KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA


Foto: Bahran, KLH.

Jakarta, 18 Januari 2010, Lahan gambut mempunyai berbagai manfaat, fungsi produksi (ekonomi), yaitu mencakup hasil sumber daya alam dan hasil budidaya. Kemudian, fungsi pengaturan yaitu mencakup pengaturan hidrologis (90 % air tersimpan dalam gambut) dan kestabilan iklim karena memiliki kandungan Carbon (C) yang sangat besar. Selain daripada itu, masih ada fungsi lainnya, misalnya sebagai sumber keanekaragaman hayati, saran penelitian, wisata dan jasa lingkungan. Seiring dengan pertambahan penduduk yang diikuti oleh pembukaan dan pengelolaan lahan gambut hanya memperhatikan nilai ekonomi namun memarjinalkan fungsi ekologisnya. Hal ini memperparah kerusakan lahan gambut, terutama yang diakibatkan kebakaran dan juga dari pembuatan drainase yang tidak memperhatikan karakteristik ekosistem gambut.

Secara ekosistem, gambut sangat rentan terhadap kebakaran, sehingga manajemen airnya harus dijaga. Ekosistem gambut merupakan penyumbang terbesar dalam emisi gas rumah kaca, yaitu sebesar 1,4 Giga ton terutama akibat seringnya terjadi kebakaran dan juga akibat dari turunnya muka air tanah. Program nasional target penurunan emisi sebesar 26 % sebagian besar disumbangkan dari lahan gambut. Hal ini sebaimana yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, MS. “Dengan adanya komitmen Pemerintah Indonesia untuk penurunan target emisi sebesar 26 % pada tahun 2020 dari kondisi business as usual, maka pengelolaan ekosistem gambut yang berkelanjutan adalah sangat strategis sebagai salah satu prioritas program nasional