KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA


SOLAR
HIJAU, BAHAN BAKAR ALTERNATIF
BUATAN DR
HAFNAN SETELAH TERINSPIRASI EROPA YANG PUNYA CAMPURAN SEPERTI SUSU

Setelah
enam tahun meneliti, Dr Ir M. Hafnan MEng akhirnya menemukan sebuah racikan zat
aditif yang bisa mencampurkan solar dengan air. Formula yang dia beri nama
solar hijau itu diklaim lebih ramah lingkungan dan bisa menghemat penggunaan
solar.

Jumat pekan lalu (5/12), Hafnan bersama timnya mempresentasikan temuannya itu
di kantor Ditjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM).

Ikut mendengarkan dalam presentasi tersebut, Dirjen Migas Dr Ing Evita H.
Legowo serta beberapa pejabat di kantor tersebut. Di antaranya, Ir Saryono
Hadiwidjoyo SE (direktur pengembangan hilir gas dan minyak) dan Ir Suyartono MSc
(direktur di Direktorat Teknik dan Lingkungan Migas).

Selain para pejabat di lingkungan Departemen ESDM, hadir pula John S. Karamoy,
mantan praktisi perminyakan yang pernah menjadi president director PT Medco
Energy International dan Slamet Wahyudi, salah satu sponsor dalam penelitian
Hafnan yang juga pencinta lingkungan dari Gresik.

Dalam presentasinya, Hafnan menyatakan bahwa apa yang dia lakukan dengan
mencampurkan solar dengan air secara prinsip sesungguhnya sudah dilakukan di
luar negeri sejak 1980-an, terutama di beberapa negara di Eropa dan AS. ”Di
Eropa dikenal dengan nama water blend diesel fuel,” ungkap pria yang mendalami
combustion engine (motor bakar) di Ritsumeikan University Kyoto, Jepang, tersebut.

Lantas, apa beda temuan Hafnan dengan water blend diesel fuel (WBDF)? Menurut
Hafnan, WBDF adalah campuran solar dengan air berbentuk milky (seperti cairan
susu). ”Kalau bentuknya seperti susu, rasanya kurang enak kalau dibuat bahan
bakar,” ujar pria yang sehari-hari menjabat ketua Pusat Studi Teknologi
Industri Tepat Guna (PS-TITG) di Universitas Trisakti, Jakarta, itu.

”Formula saya, setelah dicampur solar, air akan menyatu dengan solar, setelah
ditambahkan zat aditif tertentu. Formula dari zat aditif itu adalah temuan
saya,” paparnya.

Jawa Pos yang ikut dalam presentasi di kantor Ditjen Migas itu menyaksikan
Hafnan memamerkan formulanya. Pertama, dia mengambil air di dalam tabung, lalu
dicampurkan dalam tabung yang sudah berisi solar. Dengan sebuah alat, campuran
air dan solar itu diaduk, kemudian ditambahkan zat aditif. Tak lama berselang,
setelah alat pengaduk dihentikan, warna campuran cairan tersebut sama seperti
warna solar semula.

”Seberapa stabil campuran itu? Jangan-jangan nanti antara air dan solarnya
misah?” tanya salah seorang staf di Ditjen Migas yang menyaksikan demo
tersebut.

”Saya menjamin kestabilan cairannya. Di laboratorium saya ada campuran seperti
ini yang saya bikin sejak 2003. Sampai sekarang masih menyatu dengan baik.
Jadi, nggak akan misah antara air dan solarnya,” tegas Hafnan yang pernah
tinggal di Jepang selama 10 tahun itu.

Keunggulan lain formula Hafnan tersebut, jika digunakan sebagai bahan bakar,
akan bisa menurunkan emisi hingga 40 persen. ”Jika di Eropa, bisa menurunkan
emisi 20 persen,” katanya.

Karena mampu menurunkan emisi lebih banyak, formula campuran solar dan air
dianggap sebagai bahan bakar ramah lingkungan. ”Karena itu, formula ini saya
namakan solar hijau,” ungkapnya.

Hafnan menambahkan, solar hijau sudah dites di Laboratorium Motor Bakar dan
Sistem Propulsi (LMBSP) Departemen Teknik Mesin ITB pada 12-14 Juli 2005 dan
1-4 Agustus 2005. Sertifikat hasil pengujian ITB itu ditunjukkan dalam
presentasi tersebut.

”Hasil tes di ITB menunjukkan bahwa pada pembakaran dengan solar hijau,
terjadi penurunan emisi gas buang NOx maksimal 42 persen; CO maksimal 22,6
persen; dan opasitas maksimal 3,2 persen,” paparnya.

Selain itu, pada sertifikat yang ditandatangani Kepala LMBSP ITB Dr Iman K.
Reksowardojo itu disebutkan bahwa penggunaan solar hijau bisa menghemat bahan
bakar maksimal 12 persen pada beban mesin tinggi (80 persen). Disebutkan pula,
pemakaian solar hijau tidak mengganggu kinerja mesin maupun merusak mesin.

Seperti apa komposisi formula solar hijau? Hafnan menjelaskan komposisinya,
solar 75 persen, zat aditif 15 persen, dan air 10 persen. ”Zat aditifnya dari
crude oil dan bahan kimia,” ucap pria 48 tahun tersebut.

Lebih lanjut soal zat aditif itu, kata Hafnan, dirinya meracik dari empat
unsur. Yang tiga unsur merupakan produk komersial, diambil dari produk olahan
yang tersedia dalam negeri.Unsur keempat, kata dia, adalah unsur turunan dari
minyak mentah (crude oil) yang sementara ini diambil dari Tiongkok
(Petrochina).”Keempat unsur itu saya racik, saya formulakan, kemudian menjadi
sebuah karya yang sudah saya patenkan,” tegasnya.

Berarti, salah satu unsur untuk zat aditifnya berasal dari Tiongkok? Itu diakui
Hafnan. ”Kalaupun kita datangkan dari sana
(Tiongkok), harganya relatif murah,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut dia, di Indonesia juga ada. ”Itu sangat bergantung pada
Pertamina. Sebab, mereka sebenarnya punya bahan baku untuk zat aditif itu,” ungkapnya.

Mengapa Pertamina tak memanfaatkannya? Hafnan menyatakan karena tak ada
permintaan. ”Petrochina mau memproduksi dan mengolahnya karena ada permintaan
untuk digunakan sebagai stabilizer,” kata bapak tiga anak tersebut.

Harus Berkali-kali Tes, Sekali Tes Rp 200 Juta

Ada yang sangat yakin, solar hijau bisa menjadi bahan bakar alternatif yang
lebih memiliki nilai ekonomis. Tapi, ada juga yang masih meragukan.

Enam tahun melakukan penelitian, bagi Dr Ir M. Hafnan MEng bukanlah waktu lama.
"Di Jepang, orang yang menemukan karburator mesin mini, butuh waktu
meneliti hingga 20 tahun," kata pria 48 tahun yang sempat tinggal di
Jepang bersama keluarga selama 10 tahun ini. "Karena itu, kalau saya
meneliti hanya enam tahun, itu tidak ada apa-apanya," ujar bapak tiga anak
yang mendalami combustion engine (motor bakar) diRitsumeikan University Kyoto, Jepang itu.

Bagi Hafnan, yang menjadi kendala dalam melakukan penelitian bukanlah soal
waktu, tapi lebih pada soal dana. Itu karena sebelum akhirnya menemukan formula
solar hijau, Hafnan harus melakukan beberapa kali tes. "Untuk diuji di
laboratorium, biayanya mahal," katanya. Hafnan lantas mencontohkan, untuk
menguji performance formulanya di PLN selama satu bulan, butuh anggaran antara
Rp 100 juta – Rp 200 juta. "Itu baru satu kali tes. Padahal, temuan saya
harus berkali-kali dites," lanjutnya. Beruntung, beberapa pihak bersedia
mendanai penelitian Hafnan. "Di antara yang membantu saya adalah Pak
Slamet Wahyudi dari Gresik," tuturnya.

Selain terbentur soal anggaran, mencari objek yang mau menjadi ajang uji coba
juga tidak mudah. "Rata-rata mereka beralasan takut mesinnya rusak kalau
dijadikan uji coba," ujarnya.

Setelah mencari ke sejumlah daerah, Hafnan akhirnya berhasil menemukan tempat
untuk menguji solar hijau. Yakni, di mesin diesel milik PLTD (Pusat Listrik
Tenaga Diesel) Sungai Kupang, di Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kota Baru,
Kalimantan Selatan. Uji coba tersebut dilaksanakan pada Februari 2006.

Spesifikasi mesin yang dijadikan alat uji coba saat itu adalah Diesel Engine
Deutz BF8 (1996), 8 cylinder V Engine, 280 kVA, 1.500 rpm.

Hafnan lantas menunjukkan selembar kertas yang diteken Kepala Kantor Pembangkit
PLTD Sungai Kupang, yang berisi penjelasan hasil uji coba solar hijau. Hasilnya
menyebutkan antara lain, emisi gas buang menjadi bersih. Selain itu, tidak
terjadi gangguan kinerja maupun kerusakan mesin, dan tidak terjadi pemborosan
bahan bakar.

Dari hasil uji coba di PLTD tersebut, Hafnan yakin, jika mau menggunakan solar
hijau untuk bahan bakar mesin pembangkit listriknya, PLN akan bisa menghemat
anggaran pembelian solar. Dia lantas memberi gambaran, dari data yang dia
peroleh, kebutuhan solar untuk mesin pembangkit listrik PLN se-Indonesia
sekitar 40 juta liter per hari. "Dengan menggunakan solar hijau, akan bisa
menghemat solar 4 juta liter per hari," katanya, yakin.

John S. Karamoy, praktisi perminyakan tanah air, ketika mendengarkan paparan
Hafnan soal solar hijau di Kantor Ditjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Departemen
ESDM Jumat pekan lalu, menyatakan ketertarikannya. "Apa yang dipaparkan
Hafnan sangat masuk akal. Bagi saya, ini sebuah karya yang butuh pengakuan dari
instansi yang berwenang untuk dikembangkan lebih lanjut penerapannya,"
kata John yang mantan President Director PT Medco Energy International itu.

Hafnan berharap, melalui Dirjen Migas, solar hijau bisa mendapatkan spesifikasi
khusus sebagai bahan bakar yang bisa dijual di pasaran. Tapi, untuk menuju ke sana, menurut Dirjen
Migas Dr Ing Evita H. Legowo, harus melewati beberapa tahapan.

Sebagai tahap awal, bisa saja spesifikasi khusus itu diberikan, asal lebih dulu
melewati tahap uji lain serta pemakaian terbatas. Misalnya, solar hijau itu
digunakan di lingkungan industri tertentu, dengan catatan, pihak pemakai lebih
dulu memberikan pernyataan bahwa mereka tidak keberatan menggunakan solar hijau
dan siap dengan risiko yang terjadi.

Kepada Jawa Pos Jumat lalu (12/12) Evita mengatakan, pihaknya melalui
Direktorat Hilir Migas hingga kini masih mempelajari temuan yang
dipresentasikan Tim Solar Hijau tersebut.

Dia menambahkan, hingga kini pihaknya belum bisa menilai apakah teknologi solar
hijau memang feasible dan layak dikembangkan secara komersial. ”Masih
dipelajari mendalam, tapi belum ada laporan akhirnya,” ujarnya.

Di bagian lain, formula solar hijau karya Hafnan itu juga ditanggapi beberapa
ahli kimia. Salah satunya, Lisminto, ketua DPP Aprobi (Asosiasi Produsen
Biofuel Indonesia).
"Yang perlu diperhatikan di sini adalah air itu bukan sumber energi. Jadi,
jangan sekali-kali menganggap air bisa menggantikan fungsi bahan bakar,"
kata alumni Teknik Kimia ITB angkatan 1977 itu.

Lisminto mengaku sudah bertemu Hafnan dan berdiskusi panjang lebar seputar
solar hijau. "Terus terang, saya masih ragu dengan temuan Pak
Hafnan," kata peraih ASEAN engineering award ini.

Solar hijau temuan Hafnan, lanjutnya, tidak bisa dimanfaatkan pada kondisi
mesin diesel yang pembakarannya ideal. "Solar hijau baru bisa digunakan
jika pembakaran mesin tidak ideal," tambahnya.

Lisminto lantas menerangkan, pada pembakaran ideal, dihasilkan CO2 + H2O.
"Pada kondisi ini, penambahan air (H2O) tidak akan berguna," katanya.

Pada kondisi pembakaran tidak ideal, selain menghasilkan CO2 + H2O, juga
menghasilkan CO + C. "Pada kondisi seperti inilah, penambahan air dan zat
aditif bisa berguna," ujarnya. Yakni, menyempurnakan pembakaran.
"Penambahan air bisa mengubah CO + C menjadi CO2," lanjutnya.
"Ini yang saya maksud, solar hijau hanya bisa digunakan untuk mesin yang
sistem pembakarannya tidak ideal," tandasnya.

Meski demikian, Lisminto mengaku sangat respek dengan hasil penelitian Hafnan.
"Saya menghargai penelitiannya," lanjutnya.

Merespons pendapat Lisminto, Hafnan mengatakan, perlu didiskusikan kembali
tentang definisi pembakaran ideal. "Pembakaran ideal yang menghasilkan CO2
dan H2O seperti yang disampaikan Pak Lisminto, dalam kenyataannya sangat sulit
ditemui pada mesin-mesin dewasa ini, meski kondisi mesinnya masih baru sekali
pun. Karena itu, hanya ada pada tataran teoretis," terangnya. Itu terjadi
karena sangat terkait dengan mutu bahan bakar.

Pembakaran ideal, kata Hafnan, bahan bakarnya harus mengandung O2 (oksigen)
yang cukup. "Padalah, bahan bakar yang ada sekarang, hampir tak ada yang
mengandung O2, tapi memang mudah mengikat O2," katanya.

Dari sinilah, solar hijau bisa dimanfaatkan. "Temuan saya ini prinsipnya
adalah men-treatment bahan bakar," katanya.

Meski demikian, Hafnan tetap menghargai pendapat Lisminto. "Saya siap
mempresentasikan solar hijau di depan para ahli agar saya bisa menerima masukan
sebanyak-banyaknya," kata dosen combustion engine (pembakaran mesin) di
Universitas Trisakti itu.

Hafnan memang sangat terbuka kepada siapa saja yang ingin tahu lebih banyak
soal solar hijau temuannya. Termasuk, dia juga siap berdiskusi dengan
pihak-pihak yang meragukan temuannya. "Nawaitu (niat) saya adalah mencari
bahan bakar alternatif yang lebih memiliki nilai ekonomis dan lebih ramah
lingkungan," lanjutnya.

Sumber:
http://www.jawapos.co.id/halaman/ind…tail&nid=41016
http://www.jawapos.co.id/halaman/ind…tail&nid=41146

http://kaskus.us/showthread.php?t=1272583