KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

n8ugi.jpgJakarta, 7 Maret 2007. Bekerjasama dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI), pada hari Rabu tanggal 7 Maret 2007, Kementerian Negara Lingkungan Hidup melaksanakan Sosialisasi Gerakan Sumur Resapan yang dihadiri oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Dirut Televisi Republik Indonesia (TVRI) beserta jajarannya. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan yang pernah dilakukan oleh BPLHD DKI pada tanggal 23 Pebruari 2007.

Sumur resapan adalah system peresapan buatan yang dapat menampung air hujan yang langsung melalui atap atau pipa talang bangunan, dapat berbentuk sumur, kolam, parit maupun lubang yang kesemuanya berfungsi untuk meresapkan air kedalam tanah atau mengisi kembali air tanah dangkal. Disini syarat yang harus dipenuhi adalah bahwa air yang diresapkan ke dalam tanah hanya air hujan yang tidak tercemar. Keguanaan sumur resapan ini adalah untuk menampung, menyimpan dan menambah kendungan air tanah atau menambah air di dalam tanah serta mengurangi limpasan air permukaan (run off) sehingga dapat dipanen dan dimanfaatkan pada musim kemarau.

Pembuatannya cukup mudah dengan biaya yang relative terjangkau namun manfaat yang didapatkan sangat banyak. Untuk daerah yang memiliki muka air tanah 2 meter diatas permukaan tanah maka pembuatan sumur resapannya sedalam 1.5 meter dengan kebutuhan 3 buah buis beton berdiameter 80 – 100 cm serta tutup beton dan kerakal dibagian dasarnya membutuhkan biaya sekitar Rp. 975.000,- tanpa memperhitungkan upah kerja. Pembuatan sumur resapan ini dapat diselesaikan 2 hari dengan 2 orang pekerja. Unruk rumah yang beratap 100 – 150 M2 diperlukan sumur resapan rata-rata sebanyak 5 buah.

Cara lain  meresapkan air adalah dengan membuat lubang resapan biopori. Cara ini dapat mengatasi rumah dengan halaman terbatas karena lubangnya berdiameter 10 – 15 cm dengan kedalaman 100 – 120 cm. Pembuatannya dapat menggunakan bamboo, pipa besi atau yang lebih awet adalah dengan bor tanah yang harganya sekitar Rp. 150.000 – 300.000,- per buah yang dapat dipakai secara terus menerus baik individu maupun kelompok rumah tangga serta dapat dilakukan oleh setiap orang. Lubang resapan biopori ini harus selalu diisi oleh sampah-sampah organic (daun-daun dan ranting-ranting dsb), dan penambahan secara terus menerus kira-kira setiap 5 hari sekali.

Cara ini dapat dikombinasikan dengan parit resapan atau areal resapan di hamparan terbuka lainnya. Jumlahnya bisa dibuat banyak dan ditempatkan di daerah air hujan yang terkumpul. Untuk setiap 50 m2 luas lahan diperlukan sekitar 10 lubang resapan biopori.

Pada areal terbuka seperti halaman atau taman rumah dapat dibuatkan pembatas tembok yang tingginya 5 – 10 cm sehingga air hujan mengumpul. Selanjutnya dibuat lubang resapan biopori yang tersebar di taman namun sebaiknya dibuat dekat tanaman sehingga tidak perlu disiram dan tidak kelebihan air pada musim hujan.

sumur_resapan2.jpgSumur ataupun lubang resapan ini dapat diterapkan di daerah perbukitan ataupun di dataran seperti Jakarta. Di DKI Jakarta sudah diperdakan sejak tahun 1991 dengan Nomor 7 tahun 1991. Selanjutnya dengan adanya keputusan Gubernur DKI No. 115 Tahun 2001 tentang Pembuatan Sumur Resapan maka hingga Januari 2003 telah tercatat jumlah sumur resapan yang terbangun keseluruhan sebanyak 14.407 titik lokasi (sumber BPLHD DKI). Hingga saat ini bisa dipastikan lebih dari jumlah tersebut.

Dengan perhatian terhadap upaya perlindungan dan pelestarian air dengan program sumur resapan ini diharapkan dapat membantu mencegah banjir dan juga kekeringan di masa yang akan dating.

Tetap bersemangat untuk mencintai tanah air Indonesia.

Info lebih lanjut :

Asdep Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau
Ir. Antung Deddy Radiansyah
Telp/Fax: 8514771, 8580067-69 ext.141