KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 

Kampanye hemat energi bertajuk ”The Earth Hour” berlangsung di pelbagai belahan dunia,  termasuk Asia, Sabtu pekan lalu. Program ini adalah mematikan lampu selama sejam.
Cina, yang merupakan penyumbang gas emisi karbon terbesar sejagat, melampaui Amerika Serikat, juga ikut bergabung. Sebanyak 34 kota, termasuk Beijing, Shanghai, Chengdu, dan Dalian, gelap selama 60 menit di malam hari.

Pusat kegiatan berlangsung di Kota Terlarang, yang berusia enam abad. “Cina memiliki insentif untuk bertindak terhadap perubahan global dan sudah melakukan itu. Earth Hour adalah contoh lainnya,” kata Direktur WWF Internasional Jim Leape.
Kegelapan sejam juga melanda 1.044 kota besar dan kecil di seantero Filipina. Diperkirakan 15 juta warga negara itu menjadi peserta Earth Hour. Menurut juru bicara Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo, negaranya sudah menyadari betapa panting penghematan energi setelah musibah topan El Nino yang menghancurkan instalasi listrik di sana.
Lampu Menara dan The Hiroshima Peace Memorial di Jepang mulai dipadamkan pada pukul 20.30 waktu seternpat. Di Nepal, Earth Hour diperingati dengan cara menyalakan lilin di Patung Buddhanath, yang merupakan simbol ternama di Negeri Atap Dunia.
Peringatan mati lampu juga digelar di India, Delhi, Mumbai, dan Bangalore memimpin acara itu. Pusat kegiatan berada di Gerbang India di Kota Delhi
Menurut Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon, pesan dari Earth Hour ini adalah betapa pentingnya menjaga warisan alam. “Perubahan iklim adalah perhatian kita semua,” ujarnya.
Namun kegiatan mati lampu dalam sejam yang berpusat di kompleks perbelanjaan Central World di Ibu Kota Bangkok, Thailand, dibatalkan karena alasan keamanan. Keputusan ini diambil lantaran para pengunjuk rasa, yang merupakan pendukung mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra, mengancam akan berdemo di dekat sana. Program Earth Hour ini diikuti 120 negara. Mereka mematikan lampu pada pukul 20.30-21.30 waktu setempat.

 

*THE NATION|WWF INTERNATIONALl|FAISAL ASSEGAF

Sumber :
Koran Tempo
29 Maret 2010