KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

PakKoes_Foto2.jpg

Kecelakaan pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-200 di Jogyakarta pada tanggal 7 Maret 2007 membawa duka yang mendalam bagi seluruh pimpinan dan staf Kementerian Negara Lingkungan  Hidup. Betapa tidak ?, karena salah satu korban tewas yaitu Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH., ML.

Di mata para pimpinan dan staf KLH, beliau adalah figur seorang Bapak yang turut merintis dan membesarkan institusi. Tahun 1980-1986, beliau adalah Sekretaris Menteri Negara PPLH, yang kemudian berganti nama dengan KLH. Bulan Januari 1986 sampai bulan Februari 1990 menjabat sebagai Rektor Universitas Gadjah Mada.

Di masa baktinya pada institusi KLH, selain sebagai Sesmen, Beliau juga menjadi Ketua Tim Teknis Hukum yang mempersiapkan dan menyelesaikan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 (UULH) tentang Pengelolaan Lingkungan. Undang-Undang itulah yang kemudian menjadi cikal bakal berbagai peraturan perundangan di bidang lingkungan hingga saat ini.

Pak Koesnadi, begitulah panggilan akrab Beliau, lahir pada tanggal 9 Desember 1926 di Manonjaya-Tasikmalaya-Jawa Barat. Setelah menyelesaikan pelajaran di Fakultas Hukum UGM pada tahun 1964, pada tahun itu juga diangkat sebagai Kepala Biro Hubungan Masyarakat pada Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Kemudian menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan clan Kebudayaan (1966-1969) dan selanjutnya diangkat menjadi Kepala Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1969-1974).

Pada tahun 1974-1980 ditempatkan sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan pada KBRI Den Haag. Selama bertugas di KBRI mengikuti pula studi di Faculteit der Rechtsgeleerdheid Rijksuniversiteit Leiden (Doctoraal Vrije Studierichting) clan memperoleh Drs. in de Rechten (Master of Law) pada tahun 1981. Kemudian meraih gelar Dr. in de Sociale Wetenschappen di Rijksuniversiteit Leiden pada tahun 1981 itu juga.

Setelah kembali di Indonesia diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Hukum UGM dalam mata kuliah Hukum Tata Lingkungan. Di. samping itu diangkat sebagai Sekretaris Menteri Negara PPLH, kemudian KLH, dari tahun 1980 sampai 1986. Dalam kedudukan ini memimpin delegasi Indonesia ke pertemuan di Montevideo, Uruguay, 1981 dan menjadi Ketua Tim Teknis Hukum yang mempersiapkan dan menyelesaikan Undang‑undang No. 4 Tahun 1982 (UULH) beserta berbagai undang-undang dan peraturan organik lainnya.

Bulan Januari 1986 sampai bulan Februari 1990 menjabat sebagai Rektor Universitas Gadjah Mada. Jabatan lainnya adalah sebagai Koordinator Bidang/Ketua Program Studi Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Indonesia sejak tahun 1980.

Mulai tanggal 1 April 1984 sampai akhir Desember 1991 menjadi Guru Besar Tetap di Fakultas Hukum UGM, kemudian sebagai guru besar luar biasa dan sampai kini mengajar pula di beberapa universitas negeri dan swasta

Hasil karya yang diterbitkan di antaranya: Perguruan Tinggi di Indonesia (co-author),, Departemen PTIP, 1965; Study-service as a Subsystem in Indonesia Higher Education, Balai Pustaka, 1982; Hukum Tata Lingkungan Gajah Mada University Press, Cetakan pertama 1983; Peranan Proyek PTM dalam Pengembangan Pendidikan, Sebuah kasus peran serta mahasiswa Indonesia, Balai Pustaka, 1983; Environmental Legislation in Indonesia, Gadjah Mada University Press, Cetakan pertama 1985; Aspek Hukum Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, Gadjah Mada University Press, Cetakan pertama 1986; Hukum Perlindungan Lingkungan, Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Gadjah Mada University Press, Cetakan pertama 1991; Menjelang Sepuluh Tahun Undang-undang Lingkungan Hidup, Gadjah Mada University Press, Cetakan pertama 1992; The Principles of the Basic Environmental Law in Japan and the Applicability in Indonesia, Institute of Developing Economies, Tokyo, 1996; Sebuah Studi tentang Kankyo Kihon Hoo (Undang-undang Lingkungan Hidup di Jepang), Gadjah Mada University Press, 1996.

Demikian concern-nya Beliau pada lingkungan, hingga saat-saat terakhirpun Beliau masih menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Kalpataru yang melakukan penilaian dan menentukan kelayakan seseorang/kelompok diberi penghargaan di bidang lingkungan pada tingkat nasional setiap 5 Juni di Istana Negara.

Kami tidak percaya ketika harus melepas Pak Koes secepat itu. Namun, kami harus mengakui kenyataan yang telah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang bisa kami lakukan hanyalah meneladani dan melanjutkan apa yang telah Beliau rintis. Tidak lupa kami berdoa semoga Pak Koes mendapat tempat yang layak di sisi Sang Pencipta.

Selamat jalan Pak Koes …

Seluruh Pimpinan dan Staf
Kementerian Negara Lingkungan Hidup