KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Seminar Sehari Hotel ACASIA tanggal 29 maret 2004
(Kerjasama antara JICA KLH dan PSL UI)

Pencemaran udara di Indonesia merupakan masalah yang cukup serius dalam beberapa tahun terakhir terutama yang dirasakan di beberapa kota-kota besar. Hal tersebut ditandai dengan menurunnya kualitas udara ke tingkat yang cukup memprihatinkan dimana telah mengakibatkan gangguan kesehatan terhadap manusia maupun kehidupan lainnya disamping kerusakan benda. Menurunnya kualitas udara tersebut terjadi dengan adanya berbagai bahan pencemar udara yang melampaui baku mutu ambien di berbagai tempat.

Dari beberapa penelitian telah dilakukan oleh JICA tahun 1995 dan ADB tahun 2002 kendaraan bermotor merupakan Kontributor terbesar pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia. Emisi gas buang kendaraan seperti HC, CO, NOx dan PM merupakan polutan-polutan dominan yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya. Dengan meningkatnya polutan-polutan di udara akan meningkatkan pula biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh masyarakat.

Salah satu upaya untuk mengendalikan emisi gas buang kendaraan bermotor maka Kementerian Lingkungan Hidup telah mengeluarkan Kep. Men-LH No. 141 tahun 2003 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru dan Kendaraan Bermotor yang Sedang Diproduksi yang mengacu pada standar EURO 2. Kep. Men ini yang mulai diberlakukan pada tahun 2005 untuk kendaraan tipe baru dan pada tahun 2007 untuk kendaraan yang sedang diproduksi. Kep Men-LH ini merupakan starting point untuk negara kita, mengikuti proses harmonisasi standar di dunia yang semakin mengarah pada konsep Environmentally Frendly Vehicle.

Tujuan utama ditetapkannya Kep Men 141/2003 disamping untuk menciptakan kendaraan bermotor yang ramah lingkungan yang masuk ke Indonesia adalah untuk memacu industri kendaraan bermotor di Indonesia agar tidak semakin tertinggal di dunia Internasional akan persaingan untuk menciptakan kendaraan yang sesuai standar-standar Internasional.
Beberapa kendaraan industri kendaraan bermotor besar di dunia seperti GM (General Motor), Daimle & Chysler, Toyota, Honda dll. Telah menjawab tuntutan lingkungan dengan menciptakan kendaraan bermotor yang semakin mendekati konsep zero emission vehicle.

Untuk negara-negara eropa yang tergabung di dalam EU (European Union) yang beranggotakan 12 negara maju di Eropa barat dan akan bertambah dengan 6 negara baru dari Eropa Timur telah menetapkan standar Euro 5 pada awal tahun 2005 mendatang. Dengan kenyataan tersebut maka mau tidak mau Jepang yang merupakan pemasok kendaraan yang besar di Eropa dan juga terbesar di Indonesia harus mengikuti tren tersebut.

Sedangkan di kawasan ASEAN standar EURO 2 telah diadop pada tahun 2001. Thailand sebagai negara yang paling agresif di ASEAN akan menetapkan standar EURO 3 pada tahun 2003. Dengan keberaniannya menetapkan standar EURO tersebut maka Thailand sebagai negara yang paling agresif di ASEAN akan menetapkan standar EURO tersebut maka Thailand kini telah menjadi centre of excellent (produsen terbesar) untuk passenger car di luar Jepang.

Dengan telah di tetapkannya Kep. Men. No. 141 tahun 2003 maka Indonesia semakin memiliki posisi yang jelas dalam proses harmonisasi standar emisi di dunia Internasional dan komitmen untuk menciptakan kualitas udara yang lebih baik bagi generasi yang akan datang. Keuntungan bagi industri kendaraan bermotor di Indonesia untuk proses mutual recognation mengingat hampir semua negara di Asean telah mengadop standar EURO 2 pada tahun 2001 dan keuntungan lain adalah masuknya kendaraan tipe baru ke Indonesia dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Informasi Lebih Lanjut:

Plt. Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang

Pengendalian Dampak Lingkungan Sumber Non Institusi

(Dep. V-LH)

Telp. 021-85905637