KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Hari Ozon Internasional, 16 September 2008

Assalamualaikum Wr. Wb,
Selamat pagi dan salam sejahtera kami sampaikan kepada Bapak/Ibu seluruh peserta diskusi hari ini. Pertemuan yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Ozon Internasional 2008 ini diharapkan dapat menjadi forum yang bermanfaat bagi kita semua serta mendorong seluruh pihak untuk terus melanjutkan tugas dan tanggung-jawab kita dalam upaya pemulihan kondisi ozon yang rusak akibat penggunan dan pelepasan Bahan Perusak Ozon ke lingkungan atmosfir.

Bapak/Ibu dan Hadirin yang berbahagia,
Protokol Montreal yang telah diimplementasikan dan dilaksanakan oleh seluruh negara pihak selama 21 tahun, merupakan salah satu perjanjian lingkungan internasional yang dinilai paling berhasil diantara sejumlah peraturan internasional lainnya. Kemajuan yang dicapai dapat terwujud dengan adanya komitmen penuh dari seluruh negara pihak untuk mengendalikan produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozon. Komitmen tersebut terutama diwujudkan dalam bentuk penyediaan bantuan teknis dan bantuan pendanaan dari negara maju sebagai penghasil utama BPO kepada negara berkembang, sehingga target penghapusan BPO yang tertuang dalam Protokol Montreal bisa tercapai sesuai jadwal yang ditentukan.

Bapak dan Ibu yang Saya Hormati,
Pelaksanaan Protokol Montreal di Indonesia sendiri telah berjalan selama 16 tahun, yaitu sejak Indonesia meratifikasi Konvensi Wina dan Protokol Montreal pada tahun 1992. Dalam kurun waktu tersebut, Indonesia telah mencapai kemajuan yang cukup berarti. Sampai tahun 2008 ini, Indonesia sudah menghentikan impor 5 kelompok BPO yaitu jenis Halon, Carbon Tetraklorida, Methyl Chloroform, CFC dan MBr untuk fumigasi pergudangan. Penghentian impor BPO dilakukan setelah kegiatan alih teknologi di industri pengguna dilaksanakan secara intensif dengan mengoptimalkan bantuan pendanaan yang tersedia bagi negara berkembang.  Sejalan dengan kegiatan alih teknologi, upaya pengambilan kembali (recovery) dan daur ulang CFC dan Halon yang tersimpan dalam sistem pendingin dan sistem pemadam kebakaran perlu terus ditingkatkan untuk meminimalkan praktek-praktek pembuangan BPO ke udara bebas. Melalui dua pendekatan tersebut, kita saat ini telah berhasil mengurangi lebih dari 9000 metrik ton BPO yang awalnya digunakan di berbagai sektor kegiatan industri dan domestik di Indonesia.

Hadirin yang berbahagia,
Hasil yang telah dicapai Indonesia, bukan menjadi akhir dari program perlindungan lapisan ozon. Masih banyak tantangan yang dihadapi di lapangan seperti misalnya pengendalian impor ilegal BPO, pemasukan peralatan bekas yang mengandung BPO, peredaran BPO yang dikemas dalam tabung dengan label non-BPO, serta penanganan BPO bekas yang sudah tidak dapat didaur-ulang atau direklamasi. Selain itu, perlu juga dicermati penanganan CFC dan Halon yang saat ini masih tersimpan dalam sistem pendingin dan pemadam kebakaran terpasang. BPO dalam sistem terpasang harus diambil kembali atau direcovery untuk kemudian didaur ulang, direklamasi atau dimusnahkan dengan tata cara yang memenuhi persyaratan teknis. Biaya yang timbul untuk menangani BPO bekas, adalah harga yang harus dibayar oleh seluruh pengguna BPO untuk memulihkan kondisi lapisan ozon. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka biaya yang harus dibayar oleh masyarakat akibat meningkatnya kasus-kasus katarak mata, kanker kulit, kepunahan plankton, kekerdilan tanaman, dan dampak negatif lainnya tentunya akan menjadi sangat besar dan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan jika kita melakukan penanganan BPO bekas. Dalam hal ini saya ingin menghimbau kesadaran seluruh pihak untuk dengan sukarela dan sadar mengalokasikan biaya perlindungan dan perbaikan fungsi lingkungan, karena manfaat yang akan diperoleh tidak hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk seluruh kehidupan di bumi, saat ini dan masa yang akan datang.

Bapak dan Ibu yang Saya Hormati,
Tantangan lain yang akan kita hadapi dalam waktu dekat adalah penghapusan HCFC, dimana Indonesia dan seluruh negara berkembang lainnya harus menetapkan base-line konsumsi HCFC berdasarkan konsumsi rata-rata tahun 2009 dan 2010.  Oleh karena itu penting bagi Indonesia untuk mempunyai data pemasukan impor seluruh jenis HCFC secara akurat pada 2 (dua) tahun mendatang. Saya mengharapkan kerjasama yang baik dari seluruh pelaku kegiatan, baik importir, distributor, maupun perusahaan pengguna HCFC, untuk menyampaikan informasi rinci mengenai jumlah dan jenis HCFC yang masuk ke Indonesia dan jenis industri pengguna HCFC. Pengalaman yang kita alami saat melakukan program penghapusan BPO pada tahap sebelumnya, memberikan pembelajaran betapa pentingnya ketersediaan data impor dan penggunaan BPO yang akurat, agar program penghapusan BPO dapat berjalan lancar dan tidak merugikan pelaku usaha. Dalam waktu dekat, Pemerintah sudah harus menyusun dokumen Rencana Pengelolaan Penghapusan HCFC (HCFC Phase-out Management Plan) yang akan menjadi acuan resmi nasional dalam melakukan program penghapusan HCFC.

Bapak dan Ibu yang berbahagia,
Saya cukupkan sambutan saya pada acara pembukaan diskusi hari ini. Mudah-mudahan hasil diskusi yang akan dilakukan pada 3 sesi setelah ini, akan memperkaya pemahaman kita semua dan menjadi bekal yang bermanfaat dalam melanjutkan kegiatan perlindungan lapisan ozon di Indonesia. Penghargaan dan ucapan terimakasih saya sampaikan kepada seluruh instansi pemerintah di tingkat pusat dan daerah, yang telah aktif melaksanakan program perlindungan lapisan ozon sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing instansi. Selain itu, penghargaan juga saya sampaikan kepada perusahaan importir ataupun pengguna BPO, anggota Komisi Pengarah dan Tim Teknis Perlindungan Lapisan Ozon, serta Implementing Agency yang senantiasa mendukung pelaksanaan program perlindungan lapisan ozon dan penghapusan BPO di Indonesia.

Selamat berdiskusi dan selamat Hari Ozon 2008. Dengan mengucapkan bismilahirrohmanirohim acara pada hari ini resmi saya buka.
  
  Jakarta, 16 September 2008
  
Dra. Masnellyarti Hilman, MSc