KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Dengan keputusan Presiden No. 61 tahun 1993, Indonesia telah ikut meratifikasi Konvensi Basel, dan tentu bersama-sama negara lain ikut terikat untuk melaksanakan ketentuan di dalam konvensi tersebut.

Sedangkan konvensi Baselo (yang ditandatangani di kota Basel Swiss pada 22 maret 1989) isinya tentang Pengaturan Perpindahan Lintas Batas dan Pembuangan Limbah Berbahaya (Basel Conventin on The Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and their Disposal) ini adalah kesempatan internasional untuk mengendalikan dampak dari perpindahan lintas batas dan pembuangan limbah berbahaya. Saat ini sudah 170 negara pihak telah meratifikasi konvensi ini.

Dua pilar yang menjadi landasan kerja dari konvensi ini adalah sebagai berikut:

·        Konvensi Basel sebagai system Pengendalian Global dari perpindahan lintas batas limbah, dengan menerapkan prosedur perijinan, perpindahan limbah tanpa ijin adalah illegal.

·        Konvensi Basel mewajibkan anggota atau negara pihak untuk memastikan agar pengelolaan limbah berbahaya dan limbah lainnya dilakukan secara berwawasan lingkungan.

Menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, Rachmat Witoelar, Indonesia sangat berkepentingan dengan konvensi ini, karena posisi Indonesia yang amat rentan dari ancaman perpindahan limbah beracun. “Indonesia, negara kepulauan terbesar yang dijalur lalu lintas pelayaran dunia. Di sini ada banyak pelabuhan yang dilewati pelayaran internasional, “kata Rachmat.

Sementara Sekretaris Eksekutif Konvensi Basel, Katharina Kummer Peiry mengingatkan banyaknya kasus yang terjadi akibat limbah B3 dan ini terus menyebabkan resiko yang serius terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Karena itu ia berharap melalui COP 9 di Bali dapat ditegaskan kembali adanya saling ketergantungan kepada pengelolaan limbah yang berwawasan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Jadi masalah, hingga kini Indonesia terkesan kurang serius memperhatikan pengelolaan limbah bahan, beracun, dan berbahaya (B3), indikasinya, masih banyak limbah impor masuk ke Indonesia. Padahal secara prinsipil Indonesia telah melarang impor limbah. “Masuknya puluhan container berisi kondom bekas pakai dari Jerman ke Tanjung Priok, misalnya, jelas sangat beresiko karena dapat menularkan penyakit,