KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Saudara-saudara Menteri,
Saudara Gubernur dan para anggota MUSPIDA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
Hadirin yang saya hormati,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Melalui kesepakatan dalam Konferensi PBB di Johannesburg tahun 2002 yang lalu, bersama-sama banyak anggota PBB lainnya kita meneguhkan komitmen untuk mewujudkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Seperti saya katakan dalam konferensi tersebut, dengan kesepakatan itu, kita saat ini telah membangun mata rantai yang kuat dan sinergis antara pemikiran tentang manusia, pembangunan, dan keserasiannya terutama dengan sumberdaya alam.

Sekarang, satu tahun lebih setelah konferensi dunia tadi, kita berkumpul untuk sebuah kegiatan lanjutan yang bersifat nasional. Saya percaya, di tingkat dunia, dalam banyak segi, elaborasi prinsip-prinsip tadi juga masih memerlukan kesepakatan lanjutan. Kita memiliki pengalaman, betapa prinsip-prinsip tadi juga masih memerlukan kesepakatan lanjutan. Kita memiliki pengalaman, betapa prinsip-prinsip Rio de Janeiro setelah berakhirnya KTT Bumi dahulu juga masih memerlukan panduan bersama yang kemudian dituangkan dalam Agenda 21.

Kita memang tidak perlu berfikir, bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini harus selalu berjalan dengan tahapan dan tatacara yang serupa. Dalam kondisi tertentu, khususnya yang bersifat dasar, urutan seperti itu seringkali tidak terelakkan, atau malah menjadi keharusan. Namun demikian juga merupakan kenyataan, bahwa dalam banyak hal, setelah prinsip-prinsip mengenai satu masalah di tingkat internasional diangkat secara cukup, elaborasi operasional di tingkat nasional secara langsung bukanlah sesuatu yang tidak dimungkinkan.

Saya memahami, beberapa faktor telah memberi pengaruh terhadap proses tercapainya kesepakatan tahun 2002 yang lalu. Keadaan yang sama, mungkin juga akan berlangsung menjelang atau selama pelaksanaan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan di waktu-waktu yang akan datang. Karenanya bukanlah sikap pesimis, bila seperti halnya dalam pelaksanaan kesepakatan-kesepakatan antar bangsa-bangsa di Stockholm dan rio de Janeiro, kita harus bersiap-siap terhadap tampilnya pengaruh beberapa faktor tadi, khususnya yang bertalian dengan akses terhadap sumber-sumber pembiayaan dan sumberdaya alam.

Dengan mencermati kebenaran yang terkandung dalam prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan itu, ataupun pelajaran yang selama ini kita peroleh dari pelaksanaan kesepakatan-kesepakatan internasional yang berbasis pembangunan dan lingkungan pada umumnya, memang tidak ada salahnya –atau bahkan sudah sewajarnya–, bila kita mengambil inisiatif untuk menjabarkan prinsip-prinsip tersebut dalam tataran nasional kita.

Suatu hal perlu kita ingat. Telah cukup banyak waktu dan tenaga yang kita curahkan bagi wacana tentang pembangunan berkelanjutan ini. Kita jelas tidak perlu lagi menambahnya dengan aneka ragam teori dan retorika, karena sejak konferensi persiapan di Bali hingga kesepakatan akhir di Johannerburg, pikiran dan tekad kita telah sama dalam mendukung dan memfasilitasinya. Dalam pengertian saya, mendukung dan meng-gol-kan kesepakatan Johannesburg, dengan pikiran yang bulat kita juga telah bertekad untuk melaksanakannya.

Apa yang saya harapkan dari pertemuan di Yogya ini, dengan demikian adalah elaborasi yang kongrit dari kebulatan pikiran dan tekad kita sendiri. Sekaranglah waktunya kita mengurai dan menjabarkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan tersebut secara terkoordinasi dan terpadu ke dalam program-program yang berkesinambungan di semua bidang dan sektor pembangunan kita. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Lembaga Administrasi Negara yang kita miliki, harus dengan tanggap merangkum semua itu bagi kepentingan pengadministrasian pembangunan kita.

Masalah in saya pandang perlu saya sampaikan, karena walaupun masa pemerintahan yang saat ini saya pimpin akan segera berakhir bulan Oktober nanti, tetapi nafas dan gerak pembangunan akan terus bergulir. Pada saat yang sama, segala kigiatan perencanaan yang harus disusun, sepenuhnya meski dilakukan dengan pertimbangan dan keteguhan hati serta pikiran kita sendiri. Hal ini sungguh-sungguh saya mintakan perhatian, karena setidaknya untuk tahun 2005 nanti, kemungkinan kita belum akan memiliki Program Pembangunan Nasional atau PROPENAS, yang selama ini kita gunankan sebagai pedoman bagi penyusunan Rencana Pembangunan Tahunan atau REPETA.

Hadirin yang saya muliakan,
Kemampuan kita dalam menelusuri alur pikir tadi, dan mewujudkan kerangka yang mantap bagi penjabaran prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan itu dalam program-program pembangunan antar bidang dan sektor secara terpadu, sekaligus akan menjadi uji kemampuan kita untuk mewujudkan gerak yang serba serasi dalam penyelenggaraan pembangunan nasional ini. Gerak yang serasi dan terpadu bukan sekedar diantara lembaga ataupun aoaratur negara dan pemerintahan, melainkan juga diantara segenap potensi nasional kita.

Dalam waktu yang cukup lama, kemampuan kita untuk mengorganisasi dan mengadministrasikan pembangunan telah dihadapkan pada tantangan yang bernama efektivitas dan efisiensi. Selama waktu itu pula, banyak pihak menilai bahwa segala kekurangan, atau kurang efektif dan efisien-nya kegiatan dan hasil-hasil pembangunan kita, lebih banyak bersumber dari kelemahan koordinasi, baik dalam perencanaan dan pelaksanaan program-program pembangunan. Kata tersebut telah sangat lama menjadi semacam azimat dan sekaligus momok dalam dunia administratsi pemerintahan negara kita, khususnya dalam penyelengaraan pembangunan nasional. Tetapi kita semua juga paham, bahwa secara substantif, kata itu pula yang ternyata memang belum dapat benar-benar kita budayakan dalam administrasi kenegaraan kita. Sekalipun demikian saya percaya, sesungguhnya kita memiliki kemampuan untuk memperbaiki sendiri kelemahan atau kekurangan itu. Kita pasti mampu, dan kita pasti dapat melakukannya !

Demikianlah Saudara-saudara, beberapa pesan saya menyambut konfrensi ini. Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yogyakarta, 21 januari 2004
Presiden Republik Indonesia

MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

NB: Dikutip dari Buklet Sambutan Presiden RI, Sekeretariat Negara RI