KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Rumah Liar (RULI) merupakan salah satu permasalahan di kota Batam. Disamping membuat wajah kota menjadi tidak tertata baik dan kumuh, pencemaran yang ditimbulkan dari kegiatan pembuatan tahu di rumah-rumah liar tersebut akan menambah kotor  kondisi lingkungan disekitarnya. Selain mencemari juga dapat menurunkan kondisi kesehatan para penghuni rumah liar. Deputi Pengendalian Pencemaran cq.Asisten Deputi Pengendalian Pencemaran   Agroindustri dan Usaha Skala Kecil bekerjasama dengan Koperasi Pajajaran Batam pada tanggal 30 Oktober 2012 menyelenggarakan Sosialisasi Pengendalian Pencemaran Limbah Tahu/Tempe se-Kota Batam. Acara  dibuka oleh Deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungan KLH,yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua DPRD Kota Batam dan Ketua Koperasi Pajajaran. Selanjutnya ,Asisten Deputi Pengendalian Pencemaran Agroindustri dan Usaha Skala Kecil menyampaikan Kebijakan Pengendalian Pencemaran Usaha Skala Kecil Tahu/Tempe dan Kepala Biro BLH kota Batam menyampaikan mengenai Pengendalian Pencemaran di kota Batam. Acara sosialisasi kemudian  diakhiri dengan paparan presentasi oleh Ir Pramiyati dari Universitas Gajah Mada mengenai Teknologi Pengolahan Limbah Tahu/Tempe.

Para pengrajin tahu/tempe di Kota Batam terwadahi didalam Koperasi Pajajaran yang dipimpin oleh Bapak Obos Bastaman. Saat ini Koperasi Pajajaran telah mempunyai rencana untuk merelokasi para pengrajin tahu/tempe penghuni rumah liar kedalam suatu sentra usaha skala kecil di lokasi milik Koperasi Pajajaran. Rencananya peletakan batu pertama akan dilakukan oleh Gubernur Kepulauan Riau pada bulan Desember 2012. Sebetulnya ada peluang untuk ekspor tahu/tempe dari Batam  ke Singapur dan Johor, namun  harus memenuhi persyaratan yaitu tempat produksi tahu/tempe harus hygienis dan air limbah harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan.

Target output  sosialisasi ini adalah memberikan penjelasan kepada pengrajin mengenai proses produksi tahu yang efisien dan hygienis, serta pemanfaatan limbah tahu baik padat (ampas tahu) maupun air limbahnya. Melalui sosialisasi ini diharapkan para pengrajin selain mengerti mengenai perlunya pengelolaan lingkungan juga mendapatkan pemahaman  bahwa dengan mengelola air limbah tahu/tempe selain memperbaiki kondisi lingkungan juga akan memberikan  manfaat ekonomi tambahan yaitu mendapatkan biogas sebagai sumber energy sebagai pengganti kayu bakar. Lingkungan sehat, tubuh juga sehat karena tidak menghirup asap dari kayu bakar dan sekaligus mengurangi penggunaan kayu sehingga tidak merusak hutan di Kota Batam.

Para pengrajin tahu/tempe dikota batam sangat mengharapkan adanya contoh proses produksi tahu yang hygienis dan pemanfaatan air limbah tahu menjadi biogas di sentra yang sudah disediakan oleh Koperasi Pajajaran.

Sumber: