURNA
Sekilas Adi (bukan nama sebenarnya) tampak sehat. Tidak kurus, tidak juga gemuk. Tingginya juga sesuai dengan anak seumurnya. Anak kelas IV SD Batan Indah itu tampak riang bermain dengan teman-temannya. Namun dibalik kecerian itu, ada kabar yang kurang baik. Berdasarkan penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) di wilayah Serpong itu, darah Adi mengandung timbel 7 mg/dl (mikrogram per desiliter). ……….BACA SELENGKAPNYA, KORAN TEMPO, JUMAT 7 OKTOBER 2005, HAL. C9

Sumber:
KBUA Perpustakaan Emil Salim
Kementerian Negara Lingkungan Hidup