KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,

sby.jpgYang saya hormati Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Saudara Ketua Mahkamah Agung dan para anggota Lembaga-Lembaga Negara,
Yang saya hormati Saudara Menteri Lingkungan Hidup dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang mulia para Duta Besar dari negara-negara sahabat,
Yang saya hormati para Gubernur, Bupati dan Walikota,
Yang saya cintai para pejuang lingkungan hidup, para pemuka agama, pemuka adat, pemuka masyarakat,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa karena hari ini, kita dapat menghadiri Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni yang lalu. Pengunduran peringatan hingga tanggal 12 Juni hari ini, tidaklah mengurangi arti dan makna pentingnya Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, kita peringati di tengah-tengah keprihatinan dan duka cita yang mendalam, atas bencana gempa bumi yang menimpa saudara-saudara kita di Yogyakarta dan di Jawa Tengah.

Sebagai orang yang berilmu, kita memahami Gempa bumi itu adalah murni bencana alam yang tidak mungkin dapat kita cegah dan kita hindari. Sebuah gempa tektonik. Di sisi lain, sebagai orang yang beriman semuanya itu terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Meskipun sedih dan prihatin, kita harus berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan menganggap musibah yang terjadi itu sebagai ujian dan cobaan yang harus kita hadapi dengan kesabaran dan ketabahan.

Hadirin sekalian,
Tema yang diangkat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini adalah "Cegah Bencana Lingkungan". Tema ini mengajak dan menyadarkan kita semua, untuk bersama-sama dan sedini mungkin, menyelamatkan lingkungan dari pencemaran atau polusi dan kerusakan. Kita perlu mencegah terjadinya bencana lingkungan yang dapat terjadi kapan saja, baik sekarang maupun di masa yang akan datang.

Belum hilang dari ingatan kita, kejadian bencana tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah dan di Garut, Jawa Barat. Longsoran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Leuwigajah, Cimahi. Banjir di Jember dan Trenggalek, serta banjir dan tanah longsor di sebagian wilayah Sulawesi Utara. Demikian pula, meluapnya Sungai Kahayan di Palangkaraya yang menyebabkan terputusnya jalan darat Palangkaraya-Banjarmasin. Berbagai bencana yang silih berganti itu, tentu saja bukanlah gejala alam semata namun sebagian diakibatkan pula oleh ulah manusia, ulah kita, terutama mereka-mereka yang kurang bertanggung jawab.

Masalah lingkungan hidup adalah masalah kita bersama. Lingkungan hidup tidak mengenal batas wilayah negara, kawasan atau benua. Semuanya berpijak pada satu bumi yang sama, yang harus kita jaga, kita pelihara, dan kita lestarikan. Oleh sebab itu, penanganannya harus dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini.

Upaya umat manusia untuk menyelamatkan bumi, diawali pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan Hidup Manusia, pada tanggal 5 Juni 1972, lebih dari 32 tahun yang lalu di Stockholm, Swedia. Pertemuan yang mengusung slogan "hanya satu bumi", waktu itu merupakan perwujudan kesadaran masyarakat dunia, akan pentingnya penanganan masalah lingkungan hidup secara bersama-sama. Pada konferensi itu, negara-negara di seluruh dunia mulai terlibat dalam berbagai proses penyelamatan lingkungan. Seluruh negara terlibat dalam penilaian dan perencanaan lingkungan, mempersatukan pendapat dan kepedulian negara maju dan negara berkembang bagi penyelamatan bumi, menggalakkan partisipasi masyarakat dan mengembangkan prioritas serta prinsip-prinsip lingkungan.

Keinginan mulia masyarakat dunia untuk mewariskan bumi yang lestari bagi anak cucu, terus didengungkan baik pada Konferensi Tingkat Tinggi tentang Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro, Brazilia tahun 1992, Konferensi PBB tentang Tujuan Pembangunan Milenium tahun 2000 yang kita kenal dengan Millenium Development Goals, maupun pada Konferensi Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg, Afrika Selatan tahun 2002. Namun, cita-cita luhur untuk mewariskan dunia ini bagi generasi yang akan datang, masih perlu terus-menerus digalakkan dan diwujudkan bersama-sama.

Hadirin yang saya hormati,
Sesungguhnya kepedulian bangsa kita akan lingkungan hidup, sudah dimulai sejak zaman nenek moyang kita. Hal itu dapat dilihat dari tradisi masyarakat di berbagai tempat. Masyarakat Mentawai, misalnya, memetik hasil alam hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja. Masyarakat Baduy, tetap memelihara hutan tutupan, leuweung larangan, demikian pula bagi masyarakat Hindu Bali, yang senantiasa menjunjung tinggi Tri Hita Karana, yang menjaga hubungan harmonis antara manusia, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sayang, kita sering kali mengabaikan kearifan tradisi lokal dalam mengelola lingkungan ini.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk, industri dan tingginya penggunaan kendaraan bermotor, tantangan memelihara lingkungan hidup di sekitar kita, tidaklah ringan. Ancaman terhadap terjadinya bencana lingkungan, sudah ada dan terlihat dengan jelas. Perusakan hutan dan lahan, pencemaran sungai, air dan tanah termasuk udara, terus berlangsung hampir setiap hari. Hutan dibabat semena-mena, ditebangi secara liar dan kayunya dicuri tanpa rasa tanggung jawab. Akibatnya, setiap tahun kita mengalami kerusakan hutan lebih dari dua juta hektar. Kerusakan hutan, bukan hanya mengancam kehidupan kita di tanah air, tetapi juga ancaman terhadap seluruh umat manusia di muka bumi ini. Meskipun tahun-tahun terakhir ini, kita meningkatkan langkah-langkah penegakan hukum dan kita lakukan dengan tegas dan keras. Banyak para penjahat yang kita tindak, namun penebangan hutan itu masih terjadi. Ini tidak mungkin, kita biarkan, yang untung, yang mereguk keuntungan adalah penjahat itu sendiri dan tukang-tukang tadah, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Bangsa kita yang menderita, lingkungan kita rusak, ekonomi dirugikan. Oleh karena itu, saya ulangi sekali lagi dalam kesempatan yang baik ini, mari kita lakukan perang total terhadap pencurian dan penebangan hutan yang tidak bertanggung jawab itu.

Ratusan orang yang telah ditahan oleh Kepolisian, saya minta diproses hukumnya secara tegas. Demikian juga, penyandang-penyandang dana dan mereka-mereka yang menjadi dalang. Kepada saudara-saudara kita di daerah itu yang sering menjadi korban, selamatkan mereka, berikan pencaharian yang lain. Dengan demikian, mereka tetap hidup dan tidak merusak lingkungannya lagi.

Saudara-saudara sekalian,
Saya ingin mengingatkan kembali, bahwa menjaga bumi agar tetap bersih dan hijau, adalah tanggung jawab kita sebagai sebuah bangsa yang bermartabat. Bangsa-bangsa lain, juga berkepentingan dengan bersih dan hijaunya bumi ini, yang sangat tergantung kepada keberadaan kawasan hutan tropis. Hutan tropis yang kita miliki, adalah "paru-paru bumi". Dunia internasional akan menyalahkan bangsa kita, jika kita tidak mampu memelihara kawasan hutan tropis kita yang hijau itu.

Pada Hari Bumi Internasional tanggal 22 April lalu di Jakarta, saya telah mencanangkan Gerakan Indonesia Menanam. Saya ulangi Gerakan Indonesia Menanam, bukan gerakan Indonesia menggunduli, bukan gerakan Indonesia menebang, tapi menanam. Gerakan ini, sebagai bentuk kepedulian kita dalam upaya membuat bumi kembali hijau, Indonesia kembali hijau, Jakarta, Surabaya, Semarang dan lain-lain bertambah hijau. Itu yang kita inginkan. Karena itu, sekali lagi saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama saudara-saudara pahlawan dan pejuang lingkungan, mari kita teruskan kegiatan menanam pohon di sekitar kediaman, sekitar rumah dan di sekitar di tempat kita bekerja. Kegiatan menanam pohon itu, saudara-saudara bukanlah pekerjaan yang berat, karena setiap orang dapat melakukannya, asal saja mereka mau.

Terus terang setiap saya keliling Jakarta, terutama kalau ada dua, tiga pohon yang tumbang biasanya saya langsung menelpon Pak Gubernur, Pak Sutiyoso, meskipun beliau biasanya sudah tahu. Itu di dekat Cawang ada tiga pohon tumbang karena angin puting beliung. Untuk diremajakan, kepedulian kita sebagai anak bangsa, apalagi pemimpin melihat tanahnya krontang, kotanya gersang, pohon-pohon tidak tumbuh, mestinya tergerak dan melakukan sesuatu yang nyata. Tidak usah nunggu lusa, tidak usah menunggu besok, sekarang. Jadi, saya minta betul, bikin hijau kota-kota di seluruh Indonesia. Jangan kalah dengan kota-kota lain di negara-negara lain, di tempat para Duta Besar itu, di negara tempat para Duta Besar tersebut. Mari kita bikin Indonesia lebih hijau dari negara-negara yang lain, Insya Allah bisa.

Dengan makin meningkatnya jumlah kendaraan, saya ulangi salah satu yang menjadi tantangan kita adalah udara tempat kita tinggal. Udara yang kita hirup, semakin hari, semakin tercemar. Lihatlah Jakarta yang kita cintai, kota-kota besar di negeri ini. Kita seakan-akan telah terbiasa dengan udara yang berdebu, berkabut dan berasap, serta bau yang tidak sedap. Kita mungkin tidak pernah peduli, bahkan menganggap hal itu biasa-biasa saja. Padahal, kualitas udara, sangat mempengaruhi kesehatan kita. Salah satu penyumbang utama pencemaran udara, adalah sarana transportasi. Menteri Perhubungan ada di sini, beliau.

Dengan makin meningkatnya jumlah kendaraan, makin tinggi pula pembakaran bahan bakar. Ditambah lagi dengan kemacetan lalu lintas, yang menyebabkan konsumsi BBM semakin tidak efisien. Salah satu upaya ke arah pengurangan pencemaran udara, adalah pengurangan emisi asap kendaraan bermotor. Sudah saatnya, Pemerintah Daerah dan aparat Kepolisian bertindak lebih tegas terhadap pelaksanaan uji emisi kendaraan. Upaya penegakan hukum terhadap kendaraan yang mengeluarkan asap yang mencemari udara, harus dilakukan dengan tegas dan konsisten. Sebagai contoh, kalau kita berada di Bundaran Semanggi atau Bundaran HI misalnya, kita di situ ada dua bus yang lewat, mengeluarkan asap hitam sehingga lingkaran itu hitam. Ada dua Polisi diam saja, ada kebetulan Pak Bupati Jakarta Pusat diam saja. Yang salah Pak Bupati dan Pak Polisinya, kalau tidak ditindak. Meskipun barangkali sudah tidak ada, masih ada enggak Pak Tiyoso itu? Masih ada juga. Jadi, saya minta jangan dianggap biasa, dia merusak paru-paru yang lain, merusak saudara-saudara yang sebenarnya tidak harus menanggung akibat dari pencemaran udara itu. Oleh karena itu, sekali lagi, mari kita lakukan lakukan penegakan hukum yang jelas.

Peresmian penggunaan Bahan Bakar Gas, BBG yang ramah lingkungan, yang saya lakukan beberapa saat yang lalu di Jakarta, saya minta ditindaklanjuti. Lebih banyaklah bus, angkutan umum yang menggunakan Bahan Bakar Gas, di samping hemat premium atau hemat BBM yang lain, juga bersih untuk udara, karena itu ramah lingkungan. Mari saya minta para Bupati, Walikota di kota-kota besar ajak untuk mulai menggunakan Bahan Bakar Gas, mengurangi emisi, mengurangi pencemaran dan mengurangi penggunaan bahan bakar minyak yang harganya terus meroket.

Tidak kalah pentingnya, masalah penanggulangan sampah. Ada yang dari Bandung? Sampah, telah menjadi masalah besar yang dihadapi warga kota. Kesadaran masyarakat untuk terbiasa membuang sampah pada tempatnya, masih perlu ditingkatkan. Kita menyaksikan, sungai-sungai telah menjadi "ong sampah" yang panjang. Laut kita sudah tercemari oleh sampah, yang berakibat pada rusaknya ekosistem dan biota laut. Ditambah lagi, pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah, banyak yang belum baik. Saya harus katakan dengan jujur, banyak kota-kota di seluruh Indonesia ini yang saya lihat secara fisik dari mata saya, pengelolaan sampahnya belum baik.

Beberapa waktu lalu, ketika saya berkunjung ke Bandung, sampah masih bertumpuk di setiap sudut kota. Tumpukan sampah yang bau itu di samping menjadi pemandangan umum yang tidak sedap juga berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Saya, mudah-mudah tidak salah laporannya, katanya sudah teratasi, mulai teratasi, lebih baik daripada belum teratasi. Tolong, lebih cepat lebih bagus, tidak mudah memang karena kompleks, tetapi mesti ada ikhtiar, ada upaya untuk mengatasi masalah sampah. Oleh Karena itu, saya minta, kepada seluruh Gubernur, Bupati dan Walikota untuk menangani masalah sampah ini dengan sungguh-sungguh, terencana dan terkendali. Saya pun meminta, ini penting tolong dicatat. Saya pun meminta dukungan dari masyarakat luas dan LSM-LSM lingkungan untuk membantu Gubernur, Bupati dan Walikota dalam mengatasi sampah ini dan bisa membuangi sampah pada tempatnya atau bisa mengelola sampah dengan tepat. Tanpa dukungan masyarakat luas, tanpa dukungan kita semua, tidak mudah pula bagi Gubernur, Bupati, Walikota yang menghadapi permasalahan sampah yang tidak mudah. Mari kita laksanakan secara bersama-sama.

Kita harus berupaya meminimalkan jumlah sampah. Kurangi penggunaan plastik. Jangan buang kertas yang masih dapat digunakan dan jadikan sampah sebagai pupuk organik. Kita pun perlu mengubah pandangan, bahwa sampah bukanlah barang yang harus dibuang dan dimusnahkan. Sampah, dari kacamata tertentu adalah sumber daya yang dapat digunakan dan dimanfaatkan. Saya berharap, masing-masing Pemerintah Daerah dapat mengembangkan inisiatif dan gagasan inovatif dalam mengembangkan program-program lingkungan hidup, yang benar-benar dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Hadirin yang saya muliakan,
Allah SWT mengingatkan kita semua, bahwa sesungguhnya kerusakan di darat dan di laut, disebabkan oleh ulah tangan-tangan manusia. Jika kita tidak melakukan upaya-upaya pencegahan, tentu saja bencana lingkungan akan semakin dekat. Dalam upaya mencegah bencana lingkungan, saya menghimbau kepada seluruh komponen bangsa, untuk secara bersama-sama dan saling mendukung, berupaya memperbaiki kualitas lingkungan hidup di sekitar kita. Marilah kita bersama-sama mencanangkan dimulainya "Menuju Indonesia Hijau" sebagai suatu program pengawasan dan evaluasi bagi pemerintah dalam melaksanakan perbaikan kualitas lingkungan. Salah satu upaya itu, adalah menyediakan penambahan lahan tutupan setiap tahun.

Kepada insan pers yang ada di sini, saya minta lakukanlah peliputan, siarkanlah melalui media-media saudara, kota-kota mana yang hijau dan makin hijau, sebaliknya kota-kota mana yang makin gersang dan jauh dari kehijauan. Maksud saya hijau tumbuh-tumbuhan, bukan hijau bendera. Hijau, bikin hijau mulai sekarang. Kalau perlu, kalau saya datang ke daerah, suruh saya menanam pohon itu berapa pun akan saya lakukan.

Sejalan dengan desentralisasi dan otonomi daerah, saya juga minta kepada para Gubernur, Bupati dan Walikota untuk memberikan perhatian yang sungguh-sungguh dalam upaya meminimalkan dan mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di wilayah Sumatera. Jangan biarkan lingkungan di wilayah saudara, bukan Sumatera. Jangan biarkan lingkungan kita kian rusak. Pelihara lingkungan sejak dini. Biasakan hidup bersih, mulai dari sekarang, dari diri kita dan dari lingkungan sekitar kita.

Hadirin yang saya muliakan,
Akhirnya, sebelum saya mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada saudara-saudara penerima penghargaan, baik penghargaan Kalpataru maupun Adipura. Peran serta dan kiprah saudara-saudara, yang berjuang melestarikan lingkungan hidup tanpa pamrih, adalah wujud nyata dari kepedulian saudara-saudara terhadap pentingnya kelestarian alam dan lingkungan hidup. Semoga peran serta kiprah saudara-saudara itu, menjadi teladan bagi warga masyarakat kita. Terus terang di tengah-tengah kita berprihatin melihat lingkungan hidup yang mengalami pencemaran dan kerusakan, muncul saudara-saudara mutiara-mutiara, pahlawan-pahlawan. Saudara memberikan sumbangan dan jasa yang sangat besar pada bangsa dan negara. Pertahankan itu, kembangkan, jadilah pejuang dan pahlawan lingkungan .

Bangsa yang lalai pada lingkungannya adalah bangsa yang tidak bertanggung jawab. Kita semua pemimpin lalai pada lingkungannya, pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Sebelum mengambil keputusan, mendirikan pabrik, membuka lahan, membikin jalan, apapun di samping baik untuk ekonomi, baik untuk pembangunan daerah, baik untuk masyarakat sekitar, juga perhatikan tidak merusak lingkungan. Selalu lekatkan lingkungan, lingkungan, lingkungan.

Kita dengan DPR, Pak Agung Laksono dengan saya dan pemerintah membuat Undang-Undang. Undang-Undang tentang lingkungan hidup. Ingat, Undang-Undang yang kita buat itu, bukan hanya untuk kita, tapi untuk anak, cucu kita, padahal anak, cucu kita tidak bisa membuat lingkungan, Undang-Undang itu sekarang. Mari kita wakili mereka, dia tidak bisa vote, tidak bisa voting untuk Undang-Undang kita bikin sekarang tentang lingkungan, misalnya tentang industri, misalnya tentang pengembangan apapun. Mari kita wakili mereka dengan mengatakan bahwa yang kita lakukan untuk kepentingan kita tanpa mengorbankan kepentingan mereka di waktu yang akan datang.

Kepada Pemerintah Kabupaten, Kota dan seluruh warga kota yang bersangkutan yang telah berhasil menunjukkan prestasi dalam mengelola kebersihan dan keteduhan kotanya, sehingga pembangunan yang berwawasan lingkungan dapat tercapai, saya ucapkan selamat. Yang panen saya lihat tadi, Jakarta terus Bali, Jawa Timur, mana lagi tadi? Ya saya lihat tiga itu yang paling atas itu. Kota-kota yang berhasil itu, tahun ini mendapat Anugerah Adipura 2006, pertahankan, tingkatkan di waktu yang akan datang.

Demikianlah saudara-saudara akhirnya dengan memohon bimbingan, petunjuk, lindungan dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, marilah kita lanjutkan upaya besar kita, membangun Indonesia yang ramah dan berwawasan lingkungan.

Sekian.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan

Sumber File :
Pidato Presiden RI pada acara Peringatan Hari LIngkungan Hidup Sedunia 2006 di Istana Negara, 12 Juni 2006