KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Yogyakarta, 17 Juni 2014. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengadakan Rapat Koordinasi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RAKOR PPLH) Ekoregion Jawa serta Peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY) Tahun 2014 yang berlangsung tanggal 17  hingga 18 Juni 2014 di Yogyakarta. Tema dari Rakor ini adalah “Sinergitas Kegiatan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam rangka Penurunan Beban Pencemaran dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan di Ekoregion Jawa”, sedangkan tema Peringatan HLH di DIY Tahun 2014 adalah “Satukan Langkah, Lindungi Ekosistem Pesisir dari Dampak Perubahan Iklim”.

Dalam era otonomi daerah, urusan lingkungan hidup berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada dasarnya menjadi urusan wajib daerah. Mengingat permasalahan lingkungan hidup bersifat lintas batas (transboundary) dan saling ketergantungan (interdependensi), maka kegiatan pembangunan termasuk di dalamnya kegiatan pengelolaan lingkungan hidup mewajibkan kepada penyelenggara pemerintahan untuk menyusun rencana secara sistematis dan terpadu dalam rangka keberlanjutan ekologi (ecology sustainability), keberlanjutan ekonomi (economy sustainability) dan keberlanjutan sosial (social sustainability).

Oleh karena itu, penyelenggaraan Rakor PPLH dan Peringatan Hari Lingkungan Hidup DIY Tahun 2014 secara bersama antara Pusat Pengelolaan Ekoregion (PPE) Jawa sebagai perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi DIY, patut diberikan apresiasi dan hal ini merupakan bentuk konkrit dari sinergitas, sehingga menjadi relevan dengan tema RAKOR PPLH Ekoregion Jawa Tahun 2014.

Permasalahan wilayah pesisir pada umumnya berupa konflik pemanfaatan ruang, kemiskinan masyarakat pesisir (80% relatif miskin dengan tingkat pendidikan rendah), degradasi ekosistem dan sumber daya alam dimana 42% terumbu karang rusak berat, 29% rusak, 23% baik dan hanya 6% sangat baik, kerusakan 40% hutan mangrove serta berkurangnya stok sumber daya ikan. Ekosistem pesisir laut yang identik dengan pasang surut, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim khususnya dari kenaikan permukaan laut. Mangrove, padang lamun dan terumbu karang yang merupakan bagian ekosistem pesisir disamping mempunyai fungsi bagi lingkungan, juga merupakan indikator baik tidaknya ekosistem pesisir laut itu sendiri.

Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA mengatakan “Kita semua menyadari bahwa upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup tidak mungkin dapat terlaksana bila hanya dilakukan oleh instansi lingkungan hidup saja, karena sesungguhnya urusan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup telah melekat di berbagai sektor terlebih lagi pada era otonomi daerah ini. Oleh karena itu, sinergitas dan koordinasi merupakan keniscayaan yang harus terus menerus dilakukan dan inilah tujuan hakiki dari penyelenggaraan RAKOR Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup apabila kita ingin menyelamatkan bumi dan lingkungan dari kehancuran serta keberlanjutan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup”.

Menteri Lingkungan Hidup juga memberi apresiasi bahwa pada RAKOR PPLH Ekoregion Jawa Tahun 2014 dan Peringatan Hari Lingkungan Hidup DIY Tahun 2014 ini dilakukan Penyerahan Hadiah Kalpataru Tingkat DIY Tahun 2014, Penyerahan Penghargaan Program Minimalisasi Air Limbah (W2M) Tingkat DIY Tahun 2014, dan Penandatanganan Deklarasi Hotel Menuju Ramah Lingkungan yang diikuti oleh 20 Hotel di wilayah DIY, sehingga ada kesungguhan baik dari orang perorangan maupun dunia usaha untuk menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup.

Informasi lebih lanjut:
DR. Drs. Sugeng Priyanto, M.Si,
Kepala Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa,
Tlp/Fax: (024) 620702 / 620799,