KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA


Jakarta, 1 Nopember 2010. Konferensi Para Pihak ke-10 Konvensi Keanekaragaman Hayati di Nagoya Jepang memberikan tonggak sejarah bagi konservasi keanekaragaman hayati di dunia. Pada Konferensi ini terdapat 3 isu utama yang sangat penting bagi keanekaragaman hayati dan kehidupan manusia. Tiga isu utama tersebut menjadi paket dokumen yang terdiri dari Protokol Akses dan Pembagian Keuntungan, Rencana Strategis dan Target Global 2011-2020 dan Mobilisasi Pendanaan. Tonggak sejarah ini ditandai dengan diadopsinya tiga keputusan penting pada sidang Konferensi Para Pihak ke-10 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), yang telah berakhir pada tangal 29 Oktober 2010 di Nagoya, Jepang. Salah satu keputusan penting tersebut adalah Nagoya Protocol on Access to Genetic Resources and the Fair and Equitable Sharing of Benefits Arising from their Utilization to the CBD, yang pertama kali disetujui sejak disahkannya Konvensi Keanearagaman Hayati (CBD) pada tahun 1992.



Perjuangan Indonesia bersama dengan Like Minded Mega Divers Countries, telah membuahkan hasil yang sangat menggembirakan pada saat minim
nya kesepakatan dan keberhasilan Global. Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Gusti Muhammad Hatta mengatakan: “Protokol ABS yang berhasil tercapai merupakan pengaturan komprehensif dan efektif dalam memberikan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia dan menjamin pembagian keuntungan bagi Indonesia sebagai negara kaya sumber daya genetik.