KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS:
Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim COP 16/CMP 6 UNFCCC di Cancun, Mexico

Jakarta, 20 Desember 2010. Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Perubahan Iklim atau The Conference of the Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change/The Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (COP-16/CMP-6 UNFCCC) berlangsung tanggal 29 November – 10 Desember 2010 di Cancun, Mexico. Pertemuan tersebut menghasilkan Cancun Agreement, suatu paket keputusan yang berimbang (a balanced package of decisions) yang menempatkan seluruh pemerintah negara pihak untuk lebih pasti dalam menuju masa depan pembangunan yang rendah emisi dan mendukung peningkatan aksi dalam rangka perubahan iklim di negara berkembang.

Pertemuan ini dihadiri oleh 194 Negara Pihak UNFCCC. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Utusan Khusus Presiden RI untuk Perubahan Iklim, Prof. (Hon). Ir. Rachmat Witoelar, dan Menteri Negara Lingkungan Hidup (MENLH), Prof. Dr. Gusti Muhammad Hatta, MS sebagai wakil. Di dalam berbagai rangkaian pertemuan ini, MENLH menghadiri High-level Segment (HLS) COP 16/CMP 6 UNFCCC tanggal 7–10 Desember 2010 dan berkesempatan melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Lingkungan Hidup Korea, Swiss, Jepang, Kongo dan Mexico serta pertemuan dengan Menteri-menteri Lingkungan Hidup ASEAN.

Pertemuan dengan Menteri Lingkungan Hidup Korea, Manee Lee, memfokuskan kerjasama kegiatan adaptasi dan green growth strategy dimana Pemerintah Korea siap mendukung melalui Pusat Adaptasi Kementerian Lingkungan Hidup Korea. Pemerintah Swiss diwakili oleh Presiden dan Menteri Lingkungan, Doris Leuthard, serta Sekretaris Negara Menteri Lingkungan, Bruno Oberle menawarkan kerjasama pengembangan program REDD kepada ASEAN mengingat Indonesia akan menjadi ketua ASEAN tahun 2011, dan aksi adaptasi. Selain itu, pembicaraan juga menindaklanjuti dan memperkuat kerjasama MoU yang ada, yaitu: Country Led Initiative (CLI) terkait dengan kesepahaman mengenai Ban Amandemen Konvensi Basel pada COP 10 di Cartagena, Kolombia tahun 2011 serta pengelolaan bahan kimia dan Basel Convention.

Pemerintah Jepang, diwakili Parliamentery Vice Minister for Foreign Affairs,  Mr. Ikuo Yamahana, dan Parliamentery Vice Minister for Economy, Industry, and Trade, Mr. Kaname Tajima memperkuat kerjasama terutama pengelolaan limbah berbahaya dan beracun dan co-benefit process, serta program minimisasi limbah. Menteri Kehutanan dan Lingkungan Kongo menyampaikan keinginan bekerjasama di bidang lingkungan dan kehutanan mengingat di tahun 2011 akan menjadi tuan rumah World Forestry Summit dan mengharapkan Indonesia membantu mensukseskan summit tersebut. Pertemuan dengan Mexico dilakukan dengan penandatanganan MoU berfokus pada REDD, forest management, penyusunan national communication, dan efisiensi energi. Selain bilateral, Pertemuan Para Menteri ASEAN membicarakan komitmen bersama menghadapi perubahan iklim serta upaya penyelamatan TIGER (harimau) dengan menggunakan dana Global Environment Facility (GEF).

“Kerjasama bilateral antara dua negara merupakan langkah strategis dalam memperkuat dan mempercepat proses penyelesaian masalah lingkungan secara bersama-sama. Hal ini penting bagi Indonesia dalam upayanya melakukan berbagai upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di dalam negeri