KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Kin-moon sangat berharap konferensi ke 9 Konvensi Basel di Nusa Dua Bali menghasilkan keputusan berharga bagi masyarakat dunia. Tentu terutama mengenai pengelolaan limbah beracun dan berbahaya (B3) yang dapat mengancam keselamatan manusia dan lingkungan.

Harapan itu, disampaikan melalui sambutan tertulis yang dibcakan oleh salah seorang direktur di PBB, El Mustofa Ben Lamlih  pada persidangan COP 9 di Nusa Dua, Menurut Ban Kin-moon, setelah 20 tahun Konvensi Basel kini memasuki babak baru yang lebih menantang selain penanganan limbah B3, termasuk limbah elektronik yang akan menjadi masalah besar.

Namun memenuhi harapan ini tentu tidak mudah. Sekretaris Eksekutif Konvensi Basel, Katharina Kummer Peiry, mengaku data yang akurat dan tepat tentang volume limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) yang dihasilkan setiap negara di seluruh dunia sulit diperoleh. Padahal selama ini Sekretaris Konvensi Basel sangat bergantung kepada laporan tahunan dari para negara peserta konvensi, dan tidak semua negara melaporkan limbah B3nya ke secretariat Konvensi Basel.

Selain itu, kata Katharina, ada perbedaan system pendataan di setiap negara. Tahun 2000, Sekretariat Basel mencatat jumlah limbah B3 sebanyak 318 juta ton.

Sementara pada tahun 2001 naik jadi 338 juta ton. Data ini menjadi tidak akurat, ketika negara-negara maju yang tergabung dalam OECD melaporkan bahwa selama tahun 2001 limbah B3 yang dihasilkan oleh 25 negara anggota mereka sudah mencapai 4 miliar ton.

Di Dalam Negeri

Ketidakakuratan data limbah B3 juga terjadi di Indonesia. Pasalnya selain spesifikasi limbah B3 yang dianut oleh Indonesia bisa berbeda dengan yang dianut oleh Singapura, limbah produksi dalam negeri juga sukar didapat. Ini akibat rendahnya pemahaman dan minimnya penaganan.

Pertemuan Konvensi Basel bertujuan mengatur perpindahan lintas batas dan pembuangan limbah B3 dan Indonesia berupaya mencegah penyebarannya agar tidak mengancam keselamatan manusia dan lingkungan.

Sumber :
Koran Surya Pagi
Edisi 07-13 Juli 2008