KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

PRESS RELEASE
Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta
Selasa, 22 Maret 2005

Menumpuknya sampah-sampah di perkotaan sangat erat kaitannya dengan pola pengelolaan sampah yang selama ini diterapkan, yaitu yang berorientasi kepada "pembuangan" bukan "pemanfaatan" sampah. Bentuk peran aktif dalam pengelolaan sampah masih sangat kurang.

Untuk dapat mewujudkan daerah perkotaan yang bersih dan bebas sampah,maka diperlukan perubahan pola pikir atau cara pandang terhadap sampah. Selama ini sampah seringkali diartikan sebagai sisa buangan yang tidak mempunyai nilai dan harus disingkirkan, sehingga anggapan yang selalu melekat pada setiap individu adalah bahwa sampah selalu sebagai sumber pencemar. Dengan kondisi demikian sampah menumpuk di TPA tanpa ada pengolahan, sehingga dapat menjadi sumber bencana. Padahal apabila sampah dapat dikelola dan di olah dengan baik dan benar, maka sampah dapat menjadi suatu sumber daya yang bernilai ekonomi dan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sampah organik misalnya merupakan sumber daya untuk pembuatan kompos, apabila hal ini dapat dimaksimalkan maka akan memberikan kontribusi pada dua hal sekaligus. Yaitu disatu pihak masalah lingkungan tertangani, dan dilain pihak secara ekonomi memberikan keuntungan. Karena akan menciptakan lapangan kerja yang luas dan mendatangkan penghasilan. Dalam kondisi negara yang secara ekonomi masih terpuruk sekarang ini, pola pikir untuk memandang sampah perlu dikembangkan lebih luas lagi untuk dapat memberikan manfaat yang lebih besar. Sehingga paradigma yang harus dikembangkan adalah bahwa sampah bukan lagi merupakan sumber masalah akan tetapi sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomis baik dalam konteks pemanfaatan sampah ataupun pengelolaan sampah.

Salah satu upaya KLH untuk mendorong daur ulang sampah organik adalah memberikan insentif berupa subsidi finansial dari World Bank/GEF kepada produsen kompos yang menggunakan bahan baku sampah perkotaan dalam program di wilayah Jawa bagian Barat (Jabar, DKI Jakarta, Banten). Program Subsidi kompos ini diadakan, dalam rangka memenuhi komitmen terhadap Agenda 21 terutama dalam hal mengurangi emisi gas rumah kaca (GHG), managemen persampahan, limbah domestik dan industri. Secara umum tujuan dari program WJEMP adalah:

• Meningkatkan kemampuan institusi Pemda dalam mengendalikan pencemaran melalui penyusunan instrumen kebijakan, strategi dan rencana aksi;
• Meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan;
• Meningkatkan kinerja pengelolaan sampah dan limbah lainnya melalui program 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle);
• Meningkatkan kualitas lingkungan melalui iklim kompetisi dan peluang usaha dibidang lingkungan, terutama produksi kompos.

Sampai akhir April 2005 program subsidi WJEMP ini telah menjaring dan membina 21 produsen kompos skala kecil, menengah dan besar dari berbagai daerah di Jawa bagian Barat. Sampai dengan Januari 2005 produsen tersebut telah memproduksi kompos sebesar 450 ton per hari, dan produksi total kompos 20.000 ton. Jumlah sampah organik yang diolah tersebut masih sangat sedikit bila di bandingkan dengan timbulan sampah yang ada.

Seminar dan pameran yang diselenggarakan ini bertujuan untuk:
1. Menggalang komitmen berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mendukung dan meningkatkan program pengurangan sampah melalui 3R khususnya pembuatan kompos dari sampah padat organik,
2. Menciptakan kondisi pasar kompos yang kondusif antar produsen dan pengguna kompos,
3. Memperbaiki disain mekanisme insentif pembuatan kompos yang melibatkan masyarakat luas, komprehensif, terarah dan berkelanjutan.

Jakarta, 22 Maret 2005

Informasi Lebih lanjut:
Asdep 2/V Urusan Limbah Domestik
Telp: 021 – 8514771