KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA




Pada hari Selasa, 3 Juni 2003 Dharma Wanita Kementerian Lingkungan
Hidup mengadakan acara dalam menyambut peringatan Hari Lingkungan Hidup 5 Juni
2003. Salah satu kegiatannya adalah bazar ramah lingkungan yang diikuti oleh 38 peserta bazar. Selain itu juga diadakan Seminar yang bertemakan
Peran Perempuan dalam Meningkatkan Kualitas Lingkungan Hidup.

Sesi pertama diskusi dipresentasikan oleh tokoh lingkungan
dan perempuan yaitu Ibu Erna Witoelar, yang mengingatkan pentingnya sinergi antara
peran perempuan dan laki-laki. Mereka harus bekerja beriringan. Oleh sebab itu
wanita juga harus terjun dalam kegiatan sosial, ekonomi maupun politik. Dengan
adanya peran perempuan dalam ketiga aspek tersebut akan mempermudah pekerjaan
pria. Hal ini didasari dari kemampuan wanita yang lebih teliti dalam melihat
detil-detil permasalahan yang perlu di-“manage” dan didiskusikan
bersama-sama laki-laki.

Oleh sebab itu ibu Erna merangkum peran wanita dalam mengembangkan
permasalah air, energi, pertanian dan keanekaragaman hayati yang merupakan peran
penting saat ini menyongsong era desentralisasi dan otonomi daerah, dan hal
tersebut sudah mulai dilakukan oleh Dharma Wanita kementerian lingkungan hidup dan PKK di daerah.

Pembahas berikutnya adalah dari Grup Femina yang berbicara
mengenai peran wanita dalam media masa. Pembahas lebih menitikberatkan peran
penting media dalam proses penyadaran terhadap masyarakat. Peran serta media
massa dengan aktifitas organisasi yang bekerja di bidang lingkungan akan sangat
bermanfaat apabila dapat dipublikasikan dalam sebuah media massa, begitu juga
dalam proses penyadarannya. Dengan media diharapkan (visi Femina red.) perilaku
sadar lingkungan nantinya dapat menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan.

Setelah kedua pembahas dilanjutkan sesi kedua yang dibawakan
langsung oleh tiga orang pembicara yaitu Haedar Nasir tokoh teologi islam terkemuka
yang membahas dari sisi agama. Makalah yang dibawakan berjudul Peran Perempuan
dalam Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. Ia mengutip ayat al-Quran yang
berisikan persamaan gender antara lai-laki dan perempuan yaitu ayat yang menjelaskan
tentang peran laki-laki dan perempuan yang harus saling melindungi. Disanalah
makna dari ayat tersebut, tidak ada yang lebih tinggi diantaranya, dan harus
saling mengisi didalamnya.

Selain itu tokoh LSM yaitu Bunda Ully Hary Rusady pimpinan Yayasan Garuda Nusantara
yang telah banyak berjasa dalam pengelolaan lingkungan hidup. Dia tidak sempat
menjelaskan makalahnya tentang peran perempuan dalam masalah mengurangi Limbah.
Dia lebih banyak menjelaskan aktivitas organisasinya dengan cara menanam pohon.
Seseorang bertanya dalam sesi tanya jawab, apakah kegiatan Ibu Ully hanya di
hutan? Dia menjelaskan tidak?, tetapi orang banyak menyalahartikan kegiatan
penanaman pohon di pegunungan. Padahal gunung adalah menara air bagi kelangsungan
hidup manusia, apabila hutan-gunung kita rusak, otomatis dampaknya akan langsung
dirasakan pada masyarakat perkotaan. Apa yang dilakukan oleh orang “kota”
yang membangun di daerah dataran tinggi dengan derajat kemiring hampir 45 derajat,
membutikan hal tersebut.

Hal ini kemudian lebih menyeluruh disampaikan oleh ibu Masnellyarti Hilman Diputi VII KLH, yang menitikberatkan pembicaraan mengenai
mulai hancurnya ekosistem lingkungan di Indonesia. Oleh sebab itu peran serta
pelestarian lingkungan hidup harus dimulai dari rumah dengan memperhatikan permasalahan
air, energi dan sumber daya alam lainnya yang berada di seputar lingkungan kita
yang terdekat yaitu rumah tangga. Peran perempuan dan ibu rumah tangga sangat
besar disana.

Dasar dari semua itu adalah kesehatan, lingkungan yang bersih,
air yang bersih jauh dari limbah pencemaran, ventilasi, tumbuhan dan lain-lain.
Peran perempuan dalam rumah tangga dalam masalah lingkungan di sekitar rumah
di jelaskan oleh KTT Bumi Rio de Jeneiro dalam prinsip ke 20 deklarasi Rio;
“Perempuan mempunyai peran penting dalam pengelola lingkungan dan pembangunan.
Partisipasi penuh mereka sangat penting untuk meningkatkan pembangunan berkelanjutan”.
Hal lain dalam deklarasi itu menjelaskan peran penting laki-laki dan peran perempuan
yang bertuliskan “Kami bertekat untuk menjamin bahwa pemberdayaan dan
emansipasi perempuan dan kesetaraan gender terintegrasi dalam segala aktivitas
yang terdapat dalam Agenda 21, tujuan pembangunan berkelanjutan dan rencana pelaksanaan
Johannesberg.

Setelah sesi kedua tersebut acara ditutup langsung oleh ibu
Ainun Makarim.(ry)