KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 

Samarinda, 18 Oktober 2011. Indonesia dengan potensi sumber daya alam yang cukup besar menghadapi berbagai tantangan lingkungan hidup baik berupa kerusakan maupun pencemaran lingkungan akibat tekanan berat dari aktifitas kegiatan manusia yang menghasilkan gas rumah kaca (GRK). Untuk itu perlu adanya peran aktif para peneliti dan dunia usaha dalam pengembangan teknologi rendah karbon. Demikian cuplikan sambutan yang disampaikan Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim yang diwakili oleh Asisten Deputi Urusan Mitigasi dan Pelestarian Fungsi Atmosfir pada pembukaan Simposium Mitigasi, Adaptasi dan Pendanaan Perubahan Iklim tanggal 18 Oktober 2011 di Aston Hotel, Samarinda.

Dalam sambutan pembukaan oleh Gubernur Kalimantan Timur yang diwakili oleh Prof Dr. Daddy Ruhiyat mengatakan bahwa  peran penelitian khususnya yang berkaitan dengan berbagai aspek mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sangatlah strategis dalam mengarahkan kebijakan dan peraturan daerah yang diperlukan. Terlebih-lebih Kalimantan Timur bertekad kuat mendukung kebijakan nasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 % per tahun dan menekan emisi karbon sebesar 26 % sampai akhir tahun 2020 nanti.

Masalah perubahan iklim ini ditengarai dengan beberapa karakteristik antara lain: kompleks, saling ketergantungan, munculnya konflik kepentingan serta ketidak pastian sehingga perlu dijalin berbagai berbagai komitmen. Demikian sambutan sekaligus pembukaan  yang disampaikan oleh Prof.Dr. H. Zamruddin Hasid, SE, SU., Rektor Universitas Mulawarman. Untuk itu UNMUL sangat berkepentingan untuk mendukung setiap keputusan para pemangku kebijakan mendasari keputusannya berlandasan kajian ilmiah melalui riset (research based decission) sehingga ter-implementasi-nya konsep pembangunan green ekonomi yang telah dicanangkan oleh pemerintah (socialy equitable, economicaly viable and environmentaly sustainable).

Agenda Simposium ini mempresentasikan kegiatan riset dan kajian ilmiah serta beberapa kebijakan dan program yang terkait dengan penyelenggaraan inventarisasi Gas Rumah Kaca (Perpres Nomor 71 Tahun 2011), Peran IPCC Indonesia: dalam Penyusunan Assessment dan Special Reports Adaptasi Perubahan Iklim dan Ruang Lingkup Program Kerja 2012 – 2015 IPCC-Indonesia.

Dalam Sesi penelitian terkait dengan mitigasi  perubahan iklim disajikan beberapa paparan antara lain :

  1. Peranan monocable winch (mesin pancang)  di dalam kegiatan  Reduce Impact Logging (Dr. Yosep Ruslim, M.Sc)
  2. Synkroni keragaman biodiversity dan stabilitas ekositem kawasan hutan tropis dalam perspektif pemanasan global (Dr. Yaya Rayadin, MP)
  3. Kajian beberapa penelitian berkaitan dengan stok karbon di Kalimantan Timur  (Ishak Yassir, S.Hut,M.Sc. )

Sedangkan sesi terkait penelitian adaptasi perubahan iklim antara lain :

  1. Pemanfaatan limbah padat kelapa sawit sebagai bahan baku bio energi  (Yuliansyah, MP)
  2. Persepsi perubahan perikanan tangkap kaitannya dengan  perubahan iklim  (Dr. Muh. Syahrir Ramang, M.Si.)
  3. Peranan diversifikasi pangan dan pola komsumsinya dalam mendukung Ketahanan Pangan  (Dr. Ir. Krishna Purnawan Candra, M.S. )

Pada sesi penutup disampaikan hasil rumusan simposium ini antara lain sebagai berikut :

  • Prinsip dari Pelaksanaan Inventarisasi GRK Nasional sebagaimana tertuang dalam Perpres No. 71 Tahun 2011 adalah diperolehnya informasi mengenai tingkat, status dan keterangan perubahan emisi,serapan GRK, simpanan karbon di tingkat nasional, provinsi, dan kab/kota dalam rangka pencapaian Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK).
  • Berdasarkan pemetaan KLH, ada beberapa daerah yang dianggap mempunyai potensi untuk dilakukan Kajian Kerentanan & Resiko Adaptasi Perubahan Iklim (KRAPI). Di beberapa daerah, sudah mulai memahami bahwa kajian kerentanan merupakan aspek yang penting untuk mendukung perencanaan pembangunan daerah.
  • Saat ini IPCC Indonesia telah menyusun Ruang Lingkup Program Kerja 2012 – 2015 yang terbagi ke dalam 5 Kelompok Kerja yakni: Energi,  Pangan, Kehutanan, Kelautan dan Iklim. Ruang lingkup ini tidak bersifat mutlak dan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan. Dalam rangka peningkatan jejaring data/informasi dan publikasi laporan yang dihasilkan oleh kelompok kerja telah dibuat website IPCC Indonesia dengan alamat www.ipcc-indonesia.org.
  • Poin terpenting dari hasil penelitian mitigasi perubahan iklim, telah dirancang mesin pancang (monocable winch) di dalam kegiatan  Reduce Impact Logging yang dapat mengurangi degradasi hutan. Untuk itu perlu segera pembuatan hak paten terhadap peralatan tersebut.
  • Indonesia telah menetapkan rencana nasional terkait dengan peningkatan biofuel sebesar 3% di 2015 dan 5% pada 2025. Salah satu penelitian yang mendukung terhadap kebijakan ini adalah telah dilakukan kajian metode pengumpulan tandan kosong dimanfaatkan sebagai bahan baku bio pellet  yang mempunyai potensi menggantikan batubara.
  • Hasil penelitian lain terkait perikanan dan pangan, telah dilakukan kajian yang membuktikan bahwa perubahan iklim telah mengakibatkan cyclone yang akan mengakibatkan terganggunya hasil perikanan tangkap. Selain itu perubahan iklim juga berpotensi menyebabkan terjadinya krisis pangan.
  • Dalam rangka merespon isu perubahan iklim, provinsi Kalimantan Timur telah mendeklarasikan program Kaltim Hijau (Kaltim Green). Implementasi dari program ini telah dilakukan di beberapa kabupaten diantaranya adalah  pengembangan Program Karbon Hutan Berau (Berau Forest Carbon Program).

 

Informasi lebih lanjut:

Asisten Deputi Urusan Mitigasi dan Pelestarian Fungsi Atmosfir

Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim,
Tel/Fax: 0218517164

email: ipccindonesia@gmail.com