KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

ecopesantren_riau.jpgBerbagai pesoalan lingkungan telah terjadi di Provinsi Riau seperti kondisi sumber daya alam dan lingkungan yang sudah sangat memperihatinkan, kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun. Asapnya menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat, mengganggu penerbangan dan bisa merusak hubungan dengan negara tetangga. Pencemaran air akibat aktivitas industri, permukiman dan sedimentasi telah menyebabkan kematian ikan dan biota perairan, pendangkalan sungai siak dan meningkatnya intensitas banjir yang menurut catatan ditahun 1970 an banjir disungai siak terjadi 5 tahun sekali, pada tahun 1980 an meningkat menjadi setiap tahun dan pada tahun 2000 sampai sekarang sudah lebih dari 5 kali setiap tahunnya, ini merupakan salah satu indikasi menurunnya kualitas lingkungan yang lajunya lebih cepat ketimbang dengan upaya perbaikannya. Pelibatan kalangan Pesantren sebagai mitra dalam pengelolaan lingkungan hidup sangat potensial mengingat jumlah pondok Pesantren yang banyak, dipesantren ada Kyai, walisantri/pengasuh dan para santri yang menjadi panutan masyarakat dan ucapan dan perbuatannya didengar dan diikuti oleh masyarakat. Demikian antara lain disampaikan oleh Ir. Sabar Ginting, MBA Kepala PPLH Regional Sumatera dalam sambutan pembukaan Sosialisasi Program Eco-Pesantren dan Pembentukan  Kader Peduli Lingkungan Pondok Pesantren Cluster Riau Tahap II yang  dihadiri oleh +  75 orang  Kyai dan Ustadz  perwakilan dari 25 Pondok Pesantren di Provinsi Riau, tanggal 1 Juli   2009 bertempat di Ball Room Hotel Grand Zuri, Pekanbaru.

Kegiatan yang diselenggarakan atas kerja sama antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau  ini, menghadirkan pemateri dari kalangan Birokrasi seperti Kepala BLH Provinsi Riau, Kepala Kanwil Dep. Agama Provinsi Riau dan Praktisi Lingkungan dari Perguruan Tinggi seperti Dr. Zulkayandri, M.Ag, Dosen UIN Pekanbaru, yang antara lain menyampaikan  bahwa melestarikan lingkungan hukumnya  wajib bagi manusia, mengingat kelangsungan hidup manusia dan alam sangat tergantung kepada sikap dan perilaku manusia sebagai Khalifah fil Ardh yang bertugas  mengelola dan memakmurkan bumi, melestarikan lingkungan juga sama nilainya dengan memelihara kelangsungan hidup manusia dan segala yang eksis di alam. Sebaliknya merusak lingkungan hidup dalam bentuk  apapun merupakan bumerang yang serius bagi kelangsungan hidup di alam dengan segala isinya.

Sementara itu Ir. Bambang Widyantoro dalam sambutan mewakili Deputi VI, antara lain menyampaikan  bahwa permasalahan lingkungan di kawasan perkotaan termasuk di Pondok Pesantren  pada umumnya tidak terlepas dari empat permasalahan besar yaitu pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau, pengelolaan sanitasi dan ketersediaan air bersih serta kondisi fisik bangunan, oleh karenanya melalui Program Eco-Pesantren ini, diharapkan dapat mendorong tumbuhnya berbagai inisiaitif dan inovasi dalam mengatasi permasalahan lingkungan, mampu menjadi percontohan dalam melakukan kegiatan yang ramah lingkungan seperti  yang dilakukan oleh ke 10 Pondok Pesantren penerima penghargaan Kalpataru dan lebih jauh lagi melalui fatwa dan berbagai kesempatan dalam dakwahnya para Kyai dan Pimpinan Pondok Pesantren dapat mengajak masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap lingkungan, memberikan masukan kepada para pengambil keputusan dan para hakim, sehingga dapat memberikan vonis yang setimpal dan memberikan efek jera terutama bagi para pelaku perusakan lingkungan dan pembalakan liar yang bila divonis berdasarkan hukum islam hukumannya  yang cukup berat dan mengerikan. Disampaikan juga bahwa kegiatan tersebut di tindaklanjuti dengan lomba proposal penyediaan sarana fisik pendukung Eco-Pesantren yang bertujuan antara lain untuk menumbuhkembangkan inovasi dan motivasi komunitas pondok pesantren dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang dihadapinya.


Kepada peserta selain  diberikan materi tersebut diatas, diberikan kesempatan mengikuti lomba proposal penyediaan sarana fisik pendukung Eco-Pesantren, copy VCD Cara Pengolahan Sampah Organik di Kebun Karinda.(ws).

Sumber:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat perkotaan