KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

pus_1.jpgTangerang, 24 Desember 2008. Program pemantauan, pengelolaan dan pengendalian terhadap Sungai Cisadane sudah banyak dilakukan oleh berbagai pihak terkait, tetapi sampai saat ini kualitas Sungai Cisadane masih jauh dari harapan, masih kurangnya program-program yang berorientasi pada perbaikan perilaku ramah lingkungan dan berbasis masyarakat.

Sejak tahun 2003, Pusarpedal bekerjasama dengan BPLHD Prov Jawa Barat, Dinas LH kab Bogor, Dinas LH Kota Bogor, Bapedalda Provinsi Banten, Dinas LH Kab. Tangerang, dan Dinas LH Kota Tangerang, melakukan pemantauan kualitas Sungai Cisadane dan hasil pemantauan tsb menunjukkan indikasi bahwa kualitas Sungai Cisadane cenderung melebihi Kriteria Mutu Air Kelas 1 PP 82/2001. Kondisi tersebut ditunjang dengan fakta di lapangan bahwa sampah padat di badan sungai semakin meningkat, rusaknya bantaran sungai akibat galian golongan C, semakin berkurangnya volume air, sangat tingginya jumlah bakteri koliform, tingginya nilai Fenol, Cl2, BOD dan COD, rendahnya DO terutama di hilir.

pus_2.jpgBerdasarkan fakta tersebut, maka untuk memulihkan kualitas Sungai Cisadane dengan kegiatan pemantauan saja belum cukup sehingga harus dipadukan suatu kegiatan yang mengkolaborasikan pemantauan dengan kegiatan yang mengimplementasi hasil-hasil pemantauan pada masyarakat.  Pusarpedal bekerjasama dengan Kelurahan Koang Jaya Kota Tangerang dan Asosiasi Toilet sebagai narasumber mengadakan acara Sosialisasi Kepedulian Masyarakat terhadap Kualitas Sungai Cisadane yang dilaksanakan di Kelurahan Koang Jaya pada tanggal 24 Desember 2008 yang melibatkan sekitar 150 orang warga setempat yang terdiri dari Tim Penggerak PKK,  wakil dari Dinas/Kantor dan wakil dari PDAM Kota Tangerang serta wakil dari Bapedalda Prov. Banten.

Kelurahan Koang Jaya RW03/RT02, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang merupakan salah satu daerah dekat dengan sungai Cisadane dan berpotensi memberikan sumbangan sumber pencemar ke sungai Cisadane melalui saluran pembuangan rumah tangga yang berakses langsung ke sungai. Sebelum sosialisasi dilaksanakan, telah dilakukan survey awal pada tanggal 24 November 2008 dengan melihat kualitas air saluran pembuangan berdasarkan parameter DO, BOD, COD, T-Koliform dan E.coli yang digunakan sebagai indikator kualitas air pembuangan tsb. Hasil survey awal tersebut menunjukkan beban polutan oraganik cukup tinggi, diindikasikan dari nilai DO yang cukup rendah, nilai BOD, COD cukup tinggi demikian juga dengan jumlah E.coli dan T-Koliform sudah melebihi Kriteria Mutu Air Kelas II PP 82/2001. Sebagai salah satu sumber polutan ke Sungai Cisadane kondisi ini selayaknya menjadi suatu perhatian sehingga polutan yang masuk ke Sungai Cisadane melalui saluran rumah tangga tidak semakin bertambah besar.

pus_3.jpgJumlah E.coli dan Total Koliform yang sangat tinggi menjadi salah satu indikasi bahwa pengelolaan sanitasi di Kelurahan Koang Jaya belum tertata dengan baik. Bakteri tersebut adalah indikator higienitas, bakteri tersebut tidak bersifat pathogen tetapi adanya bakteri tersebut dalam jumlah yang sangat besar (diatas batas yang ditentukan) dapat dijadikan indikasi bahwa di lingkungan tersebut terdapat bakteri pathogen sebagai penyerta. Bakteri inilah yang dikhawatirkan dapat menyebabkan wabah penyakit pada masyarakat, seperti kolera, desentri, muntaber.

Indikasi tingginya polutan organik dalam saluran pembuangan warga berasal dari sisa-sisa aktifitas harian seperti : sisa makanan (nasi, mie, roti, sayur, dll) , sisa minuman (kopi, susu, soft drink, dll), sisa mandi (air sabun, sampho, dll), sisa metabolisme tubuh.

Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi kegiatan awal bagi usaha peningkatan kesadaran masyarakat sekitar sungai dan akan menjadi kegiatan berkelanjutan. Kegiatan yang berbasis masyarakat sangat diperlukan dewasa ini dalam rangka mengurangi beban polutan yang masuk ke Sungai Cisadane. ams

Sumber:
PUSARPEDAL SERPONG
A.M.Soleh