KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam sejahtera bagi kita semua

Yang terhormat,
Para undangan dan segenap peserta yang berbahagia,

Terlebih dahulu mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul bersama dalam keadaan sehat walafiat dalam rangka acara pemaparan Pemantauan Kualitas Bahan Bakar Bensin dan Solar di 10 Kota Besar di Indonesia. Pada kesempatan ini kami sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada segenap pihak yang telah memprakarsai penyelenggaraan kegiatan ini yang ditunjukan terutama kepada kota-kota dalam rangka meningkatkan kualitas udara yang berdampak terhadap kesehatan warganya.

Bapak-bapak ibu-ibu, peserta undangan yang saya hormati,

Penurunan kualitas udara sebagai dampak negatif dari emisi kendaraan bermotor saat ini secara nyata dirasakan oleh sebagian besar warga masyarakat perkotaan terutama dampak kesehatan disamping dampak kenyamanan dan menurunnya citra kota di mata dunia. Menurunnya kualitas udara tersebut terjadi dengan adanya berbagai polutan pencemar udara yang melampaui baku mutu ambient, salah satunya adalah timbal (Pb). Dampak kesehatan dari timbal di dalam bahan bakar bensin sudah banyak diketahui terutama penyakit hipertensi, jantung koroner dan khususnya penurunan IQ pada anak balita.

Pencemaran udara dari kendaraan bermotor menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Bank Dunia menghitung bahwa kerugian akibat bensin bertimbal di Indonesia mencapai US $62 juta dollar pada tahun 1990 saja sedangkan pada kurun waktu 1995 – 2000 kerugian yang harus ditanggung apabila tidak dilakukannya penghapusan bensin bertimbal adalah sebesar US $548 juta. Perhitungan tersebut belum memperhitungkan dampak kesehatan dari pencemaran gas buang lainnya dari kendaraan bermotor dikarenakan tidak dilengkapi catalytic converter disamping akan kehilangan daya saing produk-produk nasional karena tidak mampu untuk memenuhi standar internasional.

Hadirin yang saya hormati,

Hingga saat ini penggunaan bensin tanpa timbal di dunia sudah mencapai 80%. Untuk kawasan Asia, Indonesia merupakan negara yang tertinggal dalam pemberlakuan penggunaan bensin tanpa timbal dibandingkan dengan negara tetangga Asia. Keterkaitan kualitas bahan bakar kendaraan bermotor sangat berpengaruh terhadap perkembangan teknologi mesin kendaraan bermotor di masa mendatang. Dengan adanya upaya untuk mengharmonisasi standar emisi kendaraan bermotor di kawasan Asia Pasifik dan dunia saat ini, maka kehadiran bensin bertimbal menjadi hambatan bagi industri otomotif nasional untuk mengembangkan teknologi kendaraan ramah lingkungan dan bersaing di pasaran bebas.

Menyikapi tersebut, pemerintah telah sejak lama berupaya untuk menghapuskan senyawa timbal dalam bensin sejak tahun 1996. Namun program ini terhambat dengan terjadinya berbagai peristiwa nasional lainnya seperti asap dan krisis moneter tahun 1997-1998, sehingga baru pada bulan Oktober 1999 ditetapkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi RI Nomor 1585 Tahun 1999 yang mempersyaratkan dihapuskannya timbal dalam bensin pada tanggal 1 Januari 2003. Pada bulan Agustus 2002, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan penundaan penghapusan timbal dalam bahan bakar bensin hingga Tahun 2005 dikarenakan terhambatnya modifikasi kilang Pertamina yang dapat menghasilkan bensin tanpa timbal tersebut.

Sejalan dengan hal tersebut diatas KLH mengeluarkan Keputusan Menteri Nomor 141 Tahun 2003 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru dan Kendaraan Bermotor yang Sedang Diproduksi (Current Production) dengan mengacu kepada standar emisi kendaraan EURO II yang mempersyaratkan adanya bensin tanpa timbal dan solar berkadar sulfur rendah (dibawah 500 ppm).

Bapak dan ibu peserta undangan yang saya hormati,

Untuk tetap mendapatkan data yang valid tentang kualitas udara di kota-kota besar, perlu dilakukan pemantauan terhadap kualitas bahan bakar kendaraan bermotor. Pemantauan terhadap kualitas bahan bakar bensin maupun solar secara berkesinambungan, bertujuan tidak lain adalah untuk mengajak pihak produsen bahan bakar untuk terus mempertahankan konsistensinya dalam upaya menghadirkan kualitas bahan bakar yang lebih baik dan ramah lingkungan. Situasi dimana dengan adanya kenaikan harga BBM akhir-akhir ini tentu harusnya dibarengi dengan upaya Saudara untuk menghasilkan bahan bakar yang lebih bermutu. Dengan adanya bahan bakar bersih akan terbuka peluang untuk lebih meningkatkan kualitas udara dibarengi dengan momentum yang diciptakan dunia industri untuk terus melakukan upaya peningkatan teknologi produksi kendaraan bermotor sehingga dapat menciptakan kendaraan yang ramah lingkungan.

Bapak dan ibu yang saya hormati,

Pada kesempatan ini, kami mengingatkan kembali semua pihak, terutama ESDM dan Pertamina untuk terus mendukung diterapkannya penggunaan bahan bakar bensin tanpa timbal sebagai tindak lanjut dan langkah nyata atas pencanganan tahun 2005 sebagai Tahun Insonesia Bebas Bensin Bertimbal yang telah disepakati bersama terutama dengan Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, DPR, Pertamina, industri otomotif, pemerintah daerah, dan para stakeholders lainnya. Tidak kurang dukungan internasional pun kita peroleh dalam rangka memperbaiki kualitas udara kita, misalnya gerakan yang diprakarsai oleh UNEP yang secara terus menerus mendukung upaya kita dalam menghapuskan timbal dalam bensin demi penyelamatan anak-anak kita dan generasi mendatang.

Sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas perhatian Saudara.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 22 Nopember 2005
Menteri Negara Lingkungan Hidup,

Rahmat Witoelar