KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

ecopesantren.jpgKerusakan Lingkungan yang sangat dahsyat sekarang ini, diprediksi akan terus meningkat. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya perubahan secara  global di dunia yang sangat drastis, dalam satu detik saja terjadi berbagai perubahan seperti :

•    390.000 m3 CO2 diemisikan keudara.
•    1629 m3 of gletser di Greenland mencair
•    710 tis O2 berkurang dari atmosfir
•    2.300 m2 lahan produktif menghilang
•    5.100 m2 hutan alami lenyap
•    Kenaikan populasi mencapai 2,4 orang (200.000) jiwa/hari).

Krisis yang berkepanjangan telah menghapus keberhasilan berbagai program untuk mensejahterakan masyarakat, baik dalam penataan lingkungan, ekonomi maupun sosial. Oleh karena itu diperlukan pola baru dalam membangun masyarakat yang lebih berbasis pada nilai-nilai kehidupan masyarakat/komunitas, Eco-Pesatren di antaranya, Program ini  diharapkan dapat memberikan nuansa baru bagi Pondok Pesantren untuk memelopori berbagai kegiatan ramah lingkungan, sehingga mampu menjadi agen perubahan khususnya dalam pengelolaan lingkungan  yang lebih islami. Pembentukan Kader Lingkungan Pondok Pesantren sangat strategis, mengingat di Jawa Barat saat ini terdapat lebih dari 4.600 Pontren, 43.800 Masjid, 90.700 langgar dan 24.000 mushola. Demikian antara lain disampaikan oleh Dr. Ir. Setiawan Wangsaatmaja, Dipl, ME, M.Sc, Kepala BPLHD Provinsi Jawa Barat dalam sambutan pembukaan Sosialisasi Program Eco-Pesantren dan Pembentukan Kader Lingkungan Pondok Pesantren Cluster Bogor, Sukabumi dan Cianjur  Tahap II yang  dihadiri oleh +  90 orang  Kyai dan Ustadz  perwakilan dari 30 Pondok Pesantren dari Kota Bogor,  Kab. Bogor, Kota Sukabumi, Kab. Sukabumi dan  Kab.Cianjur, tanggal 16 Juni   2009 bertempat di Hotel Agusta, Sukabumi.


Sementara itu Ir. Bambang Widyantoro, Asisten Deputi Urusan Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan  dalam Keynote Speechnya mewakili Deputi VI, antara lain menyampaikan  Pandangan Islam tentang alam (lingkungan hidup) bersifat menyatu (holistic) dan saling berhubungan. Dalam Islam selain mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT (Habluminallah) diajarkan juga bagaimana mengatur keselarasan dan keserasian hubungan antara manusia dengan sesama manusia (Hablum minannas) dan bagaimana mengatur keselarasan dan keserasian hubungan antara manusia dengan alam (Hablum minal alam). Keselarasan dan keserasian hubungan manusia dengan alam inilah yang belum banyak dikembangkan dan ini merupakan ladang baru bagi para Kyai untuk mengembangkannya. Pandangan hidup ini mencerminkan pandangan hidup yang holistis karena manusia merupakan bagian dari ekosistem tempat  hidupnya dan bukan berada di luarnya.


Kegiatan yang diselenggarakan  atas kerja sama antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan  Yayasan Penduduk Peduli Lingkungan (PEPELING) Pimpinan Yan Asmi tersebut, menghadirkan pemateri utama K.H. Thonthowi D. Musaddad, MA. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Wasilah Garut dengan judul materi Kewajiban manusia dalam melestarian alam sesuai dengan perspektif Islam dan Ir. Abdul Hafid Paronda, MT, Direktur MASALIH Bekasi dengan judul materi Mengembangkan Jejaring dan kemitraan dalam mewujudkan Pondok Pesantren ramah lingkungan.


Kepada peserta selain  diberikan materi tersebut diatas, diberikan kesempatan mengikuti lomba proposal penyediaan sarana fisik pendukung Eco-Pesantren dan copy VCD Cara Pengolahan Sampah Organik di Kebun Karinda. (ws).

Sumber:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat perkotaan