KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Seperti yang dituliskan pada berita sebelumnya acara sarasehan Adiwiyata nasional 2013, dibuka dengan penyerahan secara simbolis kepada 9 sekolah Adiwiyata Nasional yang dilakukan oleh Menteri KLH, Wakil Menteri Pendidikan dan kebudayaan, di dampingi oleh Deputi VI KLH.

Menteri KLH mengharapkan melalui program Adiwiyata 2014 dapat tercipta penurunan energi, penurunan timbunan sampah, serta penurunan penggunaan air dan juga pengurangan penggunaan emisi CO2 dari setiap sekolah Adiwiyata.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup, “di kemudian hari diharapkan pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia, para pelajar sudah dapat bersaing sebagai negara besar dan bekualitas sumber daya manuasianya menghadapi persaingan global. Untuk itu, dikembangkan konsep pendidikan pembangunan yang berkelanjutan atau Education for Sustainable Development (ESD) bahkan UNEP menetapkan bahwa 2005-2014 disebut sebagai Decade of Education for Sustainable Development.

Sedangkan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa akan menerapkan metode Adiwiyata pada  kurikulum pendidikan 2013, hal ini didasari bahwa kurikulum 2013 bukan hanya didasari dari penilaian pengetahuan semata, tetapi terdiri dari 3 kopetensi yaitu; Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap.

Selanjutnya pada pukul 13.30 WIB dilakukan dialog interaktif, berjudul pengembangan Pendidikan lingkungan Hidup. Dan sebagai  narasumber adalah Dirjen Pendidikan Dasar Kemendikbud, dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud, Dirjen Pendidikan islam – Kemenag dan Deputi Bidang komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat – KLH.

Sesi pertama ini menghasilkan pemikiran atau strategi yang bisa diterapkan di sekolah-sekolah, misalnya memaksimalkan penggunaan dana BOS, menetapkan strategi administrasi pada kegiatan ektrakulikuler di Sekolah-Sekolah. Sehingga target yang diinginkan dari Kementerian Lingkungan Hidup dalam menargetkan tahun depan ada sekolah Adiwiyata Mandiri dapat terealisasi tentunya.

Sedangkan pada sesi kedua dialog interaktif mengenai Program pendidikan lingkungan hidup di lembaga-lembaga semacam GIZ/Paklim, Henns Saidel Foundation, Pertamina Foundation (SSB) dan UNEDCO  menjelaskan pengalaman-pengalaman lembaga tersebut. Banyak penerapan yang bisa diambil dalam program lembaga tersebut.  UNESCO sendiri sudah mengkampanyekan program Sekolah Hijau. Dari keempat lembaga tersebut yang menarik adalah Pertamina Foundation lewat program CSR-nya, sudah sejak lama melakukan pembinaan terhadap sekolah-sekolah Adiwiyata.

Sedangkan disesi ketiga yang merupakan sesi terakhir,  Prof. Arief Rahman memberikan motivasi kepada peserta sarasehan agar mempunyai kriteria  yang terdiri dari akademis, psikologis, metodelogis dan sosiologis yang berimbang. Sedangkan Prof. Karim Saleh menitik beratkan bahwa sekolah adiwiyata juga dapat menciptakan anak didik yang trampil dan bukan hanya pada guru semata tetapi menyeluruh. Seangkan pengamat sosial Eka Budianta  menjelaskan sekolah Adiwiyata harus kreatif yang didasari dari tiga starategi yaitu ilmu bagaimana cara melihat prospek kehidupan,  Kecerdasan lingkungan dan Empati (kasih sayang).  Persatuan adalah Kuncinya menurut Eka budianta. Banyak contoh yang di berikan antara seperti komunitas capung. Seperti dikatahui Capung  itu hidup diair yang jernih. Dengan kita mencintai Capung otomatis kita juga berfikir bagaimana menjaga keberlangsungan hidupnya dan menjaga kebersihan. Banyak contoh kecil lainnya yang berdampak besar (ry).

Informasi lebih lanjut:
Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan  Pemberdayaan Masyarakat.