KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA






Dalam beberapa tahun terakhir ini, banyak orang yang hidup di jakarta, hatinya
menjadi kecut apabila mendengar geledek. Saya adalah satu dari orang-orang seperti
itu. Bila hujan datang, kita khawatir. Bila hujan cukup lebat, bila hujan di Bogor
juga lebat, jangan-jangan akan datang banjir. Buat mereka yang hidup di kawasan
peka banjir, ini berarti harus siap-siap menghadapi bencana banjir yang selalu
mengintai. Buat mereka yang kebetulan hidup bukan didaerah peka banjir, ini berarti
jalan macet dan kemungkinan harus berjam-jam menggeluti kemelut kemacetan lalu-lintas
kota.

Keadaan seperti ini bukan hanya dialami oleh warga jakarta. Sebenarnya banyak
dari warga yang hidup diluar Jakarta harus menanggung derita lebih berat. Bencana
banjir diikuti tanah longsor datang merenggut jiwa manusia, merusak rumah tinggal,
menghancurkan sawah, menumbangkan jembatan diberbagai daerah dari Pulau Nias,
Medan, Jambi, berbagai lokasi di jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur, sampai
ke Pulau Flores.

Kemelut ini masih belum cukup rupanya. Air yang sudah sangat terbatas jumlahnya
ini kemudian dicemari oleh limbah industri sehingga dimusim kemarau air bersih
jadi semakin langka. Di musim penghujan, air limbah industri diumbar sehingga
mereka yang kebanjiran – kebanjiran air limbah. Sementara itu udara yang kita
hisap penuh dengan racun. Bensin yang mengandung timah hitam – meracuni manusia
penghuni kota-kota, menggerogoti IQ anak-anak balita.

Tragedi ini terjadi karena perbuatan saudara0saudara kita juga. Tragedi ini
sebenarnya dapat dihindari dan tidak usah harus terjadi. Banjir, tanah longsor
dan kekeringan terjadi karena pohon-pohon dihutan ditebang; kebakaran hutan
terjadi karena lahan dibuka dengan cara pembakaran; sungai tercemar karena pembuangan
limbah yang sembarangan, demam berdarah berkecamuk karena kubangan air dibiarkan;
sampah menumpuk menimbulkan penyakit karena sampah menumpuk didiamkan.

Diantara kita: ada yang berusaha sepenuh hati menghentikan bencana ini; ada
pula yang sadar tetapi diam; diantara kita banyak yang tidak peduli; juga diantara
kita banyak yang menjadi penyebab bencana ini karena peri-lakunya.

Banyak cara untuk menyelesaikan masalah lingkungan. Ada undang-undang, ada
hakim, ada jaksa, ada polisi. Tapi dapatkah undang-undang ditegakkan tanpa hati
nurani? mampukah hakim, polisi, jaksa, dan rakyat biasa menegakkan hukum tanpa
hati nurani? Hanya dengan hati nurani orang berhenti membuang sampah tidak pada
tempatnya; hanya dengan hati nurani, keadilan dapat ditegakkan.

Hati nurani erat hubungannya dengan kepekaan hati – kepekaan hati sangat dipengaruhi
budaya – budaya adalah telaga-kiprahnya budayawan. maka acara siang ini hanya
punya satu tujuan. kami menghimbau saudara dan saudara agar membuka hati, berperan
dalam usaha mengatasi kemelut lingkungan ini demi sesama saudara kita, terutama
mereka yang berpenghasilan rendah. Kami menghimbau agar saudara dan saudari
menggunakan daya kreativitas dan keberanian, dan dengan menggunakan sembilu
tajam kebudayaan untuk bersama kami mengusahakan pelestarian lingkungan.

Terima Kasih.

Nabiel Makarim, MPA, MSM.
5 Mei 2004